oleh Nurul Huda Kariem MR.nurulkariem@yahoo.com

SANG PEMIMPI

Untuk Ayahku Seman Said Harun,

Ayah juara satu seluruh dunia

* * *

Untuk KMR, yang slalu nyata dalam hidup dan mimpiku….

* * *

“Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa yang disembah,

jika engkau tidak mengetahui siapa yang disembah akhirnya cuma

menyembah ketiadaan, suatu sembahan yang sia-sia.”

(Syekh Siti Jenar)

 

Sang Pemimpi

Daratan ini mencuat dari perut bumi laksana tanah yang dilantakkan tenaga dahsyat kataklismik. Menggelegak sebab lahar meluap-luap di bawahnya. Lalu membubung di atasnya, langit terbelah dua. Di satu bagian langit, matahari rendah memantulkan uap lengket yang terjebak ditudungi cendawan gelap gulita, menjerang pesisir sejak pagi. Sedangkan di belahan yang lain, semburan ultraviolet menari-nari di atas permukaan laut yang bisu bertapis minyak, jingga serupa kaca-kaca gereja, mengelilingi dermaga yang menjulur ke laut seperti

 

reign of fire, lingkaran api. Dan di sini, di sudut dermaga ini, dalam sebuah ruangan yang asing, aku terkurung, terperangkap, mati kutu.Sang Pemimpi

Aku gugup. Jantungku berayun-ayun seumpama

Jimbron yang tambun dan invalid—kakinya panjang sebelah—terengah-engah di belakangku. Wajahnya pias. Dahinya yang kukuh basah oleh keringat, berkilatkilat. Di sampingnya, Arai, biang keladi seluruh kejadian ini, lebih menyedihkan. Sudah dua kali ia muntah. la lebih menyedihkan dari si invalid itu. Dalam situasi apa pun, Arai selalu menyedihkan. Kami bertiga baru saja berlari semburat, pontang-panting lupa diri karena dikejar- kejar seorang tokoh paling antagonis.

Samar-samar, lalu semakin jelas, suara langkah sepatu terhunjam geram di atas jalan setapak yang ditaburi kerang-kerang halus. Kami mengendap. Tersengal Arai memberi saran. Seperti biasa, pasti saran yang menjengkelkan. “Ikal…. Aku tak kuat lagihhh…. Habis sudah napasku…. Kalian lihat para-para itu…?” Aku menoleh cepat. Dua puluh meter di depan sana teronggok reyot pabrik cincau dan para-para jemuran daun cincau. Cokelat dan doyong. Di berandanya, dahan-dahan bantan merunduk kuyu menekuri na

Dangdut India dari kaset yang terlalu sering diputar meliuk- liuk pilu dari pabrik itu. “Lompati para-para itu, menyelinap ke warung A Lung, dan membaur di antara para pembeli tahu, aman

 

punchbag yang dihantam beruntun seorang petinju. Berjingkat- jingkat di balik tumpukan peti es, kedua kakiku tak teguh, gemetar. Bau ikan busuk yang merebak dari peti-peti amis, di ruangan yang asing ini, sirna dikalahkan rasa takut.sib anak-anak nelayan yang terpaksa bekerja. Salah satunya aku kenal: Laksmi. Seperti laut, mereka diam.3 What a Wonderful World

Aku meliriknya kejam. Mendengar ocehannya, ingin rasanya aku mencongkel gembok peti es untuk melempar kepalanya.

“Hebat sekali teorimu, Rai! Tak masuk akal sama sekali! Jimbron mau kauapakan??!!”Jimbron yang penakut memohon putus asa. “Aku tak bisa melompat, Kal….”

Lebih tak masuk akal lagi karena aku tahu di balik para-para itu berdiri rumah turunan prajurit 

Aku hafal lingkungan ini karena sebenarnya aku, Jimbron, dan Arai tinggal di salah satu los di pasar kumuh 

Pancaran matahari menikam lubang-lubang dinding papan seperti batangan baja 

Aku mengintip keluar, 15 Agustus 1988 hari ini, musim hujan baru mulai. Mendung menutup separuh langit. Pukul empat sore nanti hujan akan tumpah, tak berhenti sampai jauh malam, demikian di kota pelabuhan kecil Magai di Pulau Belitong, sampai Maret tahun depan. Semuanya gara-gara Arai. Kureka perbendaharaan kata kasar orang Melayu untuk melabraknya. Tapi lamat-lamat berderak mendekat suara sepatu pantofel. Aku mundur, tegang dan hening, keheningan beraroma mara bahaya. Arai menampakkan gejala yang selalu ia alami jika ketakutan: tubuhnya menggigil, giginya gemeletuk, dan napasnya mendengus satu-satu.stainless tadi dan sekarang pemisah kami dengan nasib buruk hanya beberapa keping papan tipis. Ketiga bayangan itu merapat ke dinding, dekat sekali sehingga  tercium olehku bau keringat seorang pria kurus tinggi bersafari abu-abu. Ketika ia berbalik, aku membaca nama pada emblem hitam murahan yang tersemat di dadanya: MUSTAR M. DJAI’DIN, B.A.suhu  tertinggi perguruan silat tradisional Melayu Macan Akar  yang ditakuti.

Bayangan tiga orang pria berkelebat, memutus sinar 

Aku tercekat menahan napas. Sebelah punggungku basah oleh keringat dingin. Dialah tokoh antagonis itu. Wakil kepala SMA kami yang frustrasi berat. Ia Westerling berwajah tirus manis. Bibirnya tipis, kulitnya putih. Namun, alisnya lebat menakutkan. Sorot matanya dan gerak-geriknya sedingin es. Berada dekat dengannya, aku seperti terembus suatu pengaruh yang jahat, seperti pengaruh yang timbul dari sepucuk senjata.

Pak Mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara lama yang keras dalam penegakan disiplin. Ia guru biologi, Darwinian tulen, karena itu ia sama sekali tidak toleran. Lebih dari gelar B.A. itu ia adalah 

“Berrrrandalll!!”Ia menekan dengan gusar hardikan khasnya, menjilat telunjuknya, dan menggosok-gosokkan telunjuk itu untuk membersihkan emblem namanya yang berdebu. Aku melepaskan napas yang tertahan ketika ia membalikkan tubuh.

Sebenarnya Pak Mustar adalah orang penting. Tanpa dia, kampung kami tak ‘kan pernah punya SMA. la salah satu perintisnya. Akhirnya, kampung kami memiliki Sebuah SMA, sebuah SMA Negeri! Bukan main! Dulu kami harus sekolah SMA ke Tanjong Pandan, 120 kilometer jauhnya. Sungguh hebat SMA kami itu, sebuah SMA Negeri! Benar-benar bukan main! Namun, Pak Mustar berubah menjadi monster karena justru anak lelaki satusatunya tak diterima di SMA Negeri itu. Bayangkan, anaknya ditolak di SMA yang susah payah diusahakannya, sebab NEM anak manja itu kurang 0,25 dari batas minimal. Bayangkan lagi, 0,25! Syaratnya 42, NEM anaknya hanya 41,75. Setelah empat puluh tahun bumi pertiwi merdeka akhirnya Belitong Timur, pulau timah yang kaya raya itu, memiliki sebuah SMA Negeri. Bukan main. SMA ini segera menjadi menara gading takhta tertinggi intelektualitas di pesisir timur, maka ia mengandung makna dari setiap syair lagu “Godeamus Igitur” yang ketika mendengarnya, sembari memakai toga, bisa membuat orang merasa IQ-nya meningkat drastis beberapa digit. Pemotongan pita peresmian SMA ini adalah hari bersejarah bagi kami orang Melayu pedalaman, karena saat pita itu terkulai putus, terputus pula kami dari masa gelap gulita matematika integral atau tata cara membuat buku tabelaris hitung dagang yang dikhotbahkan di SMA. Tak perlu lagi menempuh 120 kilometer ke Tanjong Pandan hanya untuk tahu ilmu debet kredit itu. Karena itu berbondong-bondonglah orang Melayu, Tionghoa, Sawang, dan orang-orang pulau berkerudung ingin menghirup candu ilmu di SMA itu. Tapi tak segampang itu. Seorang laki-laki muda nan putih kulitnya, elok parasnya, Drs. Julian Ichsan Balia, sang Kepala Sekolah, yang juga seorang guru kesusastraan bermutu tinggi, di hari pendaftaran memberi mereka pelajaran paling dasar tentang budi pekerti akademika.

“…Ngai mau sumbang kapur, jam dinding, pagar, tiang bender a …,” rayu seorang tauke berbisik agar anaknya yang ber-NEM 28 dan sampai tamat SMP tak tahu ibu kota provinsinya sendiri Sumsel, mendapat kursi di SMA Bukan Main.Kapitalis itu meliuk-liuk pergi seperti dedemit dimarahi raja hantu. Dan saat itulah Pak Mustar, sang jawara yang temperamental, tak kuasa menahan dirinya. Tanpa memedulikan situasi, di depan orang banyak ia memprotes Pak Balia, atasannya sendiri. anak saya  dibanding anak-anak lain yang diterima, apalah artinya angka 0,25 itu?!”Anak saya, kata-kata yang ditindas kuat oleh Pak Mustar. Semua keluarga, dari suku mana pun, menyayangi anak. Namun, anak lelaki bagi orang Melayu lebih dari segala-galanya, sang rembulan, permata hati. Ayahku, yang mengantarku saat pendaftaran itu, berusaha membekap telingaku dan telinga Arai, anak angkat keluarga kami, agar tak mendengar pertengkaran yang sungguh tak patut ini. Tapi aku mengelak. Maka kudengar jelas argumen cerdas Pak Balia, “0,25 itu berarti segala-galanya, Pak. Angka kecil seperempat itu adalahTersinggung berat, Pak Mustar muntab  dan sertamerta memprovokasi,

“Aha! Tawaran yang menggiurkan!!” Pak Balia meninggikan suaranya, sengaja mempermalukan tauke itu di tengah majelis. “Seperti Nicholas Beaurain digoda berbuat dosa di bawah pohon?! Kau tahu ‘kan kisah itu? ‘Gairah Cinta di Hutan’? Guy de Maupassant?” Sang tauke tersipu. Dia hanya paham sastra sempoa. Senyumnya tak enak.

“Bijaksana kalau kausumbangkan jam dindingmu itu ke kantor pemerintah, agar abdi negara di sana tak bertamasya ke warung kopi waktu jam dinas! Bagaimana pendapatmu?”

 

“Tak pantas kita berdebat di depan para orangtua murid. Bicaralah baik-baik …,” bujuk Pak Balia.

Pak Mustar yang merasa memiliki SMA itu menatapnya dari atas ke bawah, artinya kurang lebih,

“… Sok idealis. Anak muda bau kencur, tahu apa ….” Benar saja.

“Saya berani bertaruh, angka 0,25 tidak akan membedakan kualifikasi 

 

simbol yang menyatakan lembaga ini sama sekali tidak menoleransi persekongkolan!!”

 

“Bagaimana para orangtua?? Setuju dengan pendapat itu?!”babat alas di sini!!”

la petantang-petenteng hilir mudik sambil bertelekan pinggang.

“Tanpa saya SMA ini tak ‘kan pernah berdiri!! Saya 

Pak Balia, memang masih belia, tapi ia pengibar panji 

ini sudah keterlaluan, merongrong wibawa institusi pendidikan! Guru muda ganteng ini jadi emosi.

“Tak ada pengecualian!! Tak ada kompromi, tak ada katebelece, dan tak ada akses istimewa untuk mengkhianati

aturan. Inilah yang terjadi dengan bangsa ini, terlalu banyak kongkalikong!!”

Dada Pak Mustar turun naik menahan marah tapi Pak Balia telanjur jengkel.

“Seharusnya Bapak bisa melihat tidak diterimanya anak Bapak sebagai peluang untuk menunjukkan pada

khalayak bahwa kita konsisten mengelola sekolah ini. NEM minimal 42, titik!! Tak bisa ditawar-tawar!!”

Pidato itu disambut tepuk tangan para orangtua. Jika wakil rakyat berwatak seperti Pak Balia, maka republik

ini tak ‘kan pernah berkenalan dengan istilah studi banding. Namun, akibatnya fatal. Setelah kejadian

 

“Disiplin yang keras!! Itulah yang diperlukan anak-anak muda Melayu zaman sekarang.” Demikian jargon pamungkas yang bertalu-talu digaungkannya.

la juga selalu terinspirasi kata-kata mutiara Deng Xio Ping yang menjadi pedoman tindakan represif tentara

pada mahasiswa di Lapangan Tiannanmen, “Masalah- masalah orang muda seperti akar rumput yang kusut.

Jika dibiarkan, pasti berlarut-larut. Harus cepat diselesaikan dengan gunting yang tajam!!”

Senin pagi ini kuanggap hari yang sial. Setengah jam sebelum jam masuk, Pak Mustar mengunci pagar sekolah. Beliau

berdiri di podium menjadi inspektur apel rutin. Celakanya banyak siswa yang terlambat, termasuk aku,

Jimbron, dan Arai. Lebih celaka lagi beberapa siswa yang terlambat justru mengejek Pak Mustar. Dengan sengaja,

mereka meniru-nirukan pidatonya. Pemimpin para siswa yang berkelakuan seperti monyet sirkus itu tak lain Arai!!

Pak Mustar ngamuk. la meloncat dari podium dan mengajak dua orang penjaga sekolah mengejar kami.

Saat itu aku dan Jimbron sedang duduk penuh gaya di atas sepeda jengkinya yang butut. Sekelompok sis-

ahlakul karimah.  Integritasnya tak tercela. Ia seorang bumiputra, amtenar pintar lulusan IKIP Bandung. Baginyaitu, Pak Mustar berubah menjadi seorang guru bertangan besi. Beliau menumpahkan kekesalannya kepada para siswa yang diterima.

wi kelas satu yang juga terlambat nongkrong berderetderet. Hanya aku dan Jimbron pejantan di sana.

“Kesempatan baik, Bron!!” aku girang, celingukan kiri kanan.

“Tak ada kompetisi!!” Wajah Jimbron yang bulat jenaka merona-rona seperti buah mentega.

“Mmhhh … mmhhaa … mainkan, Kal!!” Tak membuang tempo, segera kami keluarkan segenap

daya pesona yang kami miliki secara habis-habisan untuk menarik perhatian putri-putri kecil semenanjung

itu. Jimbron membunyikan kliningan sepedanya dan menyiul-nyiulkan lagu sumbang yang tak jelas.

Sedangkan aku, sebagai siswa SMA yang cukup kreatif, telah lama memiliki taktik khusus untuk situasi

semacam ini, yaitu mengaduk kepalaku dengan minyak hijau ajaib Tancho yang selalu ada dalam tasku, menyisir

seluruh rambutku ke belakang, lalu dengan tangan dan tenaga penuh menariknya kembali. Maka muncullah

bongkahan jambul berbinar-binar. Dan inilah puncak muslihat anak Melayu kampung: di dekat para siswi tadi,

aku berpura-pura menunduk untuk membetulkan tali sepatu, yang sebenarnya tidak apa-apa, sehingga ketika

bangkit aku mendapat kesempatan menyibakkan jambulku seperti gaya pembantu membilas cucian. Ah,

elegan, elegan sekali. Sangat Melayu!

Sayangnya, gadis-gadis kecil itu rupanya telah dikaruniai Sang Maha Pencipta semacam penglihatan

yang mampu menembus tulang-belulang, sehingga bagi mereka tubuhku transparan. Aku ada di sana, hilir mudik

pasang aksi seperti bebek, tapi mereka tak melihatku, sebab tak seorang pun ingin memedulikan laki-laki

yang berbau seperti ikan pari. Dan bukannya mendapat simpati, ketika melakukan gerakan mengayun jambul dengan sedikit putaran

manis setengah lingkaran seperti aksi Jailhouse Rock Elvis Presley, aku malah terperanjat tak alang kepalang

karena para siswi di depanku menjerit-jerit histeris. Mereka menatap sesuatu di belakangku seperti melihat kuntilanak.

Tak sempat kusadari, secepat terkaman macan akar, secara amat mendadak, Pak Mustar telah berdiri

di sampingku. Wajahnya yang dingin putih menyeringai kejam. Aku menjejalkan pijakan langkahku untuk melompat

tapi terlambat. Pak Mustar merenggut kerah bajuku, menyentakku dengan keras hingga seluruh kancing

bajuku putus. Kancing-kancing itu berhamburan ke udara, berjatuhan gemerincing. Aku meronta-ronta

dalam genggamannya, menggelinjang, dan terlepas! Lalu wuttthhhh!!! Hanya seinci dari telingaku, Pak Mustar

menampar angin sebab aku merunduk. Aku berbalik, mencuri 

ga pada tunjangan kaki kanan dan sedetik kemudian aku melesat kabur. 

“Berrrandallllll!!!” Suara Pak Mustar membahana. la serta-merta mengejarku dan berusaha menjambak rambutku dengan

tangan cakar macannya. Kedua penjaga sekolah tergopoh- gopoh menyusulnya. Segerombolan siswa, termasuk

Arai dan Jimbron, semburat berhamburan ke berbagai arah. Dan yang paling sial adalah aku, selalu aku!

Pak Mustar jelas-jelas hanya menyasar aku. Suara peluit penjaga sekolah meraung-raung menerorku.

Pritt!! Prriiiiiitttt… priiiiiiiiiittttt!!

Aku berlari kencang menyusuri terali sekolah. Pengejarku juga sial karena aku adalah 

sprinter SMA Bukan Main. Seluruh siswa berhamburan menuju pagar, riuh menyemangatiku karena mereka membenci Pak Mustar.“Lari!! Lari Kal!! Lari, Sayang ….”kencang-kencangnya hingga mencapai akselerasi sempurna.sumringah

Seumur-umur aku tak pernah diperhatikan seorang pun putri semenanjung, namun kini gadis-gadis manis Melayu

itu, yang tadi tak sedikit pun mengacuhkan aku, melolong- lolong mendukungku.

“Ikal!! Ikal!! Ayo!! Ikal, lari!! Lariiiiiiii…!!” Tenagaku terbakar. Kulirik sejenak jejeran panjang

tak putus-putus pagar nan ayu, ratusan jumlahnya, berteriak- teriak histeris membelaku, hanya membelaku

sendiri, sebagian melonjak-lonjak, yang lainnya membekap dada, khawatir jagoannya ditangkap garong.

 

Oh, aku melambung tinggi, tinggi sekali. Setiap langkahku terasa ringan laksana loncatan-loncatan anggun

antelop Tibet. Walau gemetar ketakutan tapi aku melesat sambil tersenyum penuh arti. Bajuku yang tak berkancing

berkibar-kibar seperti jubah Zorro. Aku merasa tampan, merasa menjadi pahlawan. Dan yang terpenting,

dalam kepanikan itu, sempat kutarik pelajaran moral nomor tujuh: Ternyata rahasia menarik perhatian seorang

gadis adalah kita harus menjadi pelari yang gesit.

Aku menyeberangi jalan dan berlari kencang ke utara, memasuki gerbang pasar pagi. Pak Mustar bernafsu

menangkapku, jaraknya semakin dekat. Aku ketakutan dan tergesa-gesa meloncati palang besi parkir sepeda.

Celaka! Salah satu sepeda tersenggol. Lalu tukang parkir terpana melihat ratusan sepeda yang telah dirapikannya

susah payah, rebah satu per satu seperti permainan mendirikan kartu domino, menimbulkan kegaduhan

yang luar biasa di pasar pagi. Aku terjerembap, bangkit, dan pontang-panting kabur.

Kejar-kejaran semakin seru saat aku melintasi pelataran dengan pilar-pilar menjulang yang dipenuhi pedagang

kaki lima. Aku melesat meliuk-liuk di antara gerobak sayur dan ratusan pembeli. Pak Mustar dan

komplotannya lekat di belakangku. Suara peluit menjerit- jerit. Orang-orang berteriak gaduh. Aku berbelok tajam

ke gang permukiman Kek yang panjang, berlari se-

Pak Mustar ketinggalan di belakangku, semakin lama semakin jauh.

Sebenarnya aku dapat lolos jika tak memedulikan panggilan sial ini, “Ikal!! … Ikal!!”

Aku berbalik dan tepat di sana, lima belas meter dariku, baru saja berbelok dari sebuah mulut gang, Jimbron

dan Arai terengah-engah saling berpegangan. Jika berlari, Jimbron yang invalid harus dibopong. Mereka

yang tadi semburat tak menyadari arah pelariannya melintasi jalur perburuan Pak Mustar.

“Ikal… tolong, Kal…. Tolong ….” Aku terkesiap, kasihan, dan kesal.

“Biang keladi! Cukup sudah aku dengan tabiatmu, Rai. Lihat! Macan itu akan menerkammu!!”

Melihat sasaran nomplok tiba-tiba muncul di depannya, Pak Mustar 

dan kembali bernafsu memburu kami. Jimbron dan Arai terseok-seok tak berdaya.es. Tatapanku lekat pada setiap gerakan kecil Pak Mustar.ia tak datang, harapanku habis. Aku berjalan menujuLambretta.

Aku ingin menyelamatkan Jimbron walaupun benci setengah mati pada Arai. Aku dan Arai menopang

Jimbron dan beruntung kami berada dalam labirin gang yang membingungkan. Kami menyelinap, hingga akhirnya

di gudang peti es inilah kami terperangkap. 

Seakan dapat kurasakan setiap tarikan napasnya. Aku memiliki gambaran jelas tentang karakter orang

seperti Pak Mustar. Pria-pria berwajah manis dan kekejaman mereka yang tak terbayangkan. Aku pernah mengunjungi

uwakku yang menjadi sipir di penjara Karimun. Di penjara itu kulihat pesakitan yang sangar, sok

jago, dekil, omong besar, dan bertato di sana sini berada di blok A, dikurung beramai-ramai seperti ayam karena

mereka tak lebih dari pencuri ayam atau tukang nyolong jemuran. Namun, mereka yang sampai hati merampok

TKW atau membunuh tanpa melepaskan rokok di mulutnya, berada di blok B, sel isolasi.

Penghuni blok B adalah pria-pria kecil yang rapi, pintar, bersih, santun lisannya, dan manis sekali senyumnya.

Sejarah menunjukkan bahwa Alexander Agung yang membakar ribuan wanita dan anak-anak,

Cortez yang membantai orang Indian sampai menggenangkan darah setinggi lutut, semua penjagal yang disebut

legenda itu tak lain adalah pria-pria tampan berwajah manis. Maka berurusan dengan Pak Mustar aku

menyadari bahwa kami sedang berada dalam situasi yang tak dapat diduga.

Tapi aku tak tahan di kandang mendidih berbau amis ini. Pun aku tak melihat celah untuk lolos. Aku

menunggu keajaiban sebelum menyerahkan diri. Dan 

pintu gudang diikuti Jimbron yang terpincang-pincang. Tapi tiba-tiba kami terperanjat karena dentuman knalpot

vespa 

Dan kami panik tak dapat menguasai diri. Benar-benar sial berlipat-lipat sebab penunggangcapo,  ketua preman pasar ikan. Ia

vespa itu adalah Nyonya Lam Nyet Pho, turunan prajurit Hupo, semacam

pemilik gudang ini dan penguasa 16 perahu motor. Anak buahnya ratusan pria bersarung yang hidup di perahu

dan tak pernah melepaskan badik dari pinggangnya. Beperkara dengan nyonya ini urusan bisa runyam. Karena

kami telah menyelinap dalam gudangnya, pasti ia akan menuduh kami mencuri.

Nyonya Pho bertubuh tinggi besar. Rambutnya tebal, disemir hitam pekat dan kaku seperti sikat. Alisnya

seperti kucing tandang. Bahunya tegap, dadanya tinggi, dan raut mukanya seperti orang terkejut. Sesuai tradisi

Hupo, ia bertato, lukisan naga menjalar dari punggung sampai ke bawah telinga, bersurai-surai dengan tinta

Cina. Bengis, tega, sok kuasa, dan tak mau kalah tersirat jelas dari matanya.

Lima orang pembantu setia Nyonya Pho—Parmin, Marmo, Paijo, Tarji, dan Nasio—membuka pintu gudang.

Gagal menjadi petani jagung, para transmigran ini bermetamorfosis jadi kuli serabutan. Mesin Lambretta

dimatikan dan aku diserang kesenyapan yang meng-

terisak-isak. Tubuhku merosot lemas. Nasib kami di ujung tanduk. Namun dalam detik yang paling genting,

aku terkejut sebab ada tangan mengguncang pundakku, tangan Arai.

“Ikal!” bisiknya sambil melirik peti es. Aku paham maksudnya! Luar biasa dan sinting!!

Itulah Arai dengan otaknya yang ganjil. Aku 

Otakku berputar cepat mengurai satu per satu perasaan cemas, ide yang memacu adrenalin, dan waktu yang

sempit. Arai mencongkel gembok dan menyingkap tutup peti. Wajah kami seketika memerah saat bau amis

yang mengendap lama menyeruak. Isi peti mirip remahremah pembantaian makhluk bawah laui. Sempat terpikir

olehku untuk mengurungkan rencana gila itu, tapi kami tak punya pilihan lain.

“Ikal! Masuk duluan!” perintah Arai sok kuasa. Tatapanku berkilat mengancam Arai. Ingin sekali

aku membenamkan kepalanya ke mulut ikan hiu gergaji raksasa yang menganga di depanku. Itu penyiksaan karena

berarti aku harus bersentuhan langsung dengan balok es di dasar peti dan menanggung beban tubuh Jimbron

dan Arai. Berat Jimbron sendiri tak kurang dari 75 kilo. “Tak adil! Ini idemu Rai, kau masuk duluan!!”

“Jangan banyak protes! Badanmu paling kecil. Kalau tak masuk duluan, Jimbron tak bisa masuk!!”

Aku merasa in charge.  Aku pemimpin pelarian ini, maka hanya aku yang berhak membuat perintah.

“Tak sudi! Bagaimana pendapatmu, Bron?”  Arai jengkel. “Ini bukan demokrasi! Atau kau mauCapo ?!” Aku melongok ke dasar peti. Aku tak sanggup.tak punya wewenang ilmiah untuk menentukan penyakit!!”

berurusan dengan 

“Tak bisa, Rai! Bisa kudisan aku kena umpan busuk itu….”

Arai menyeringai seperti jin kurang sajen. Habis sudah kesabarannya dan meledaklah serapah khasnya

yang legendaris. “Kudisan?!! Kudisan katamu? Kau 

“Masuk!!” Aku merasakan siksaan yang mengerikan ketika dua tubuh kuli 

dengan berat tak kurang dari 130 kilo menindihku. Tulang-tulangku melengkung. Jika bergeser, rasanya akan patah. Setiap tarikan napas perihPeti itu miring—kami tercekat—tapi sama sekali tak terangkat. Pembantu Nyonya Pho mencoba berkalikali,baginya apa yang kami alami adalah sebuah petualangan

“Fantastik bukan?” 

Aku merasa takjub dengan kepribadian Arai. Tatapanku menghujam bola matanya, menyusupi lensa,

selaput jala, dan iris pupilnya, lalu tembus ke dalam lubuk hatinya, ingin kulihat dunia dari dalam jiwanya.

Tiba-tiba aku merasa seakan berdiri di balik pintu, pada sebuah temaram dini hari, mengamati ayahku yang

sedang duduk mendengarkan siaran radio BBC. Lalu lagu syahdu “What a Wonderful World” mengalir pelan.

Seiring alunan lagu itu dari celah-celah peti kusaksikan pasar yang kumuh menjadi memesona. Anak-anak kecil

Tionghoa yang membawa kado melompat-lompat harmonis bermain tali dikelilingi gelembung-gelembung

busa. Lalu-lalang kendaraan adalah serpihan-serpihan cahaya yang melesat-lesat menembus fatamorgana aurora.

Burung-burung camar mematuki cumi yang berjuntai di lubang-lubang peti, terbang labuh. Sayap-sayap

kumbang berkilauan terbias warna-warni dedaunan maranta. Demikian indahkah hidup dilihat dari mata Arai?

Beginikah seorang pemimpi melihat dunia? “Brragghh!!!”

Lamunanku terhempas di atas meja baru pualam putih yang panjang. Kudengar langkah para pengangkat

 

satu mengikuti derap langkah Nyonya Pho mendekati peti. Dan tibalah momen yang dramatis itu ketika  

mengangkat tutup peti dan langsung, saat itu juga, ia menjerit sejadi-jadinya. Wajahnya yang memang sudah

seperti orang terkejut membiru seperti anak kecil melihat hantu. Kami bertiga bangkit serentak tanpa ekspresi.

Nyonya Pho ternganga dan bibirnya bergetar-getar. Cerutunya merosot dan jatuh tanpa daya di atas lantai stanplat

yang becek. Kami tak sedikit pun memedulikannya. Ratusan pembeli ikan terperangah menyaksikan

kami berbaris dengan tenang di atas meja pualam yang panjang: tak berbaju, berminyak-minyak, dan busuk belepotan

udang rebon basi. Kami melenggang tenang dipimpin seorang laki-laki pemimpi yang hebat bukan

main. Ketika kami melewati Nyonya Pho, ia terjajar hampir jatuh. Mukanya pias seakan ingin mati berdiri. Tangannya

menunjuk-nunjuk kami. Mulutnya komat-kamit mengucapkan kata-kata seperti orang tercekik.

“Ikkhhhh … ikkhhh … ikkha … ikan duyung!!!”

Arai adalah orang kebanyakan. Laki-laki seperti ini selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda, meributkan

uang dua ratus perak. Orang seperti ini sering duduk di bangku panjang kantor pegadaian menunggu barangnya

ditaksir. Barangnya itu dulang tembaga busuk kehijau-hijauan peninggalan neneknya. Kalau polisi

menciduk gerombolan bromocorah pencuri kabel telepon, maka orang berwajah serupa Arai dinaikkan ke bak

pick up, 

melihat orang seperti Arai meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak oleh kamera.

 

tanah liat, pencet sana, melendung sini. Lebih tepatnya, perabotan di wajahnya seperti hasil suntikan silikon

dan mulai meleleh. Suaranya kering, serak, dan nyaring, persis vokalis mengambil nada 

 

mungkin karena kebanyakan menangis waktu kecil. Gerak-geriknya canggung serupa belalang sembah. Tapi matanya istimewa.

24

Simpai Keramat

lantara ladang tebu yang tak terurus. Anak kecil itu mengapit

di ketiaknya karung kecampang berisi beberapa potong

pakaian, sajadah, gayung tempurung kelapa, mainan

buatannya sendiri, dan bingkai plastik murahan berisi foto

hitam putih ayah dan ibunya ketika pengantin baru. Sebatang

potlot yang kumal ia selipkan di daun telinganya,

penggaris kayu yang sudah patah disisipkan di pinggangnya.

Tangan kirinya menggenggam beberapa lembar buku

tak bersampul. Celana dan bajunya dari kain belacu lusuh

dengan kancing tak lengkap. Itulah seluruh harta bendanya.

Sudah berjam-jam ia menunggu kami.

Tampak jelas wajah cemasnya menjadi lega ketika

melihat kami. Aku membantu membawa buku-bukunya

dan kami meninggalkan gubuk berdinding lelak beratap

daun itu dengan membiarkan pintu dan jendela-jendelanya

terbuka karena dipastikan tak ‘kan ada siapa-siapa

untuk mengambil apa pun. Laksana terumbu karang

yang menjadi rumah ikan di dasar laut, gubuk itu akan

segera menjadi sarang luak, atapnya akan menjadi lumbung

telur burung kinantan, dan tiang-tiangnya akan

menjadi istana liang kumbang.

Kami menelusuri jalan setapak menerobos gulma

yang lebih tinggi dari kami. Kerasak tumpah ruah merubung

jalan itu. Arai menengok ke belakang untuk melihat

gubuknya terakhir kali. Ekspresinya datar. Lalu ia

berbalik cepat dan melangkah dengan tegap. Anak seke-

25

Sang Pemimpi

cil itu telah belajar menguatkan dirinya. Ayahku berlinangan

air mata. Dipeluknya pundak Arai erat-erat.

Di perjalanan aku tak banyak bicara karena hatiku

ngilu mengenangkan nasib malang yang menimpa sepupu

jauhku ini. Ayahku duduk di atas tumpukan kopra,

memalingkan wajahnya, tak sampai hati memandang

Arai. Aku dan Arai duduk berdampingan di pojok bak

truk yang terbanting-banting di atas jalan sepi berbatubatu.

Kami hanya diam. Arai adalah sebatang pohon kara

di tengah padang karena hanya tinggal ia sendiri dari

satu garis keturunan keluarganya. Ayah ibunya merupakan

anak-anak tunggal dan kakek neneknya dari kedua

pihak orangtuanya juga telah tiada. Orang Melayu

memberi julukan

 

 

 

Simpai Keramat

untuk orang terakhir

yang tersisa dari suatu klan.

Aku mengamati Arai. Kelihatan jelas kesusahan

telah menderanya sepanjang hidup. Ia seusia denganku

tapi tampak lebih dewasa. Sinar matanya jernih, polos

sekali. Lalu tak dapat kutahankan air mataku mengalir.

Aku tak dapat mengerti bagaimana anak semuda itu menanggungkan

cobaan demikian berat sebagai

 

 

 

Simpai Keramat.

Arai mendekatiku lalu menghapus air mataku dengan

lengan bajunya yang kumal. Tindakan itu membuat

air mataku mengalir semakin deras. Sempat kulirik

ayahku yang mencuri-curi pandang kepada kami, wajah

beliau sembap dan matanya semerah buah saga. Meli-

26

Simpai Keramat

hatku pilu, kupikir Arai akan terharu tapi ia malah tersenyum

dan pelan-pelan ia merogohkan tangannya ke dalam

kacung kecampangnya. Air mukanya memberi kesan

ia memiliki sebuah benda ajaib nan rahasia.

“Ikal, lihatlah ini!!” bujuknya.

Dari dalam karung, ia mengeluarkan sebuah benda

mainan yang aneh. Aku melirik benda itu dan aku

semakin pedih membayangkan ia membuat mainan itu

sendirian, memainkannya juga sendirian di tengah-tengah

ladang tebu. Aku tersedu sedan.

Tapi bagaimanapun perih aku tertarik. Mainan itu

semacam gasing yang dibuat dari potongan-potongan lidi

aren dan di ujung lidi-lidi itu ditancapkan beberapa butir

buah kenari tua yang telah dilubangi. Sepintas bentuknya

sepertii helikopter. Jalinan lidi pada mainan itu agaknya

mengandung konstruksi mekanis. Aku tergoda melihat

Arai memutar-mutar benda itu setengah lingkaran

untuk mengambil ancang-ancang. Setelah beberapa kali

putaran, sebatang lidi besar yang menjadi tuas konstruksi

itu melengkung lalu saat putaran terakhir dilepaskan, ajaib!

Lengkungan tadi melawan arah menimbulkan tendangan

tenaga balik yang memelintir gasing aneh ini dengan sempurna

360 derajat, berulang-ulang. Lebih seru lagi putaran

balik ini menyebabkan butir-butir kenari tadi saling beradu

menimbulkan harmoni suara gemeretak yang menakjubkan.

Aku tergelak. Mata Arai bersinar-sinar.

27

Sang Pemimpi

Aku tersenyum tapi tangisku tak reda karena seperti

mekanika gerak balik helikopter purba ini, Arai

telah memutarbalikkan logika sentimental ini. la justru

berusaha menghiburku pada saat aku seharusnya menghiburnya.

Dadaku sesak.

“Cobalah, Ikal….”

Aku merebut gasing aneh itu, mengamatinya dengan

teliti bukan hanya sebagai mainan yang menarik

hati tapi sebagai sebuah kisah tentang anak kecil yang

menciptakan mainan untuk melupakan kepedihan hidupnya.

Aku memutar gasing itu sekali, namun aku terperanjat

sebab tiba-tiba ia berputar sendiri dengan keras

sehingga konstruksinya bingkas, lidi-lidinya patah, dan

buah-buah kenari itu berhamburan ke mukaku. Aku telah

memutarnya terlalu kencang. Arai terkekeh melihatku.

Ia memegangi perutnya menahan tawa. Belum

hilang rasa terkejutku, Arai kembali merogohkan tangannya

ke dalam karung kecampang.

“Masih ada lagi!!”

Ia tersenyum penuh arti karena tahu telah berhasil

menghiburku. Kali ini ia mengeluarkan sebuah cupu dari

kayu medang yang berlubang-lubang. Biasa dipakai

orang Melayu untuk menyimpan tembakau. Tak kusangka

cupu itu telah dibelah dan sambungannya tak

kasat. Arai membukanya pelan-pelan.

“Aiih … kumbang sagu!!”

28

Simpai Keramat

Aku memekik tak terkendali. Kumbang sagu, serangga

mainan langka yang susah ditangkap. Jika dipelihara

dan diberi makan remah kelapa, kumbang bersayap

mengilat seperti tameng patriot Spartan itu dapat

menjadi jinak. Tak berkedip aku melihat Arai membiarkan

kumbang itu merayapi lengannya. Makhluk kecil

yang memesona itu meloncat-loncat kecil ingin terbang.

Arai membelai serangga kecil itu, menggenggamnya

dengan lembut lalu melemparkannya ke udara.

Ditiup angin kencang di atas truk kumbang itu meregangkan

sayap-sayapnya, mengapung sebentar, berputar-

putar seolah merayakan kemerdekaannya lalu melesat

menembus rimbun dedaunan kemang di tepi jalan. Lalu

Arai melangkah menuju depan bak truk. la berdiri tegak

di sana serupa orang berdiri di hidung haluan kapal. Pelan-

pelan ia melapangkan kedua lengannya dan membiarkan

angin menerpa wajahnya. Ia tersenyum penuh semangat.

Agaknya ia juga bertekad memerdekakan dirinya

dari duka mengharu biru yang membelenggunya seumur

hidup. Ia telah berdamai dengan kepedihan dan

siap menantang nasibnya. Jahitan kancing bajunya yang

rapuh satu per satu terlepas hingga bajunya melambailambai

seperti sayap kumbang sagu tadi. Ia menggoyanggoyang

tubuhnya bak rajawali di angkasa luas.

“Dunia…!! Sambutlah aku…!! Ini aku, Arai, datang

untukmu …!!” Pasti itu maksudnya.

29

Sang Pemimpi

Ayahku tersenyum mengepalkan tinjunya kuatkuat

dan aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, tapi aku

juga ingin menangis sekeras-kerasnya.

30

Aku dan Arai ditakdirkan seperti sebatang jarum di atas

meja dan magnet di bawahnya. Sejak kecil kami melekat

ke sana kemari. Aku semakin dekat dengannya karena

jarak antara aku dan abang pangkuanku, abangku langsung,

sangat jauh. Arai adalah saudara sekaligus sahabat

terbaik buatku. Dan meskipun kami seusia, ia lebih abang

dari abang mana pun. Ia selalu melindungiku. Sikap itu

tecermin dari hal-hal paling kecil. Jika kami bermain melawan

bajak laut di Selat Malaka dan aku sebagai Hang

Tuah, maka ia adalah Hang Lekir. Dalam sandiwara memerangi

kaum Quraishi pada acara di balai desa, aku

berperan selaku Khalifah Abu Bakar, Arai berkeras ingin

menjadi panglima besar Hamzah. Jika aku Batman, ia

Sang Pemimpi

ingin menjadi Robin atau paling tidak menjadi kelelawar.

Jika di kampung anak-anak bermain memperebutkan

kapuk yang beterbangan dari pohonnya seperti hujan

salju, Arai akan menjulangku di pundaknya, sepanjang

sore berputar-putar di lapangan tak kenal lelah, tak

pernah mau kugantikan. la mengejar layangan untukku,

memetik buah delima di puncak pohonnya hanya untukku,

mengajariku berenang, menyelam, dan menjalin pukat.

Sering bangun tidur aku menemukan kuaci, permen

gula merah, bahkan mainan kecil dari tanah liat sudah

ada di saku bajuku. Arai diam-diam membuatnya untukku.

Dan seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin

di kampung kami yang rata-rata beranjak remaja mulai

bekerja mencari uang, Arai-lah yang mengajariku mencari

akar banar untuk dijual kepada penjual ikan. Akar

ini digunakan penjual ikan untuk menusuk insang ikan

agar mudah ditenteng pembeli. Dia juga yang mengajakku

mengambil akar purun (perdu yang tumbuh di

rawa-rawa) yang kami jual pada pedagang kelontong

untuk mengikat bungkus terasi. Waktu itu kami ingin

sekali menjadi

 

 

 

caddy

di padang golf PN Timah tapi belum

cukup umur. Kami masih SMP. Untuk jadi

 

 

 

caddy,

paling tidak harus SMA.

Sejak melihat aksi Arai di bak truk kopra tempo

hari, aku mengerti bahwa ia adalah pribadi yang istime-

32

The Lone Ranger

wa. Meskipun perasaannya telah luluh lantak pada usia

sangat muda tapi ia selalu positif dan berjiwa seluas

langit. Mengingat masa lalunya yang pilu, aku kagum

pada kepribadian dan daya hidupnya. Kesedihan hanya

tampak padanya ketika ia mengaji Al-Qur’an. Di hadapan

kitab suci itu ia seperti orang mengadu, seperti orang

yang takluk, seperti orang yang kelelahan berjuang melawan

rasa kehilangan seluruh orang yang dicintainya.

Setiap habis magrib Arai melantunkan ayat-ayat

suci Al-Qur’an di bawah temaram lampu minyak dan

saat itu seisi rumah kami terdiam. Suaranya sekering

ranggas yang menusuk-nusuk malam. Ratap lirihnya

mengirisku, menyeretku ke sebuah gubuk di tengah ladang

tebu. Setiap lekukan

 

 

 

tajwid

yang dilantunkan hati

muda itu adalah sayat kerinduan yang tak tertanggungkan

pada ayah-ibunya.

Jika Arai mengaji, pikiranku lekat pada anak kecil

yang mengapit karung kecampang, berbaju seperti perca

dengan kancing tak lengkap, berdiri sendirian di muka

tangga gubuknya, cemas menunggu harapan menjemputnya.

Jika Arai mengaji, aku bergegas menuruni tangga

rumah panggung kami, kemudian berlari sekuat tenaga

menerabas ilalang menuju lapangan di tepi kampung. Di

tengah lapangan itu aku berteriak sejadi-jadinya.

 

 

33

Sang Pemimpi

Karena berkepribadian terbuka, memiliki mentalitas selalu

ingin tahu dan terus bertanya, Arai berkembang

menjadi anak yang pintar. la selalu ingin mencoba sesuatu

yang baru.

“Oh, amboi, Ikal… tengoklah ini! Model rambut

paling mutakhir! Aiiihhh…. Toni Koeswoyo, rambut belah

tengahnya itu! Elok bukan buatan! Lihatlah, Kal, semua

pemain Koes Plus rambutnya belah tengah!”

Demikian hasutan Arai sambil mengagumi foto

Koes Plus di sampul buku PKK-nya. la telah menerapkan

belah tengah seminggu sebelumnya dan tak sedikit

pun kulihat nilai tambah pada wajahnya. Tapi karena

Arai memang diberkahi dengan bakat menghasut, maka

aku termakan juga. Ketika becermin, aku sempat tak kenal

pada diriku sendiri. Aku gugup bukan main saat

pertama kali keluar kamar dengan gaya rambut Toni

Koeswoyo itu. Aku berdiri mematung di ambang pintu

karena abang-abangku menertawakan aku sampai berguling-

guling.

“Ha ha ha! Lihatlah orang-orangan ladang!!” ejek

mereka bersahut-sahutan seperti segerombolan lutung

berebut ketela rambat.

Rasanya aku ingin kabur masuk kembali ke kamar.

Aku tak menyalahkan mereka karena aku memang mirip

orang-orangan ladang. Rambutku yang ikal, panjang,

dan tipis ketika dibelah tengah lepek di atasnya namun

34

The Lone Ranger

ujung-ujungnya jatuh melengkung lentik di atas pundakku.

Persis ekor angsa. Aku menyesal telah mengubah

sisiranku dan di ambang pintu kamar itu aku demam

panggung sebelum memperlihatkan penampilan baruku

pada dunia. Tapi pada saat aku akan melangkah mundur,

Arai serta-merta menghampiriku.

“Jangan takut, Tonto …,” ia menguatkan aku dengan

gaya

 

 

 

Lone Ranger.

Arai menggenggam tanganku erat-erat dan menuntunku

dengan gagah berani melewati ruang tengah

rumah. Dalam dukungan Arai, aku tak sedikit pun gentar

menghadapi badai cemoohan. Papan-papan panjang

lantai rumah berderak-derak ketika kami berdua melangkah

penuh gaya.

Demikianlah, arti Arai bagiku. Maka sejak Arai

tinggal di rumah kami, tak kepalang senang hatiku. Aku

semakin gembira karena kami diperbolehkan menempati

kamar hanya untuk kami berdua. Walaupun kamar

kami hanyalah gudang

 

 

 

peregasan,

jauh lebih baik daripada

tidur di tengah rumah, bertumpuk-tumpuk seperti

pindang bersama abang-abangku yang kuli, bau keringat,

dan mendengkur.

 

 

Peregasan

 

 

 

adalah peti papan besar tempat menyimpan

padi. Orangtuaku dan sebagian besar orang Melayu

seangkatan mereka demikian trauma pada pendudukan

Jepang maka di setiap rumah pasti ada

 

 

 

peregasan.

35

Sang Pemimpi

Padi di dalam

 

 

 

peregasan

sebenarnya sudah tak bisa

lagi dimakan karena sudah disimpan puluhan tahun.

Saat ini

 

 

 

peregasan

tak lebih dari surga dunia bagi bermacam-

macam kutu dan keluarga tikus berbulu kelabu

yang turun-temurun beranak pinak di situ. Namun, jangan

sekali-sekali membicarakan soal

 

 

 

peregasan.

Ini perkara

sensitif. Jika sedikit saja kami menyinggung soal

 

 

peregasan,

 

 

 

misalnya kenapa padi lapuk itu tak dibakar

saja, maka ibuku, sambil bersungut-sungut, akan melantunkan

sabda rutinnya yang membuat kami bungkam.

Preambul: “Kalian tak tahu apa-apa soal kesulitan

hidup kecuali kalian hidup di zaman Jepang.”

Latar belakang masalah: “Pernahkah kalian melihat

kaum pria bercelana karung goni sehingga kulitnya

keras seperti kulit beduk? Aiii….”

Kesimpulan: “Padi itu akan tetap di situ. Melihat

keadaan negara sekarang, bisa-bisa Jepang datang lagi!!”

Rekomendasi: “Maka Bujang-bujangku, daripada

kaupusingkan soal padi itu, lebih berguna hidupmu jika

kaupetikkan aku daun sirih!!”

Para orangtua Melayu tahu persis bahwa padi di

dalam

 

 

 

peregasan

sudah tak bisa dimakan. Namun, bagi

mereka

 

 

 

peregasan

adalah metafora, budaya, dan perlambang

yang mewakili periode gelap selama tiga setengah

tahun Jepang menindas mereka. Ajaibnya sang waktu,

masa lalu yang menyakitkan lambat laun bisa menjelma

menjadi nostalgia romantik yang tak ingin dilupakan.

 

 

36
 

 

Di situlah pusat gravitasi pesona Arai. Kedua bola matanya itu, sang jendela hati, adalah layar yang mempertontonkan

jiwanya yang tak pernah kosong. Sesungguhnya, aku dan Arai masih bertalian darah.

Neneknya adalah adik kandung kakekku dari pihak ibu. Namun sungguh malang nasibnya, waktu ia kelas

satu SD, ibunya wafat saat melahirkan adiknya. Arai, baru enam tahun ketika itu, dan ayahnya, gemetar di

samping jasad beku sang ibu yang memeluk erat bayi merah bersimbah darah. Anak-beranak itu meninggal

bersamaan. Lalu Arai tinggal berdua dengan ayahnya. Kepedihan belum mau menjauhi Arai. Menginjak kelas

tiga SD, ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu, sebatang kara. Ia kemudian dipungut keluarga kami.

Aku teringat, beberapa hari setelah ayahnya meninggal, dengan menumpang truk kopra, aku dan ayahku

menjemput Arai. Sore itu ia sudah menunggu kami di

depan tangga gubuknya, berdiri sendirian di tengah be-

 

 

dibopong karena tulang keringnya dicuncung sepatu jatah kopral. Dan jika menonton TVRI, kita biasaWajah Arai laksana patung muka yang dibuat mahasiswa- baru seni kriya yang baru pertama kali menjamahfalseto—

peti bergegas pergi. Kami menunggu dengan tegang detik demi detik berikutnya. Jantungku berdetak satu perCapo

pasti itu maksudnya.

menyayat-nyayat rusukku. Perutku ngilu seperti teriris karena diikat dinginnya sebatang balok es. Aku menggigit

lenganku kuat-kuat menahan penderitaan. Bau anyir ikan busuk menusuk hidungku sampai ke ulu hati.

Tatapan nanar bola mata mayat-mayat ikan kenangka yang terbelalak dan kelabu membuatku gugup.

Nyonya Pho dan pembantunya memasuki gudang. “Min, Mo, angkut yang ini!”

 

masih tak terangkat. Peti itu membatu seperti menhir keramat. Nyonya Pho kecewa berat. Di luar gudang

Pak Mustar dan dua orang penjaga sekolah tadi tengah duduk merokok. Aku membayangkan sebuah kejadian

janggal dan belum sempat kucerna firasatku, kejanggalan itu benar terjadi. Suara Nyonya Pho kembali menggelegar

seperti pengkhotbah di puncak Bukit Golgota.

“Bujang! Tolong sini! Angkat peti ini ke stanplat. Daripada kalian merokok saja di situ, aya ya … tak berguna!”

Sekarang delapan orang memikul peti dan peti meluncur menuju pasar pagi yang ramai. Di sekitar peti

tukang parkir berteriak-teriak menimpali obralan pedagang Minang yang menjual baju di kaki lima. Klakson

sepeda motor dan kliningan sepeda sahut-menyahut dengan jeritan mesin-mesin parut dan ketukan palu para

tukang sol. Lenguh sapi yang digelandang ke pejagalan beradu nyaring dengan suara bising dari balon kecil

yang dipencet penjual mainan anak-anak. Di punggungku kurasakan satu per satu detakan jantung Jimbron,

lambat namun keras, gelisah dan mencekam. Berbeda dengan Arai. Waktu peti melewati para pengamen ia menjentikkan jemarinya mengikuti kerincing

tamborin. Dan ia tersenyum. Aku mengerti bahwa

yang asyik. la melirikku yang terjepit tak berdaya, senyumnya semakin girang.

ngambat

giriskan. Jimbron memeluk kedua kakinya dan mulaisuspense.

momentum  dengan menumpukan seluruh tena-

Hupo, Tionghoa tulen yang menjadi  paranoid  karena riwayat perang saudara. Ratusan tahun mereka menanggungkan sakit hati sebab kalah bertikai. Dulu, bersama Cina Kuncit, mereka jadi antek Kumpeni, ganas menindas orangorang Kek. Kini dimusuhi bangsa sendiri, dikhianati Belanda, dan dijauhi orang Melayu membuat mereka selalu curiga pada siapa pun. Tak segan mereka melepaskan anjing untuk mengejar orang yang tak dikenal.….”ini. Untuk menyokong keluarga, sudah dua tahun kami menjadi kuli ngambat—tukang pikul ikan — di dermaga.Semuanya memang serba tidak masuk akal. Bagaimana mungkin hanya karena urusan sekolah kami bisa terperangkap di gudang peti es ini. Aku mengawasi sekeliling.stainless,  menciptakan pedang cahaya, putih berkilauan, tak terbendung melesat-lesat menerobos sudut-sudut gelap yang pengap.

Iklan

Renungkanlah sebelum munajat kepadaNya..
Aku meminta kepada Allah setangkai bunga segar,
Ia beri aku kaktus berduri,
Aku meminta binatang yang kecil nan cantik,
Ia beri aku ulat berbulu,
aku sempat sedih, protes dan kecewa,
betapa tidak adilnya ini,
namun sesaat kemudian..
kaktus itu berbunga, indah sekali
dan ulat itupun tumbuh menjadi kupu-kupu yang teramat cantik.
Itulah jalan Allah, indah pada waktunya!
Allah tidak memberi apa yang kita harapkan,
tapi Ia memberi apa yang kita butuhkan.
Kadang kita sedih, kecewa, terluka tetapi jauh diatas segalanya..
Allah sedang merajut yang terbaik untuk hidup kita.
Allahu Akbar..3X
Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk mensyukuri nikmatNya.

“allohummaghfirlii warhamnii wahdinii wa’aafinii warzuqnii..

Ya alloh, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah keselamatan kepadaku (dari apa yang tidak ku inginkan) dan berilah rezeki kepadaku.. “

(HR.Muslim)

*Rabbku*

Aku tahu rizqi ku tak mungkin diambil orang,
karenanya hatiku tenang..  
Aku tahu amalanku tak mungkin dilakukan orang,
maka ku sibukkan diriku bekerja dan beramal.. 
Aku tahu alloh selalu melihatku,
karenanya aku malu bila alloh mendapatiku melakukan maksiat..
Aku tahu kematian menantiku,
untuk itu ku persiapkan bekalku untuk berjumpa dengan Rabb ku..
Ketika ku mohon pada alloh kekuatan..
Dia memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.             
Ketika ku mohon pada alloh kebijaksanaan..
Dia memberiku masalah untuk ku pecahkan.              
Ketika ku mohon pada alloh kesejahteraan..
Dia memberiku akal untuk berfikir.                           
Ketika ku mohon pada alloh keberanian..
Dia memberiku kondisi bahaya untuk ku atasi.                     
Ketika ku mohon pada alloh sebuah cintaNya..
Dia memberiku orang-orang untuk ku tolong.
 
Aku menerima segala yang ku butuhkan..
Doaku terjawab sudah..

Pengakuan

Rinduku kekasih
Tumbuh bersemi dalam kehampaan
Pupus dan gersang
Hanyut dan hilang
Di sungai tanpa sekumpulan mata air
Terbang dan melayang
Di bumi terhampar tanpa denyut kehidupan

 

Cintaku kekasih
Tak sebening tetes embun pagi di ujung dedaunan
Hanya bagai kabut putih di pegunungan
Yang datang dan kembali pergi
Hilang diterpa pancaran sinar matahari

Ketulusanku kekasih
Yang kusampaikan di dalam setumpuk bingkisan
Disinggahi seribu pamrih
Yang berakar dan terus berbunga

Pujangga
Bunga Rampai

Yang Kurindu

Kurindukan………
Sekuntum mawar dalam sebuah harapan
Mekar di pagi hari menyambut datangnya mentari
Semerbak sepanjang hari tuk meramaikan suasana taman hati
Tak layu di malam hari bersama purnama yang menerangi bumi

Kurindukan………
Sekuntum mawar dalam genggaman
Kelopaknya bukan gemerlap materi tapi kasih sayang Ilahi
Mahkotanya bukan kilauan intan permata tapi cahaya pekerti
Duri-durinya bukan kesombongan tapi pembenteng diri

Kurindukan………
Sekuntum mawar dalam keindahan
Dalam kemuliaan abadi
Dalam kesucian kasih Ilahi
Dalam kemurnian cinta hakiki

Kurindukan…………
Sekuntum mawar dalam keinginan
Sebagai teman sepanjang zaman

Kurindukan……..
Sekuntum mawar dalam lantunan do’a
Kelak kan hadir di depan mata

Pujangga
Bunga Rampai

Kasih Sayang Lebih Mulia dari Cinta

Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetaplah dingin, hanya suasana yang lebih indah mewarnainya

Dihadapan orang yang kau cintai,
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja

Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja

Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja

Jika orang yang kau cintai menangis,
Engkau pun akan ikut menangis di sisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
Memang hatimu menangis namun kau hanya menghibur saja

Perasaan cinta dimulai dari mata,
Sedangkan rasa suka lebih dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
Cukup dengan menutup telingamu
Tapi bila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,
Cinta itu berubah menjadi tetesan air mata
Dan terus bersemayam di hatimu dalam waktu yang tak singkat

Tetapi selain rasa suka dan cinta,
Ada perasaan yang jauh lebih dalam,
Yaitu rasa sayang.

Sayang yang tidak hilang secepat cinta pergi,
Sayang yang tidak mudah berubah,
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban
Untuk orang yang kau sayangi
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kau sayangi

Cinta ingin memiliki, tetapi sayang hanya ingin melihat
Orang yang disayanginya bahagia…walaupun harus kehilangan

Pujangga
Bunga Rampai

Kidung Sebuah Hati
Pikirkanlah
Nafas-nafas yang tiada ujung pangkalan Yang maya, mengapa tumbuhkan harapan
Yang semu mengapa kau jadikan tumpuan
Rindu itu bertaut, bukan dengan bayangan

 

Pikirkanlah
Kepada siapa berlabuhnya sebuah hati
Berapa lama lagi engkau akan bermimpi
Raga semakin ringkih membawa diri
Raga kian tak sabar menunggu mati

Hai jiwa,
Kegersangan merindu siraman
Kehausan jangan membawamu mereguk lautan
Sesuatu tengah dicari, belum lagi kau temui
Akankah disini engkau dapati…
Kian maya saat dirasa nyata

Jangan bersandar pada nyanyian indah
Jangan berkaca pada cermin yang pecah
Bersandarlah di tepi malam
Ketika selimut membuai tiap hati insan
Percayalahpada kekuatan doa
Karena Dia

Pujangga
Bunga Rampai

Doa untuk Kekasih…
Allah yang Maha Pemurah…

 

Terima kasih Engkau telah menciptakan dia
dan mempertemukan saya dengannya.

Terima kasih untuk saat-saat indah
yang dapat kami nikmati bersama.

Terima kasih untuk setiap pertemuan
yang dapat kami lalui bersama.

Saya datang bersujud dihadapanMU…

Sucikan hati saya ya Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencanaMU dalam hidup saya.

Ya Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya, janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya…
janganlah biarkan saya, melabuhkan hati saya dihatinya..
kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya dan jauhkan dia dari relung hati saya…

Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam didada ini dengan kasih dari dan padaMU yang tulus, murni…
dan tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.

Tetapi jika Engkau ciptakan dia untuk saya…
ya Allah tolong satukan hati kami…
bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya…
berikan saya kesabaran, ketekunan dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya…

Ridhoi dia, agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya
sebagaimana telah Engkau ciptakan…

Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia…

Ya Allah Maha Pengasih, dengarkanlah doa saya ini…
lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendakMU…

Allah yang Maha kekal, saya mengerti bahwa Engkau senantiasa memberikan yang terbaik untuk saya…
luka dan keraguan yang saya alami, pasti ada hikmahnya.

Pergumulan ini mengajarkan saya untuk hidup makin dekat kepadaMU untuk lebih peka terhadap suaraMU yang membimbing saya menuju terangMU…

Ajarkan saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan….

Jadikanlah kehendakMU dan bukan kehendak saya yang menjadi dalam setiap bagian hidup saya…

Ya Allah, semoga Engkau mendengarkan dan mengabulkan permohonanku.

Amien.
Pujangga
Bunga Rampai

Sepenggal Doa Untukmu

Robb,…
Aku datang pada Mu dengan penuh kepasrahan
Ketika dihadapkan kepada pilihan terberat

Robb,…
Beri ketetapan hati untukku
Hati yang terbaik yang sama-sama kita lihat
Hati yang bukan saja menyejukkan dalam pandanganku
Tapi hati yang telah kau lihat sampai menembus relung kalbunya…

Alloh yang Maha Kuasa,
Maha melihat masa depan,
Maha mengetahui yang akan terjadi
Engkau jua yang mengetahui keinginan terdalam hatiku

Ya Alloh,…
Jika mendambanya adalah kesalahan
dan merindunya adalah kekeliruan
Tolong jangan biarkan hati ini terbuai dalam keindahan fatamorgana semu…

Jika kesempurnaannya bukan untukku…
Tolong bawa jauh dari relung hati…
Hapuskan khayalan keindahan tentangnya
dan jangan biarkan aku terlena dalam keindahannya…
Gantikan aku dengan kesempurnaan yang sebenarnya untuk dia

Tapi Tuhan,…
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya v Beri aku kekuatan menentukan pilihan
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapainya v Jika dia memang untukku…
Jangan biarkan aku menyerah & terpuruk dalam belenggu masa lalu…………

Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
Mengarungi sisa umur…
Menapaki jalan kearah Mu…
Dan melukis keindahan untuk dunia dan akhirat kami…

Tolong beri kesabaran yang penuh…
dalam melalui detik-detik waktu yang berjalan…

Amien……
Doa ini untuk seseorang yang telah mengingatkan tentang kekuasaan-Nya, menjadikan aku kembali merindukan cinta-Nya.
Terimakasih atas semua yg pernah kita lalui…..
Smoga Alloh slalu membimbing & membahagiakan mu… Amien

Pujangga
Bunga Rampai

Ungkapan hati dari www.hasandr.wordpress.com

Terimakasih

Sepatu Baru

Thoriq dan Rifa, acap dibawa ke toko serba ada. Sebenarnya ayah dan ibunya ingin berbelanja secara simpel dan mendapatkan harga barang yang sedikit lebih ringan bila dibandingkan berbelanja ke tempat lain. Hanya saja sebelum berangkat, biasanya dibuat perjanjian, tidak akan minta membeli apa-apa mainan atau makanan yang dilihat. Sebab yang dicari bukan mainan, tetapi keperluan rumah tangga sehari-hari. Karena itu, tidak heran bila sampai di toko, mereka segera menuju ke konter permainan dan melihat-lihat berbagai alat permainan anak. Walaupun lebih sering hanya untuk menonton pajangan saja, sesekali dibelikan juga bila sudah ada perjanjian sebelumnya.

“Itu cantik ya, Yah! kata Thoriq sambil menunjuk ke arah mainan anak.

“Iya,” jawab ayah singkat.

“Harganya berapa, Yah?” tanya Thoriq lagi.

“Dua puluh lima ribu,” jawab ayah setelah melihat label harga yang menempel di permainan tersebut.

“Segitu itu mahal?” tanyanya pula.

“Bisa untuk dua kali beli bensin motor Ayah,” jawab ayah.

“Wah… mahalnya.”

“Bang Thoriq mau yang ini?” ayah menawarkan.

“Terserah ayah,” Thoriq seperti pasrah.

Ada kalanya mainan tersebut jadi dibeli, lebih sering tidak. Demikian pula halnya dengan makanan ringan yang banyak tersedia di pasar swalayan.

“Kalau yang ini enak Yah?” tanya Thoriq suatu hari.

“Thoriq mau?” tanya ayah tanpa menjawab pertanyaan Thoriq.

“Terserah Ayah,” jawabnya.

“Kalau mau ambil saja,” kata ayah lagi.

“Hmmm. Terserah Ayah aja.”

Suatu kali, nenek Rengat (begitu panggilan Thoriq dan Rifa terhadap ibu dari ibunya) menitipkan sejumlah uang untuk dibelikan alas kaki bagi cucunya. Sepasang sepatu untuk Thoriq, sepasang lagi untuk Rifa.  Setelah keliling mencari kesesuaian harga dan selera, akhirnya dibelilah sepasang sepatu hitam untuk Thoriq. Sedangkan untuk adiknya dibelikan sendal berbulu ‘berkepala’ kelinci’. Keesokan harinya setelah mendapat alas kaki baru, mereka terlihat bermalas-malasan untuk segera mandi. Padahal sudah beberapa kali diingatkan ibu, takut terlambat ke sekolah. Lalu keduanya teringat bahwa alas kaki baru mereka dan segera mengeluarkannya dari kotak. Rifa ingin memakai sendal barunya untuk ke sekolah. Begitu pula Thoriq. Ini berarti melanggar perjanjian. Padahal, sebelum dibeli sudah ada kesepakatan untuk tidak membawa alas kaki baru mereka ke sekolah. Sepatu Thoriq rencananya baru dipakai saat duduk di bangku sekolah dasar. Tiga bulan lagi. Sedangkan sendal Rifa memang hanya untuk dipakai di rumah. Ayah ’bersitegang urat leher’ dengan kedua anaknya itu. Tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya, Thoriq terus membujuk dan kemudian mengusulkan untuk hanya membawa alas kaki baru ke sekolah tapi tidak dikenakan.

”Cuma dimasukkan ke dalam tas, Yah. Tidak dipakai kok,” kata Thoriq melobi. Usulan ini akhirnya disepakati ‘kedua belah pihak’. Ayah di satu pihak, melawan Thoriq dan Rifa di pihak lain.

Jadilah mereka berdua membawa kasut baru ke sekolah masing-masing setelah membungkus dan memasukkannya ke dalam tas. Sewaktu dijemput ayah saat pulang sekolah, sepatu baru Thoriq sudah terpasang di telapak kakinya. Tidak seperti Rifa. Di rumah ia ’diinterogasi’ ayah.

”Abang janji cuma membawa sepatu itu, tidak memakainya. Kok sekarang malah sudah dipakai?” protes ayah.

“Soalnya, Abang bisa melompat tinggi kalau pakai sepatu ini, Yah. Ringan sepatunya,” kata Thoriq mencari-cari alasan. Melihat abangnya pulang mengenakan sepatu baru, Rifa segera mengeluarkan sendalnya dan terbanglah sendal baru itu dari rumah ke rumah. Sebenarnya mereka bangga punya alas kaki baru dan ingin teman-temannya tahu. ***

 

Teman kok Bayar?

Kami kontrak rumah milik orang Aceh. Dua kamar tidur, satu kamar mandi, dan satu ruang tamu yang menyambung dengan ruang makan.  Sebenarnya ada satu kamar lagi yang terhubung ke rumah ini, namun dipakai untuk gudang oleh pemilik rumah. Pintunyapun tidak terkait dengan rumah induk. Hanya saja dinding di bagian atas kamar itu terbuka dan langsung bersebelahan dengan kamar kami yang satunya lagi.

Walaupun jarang ke tempat kami, namun bila bertemu, pemilik rumah cukup akrab dan sering berbincang-bincang. Kepada anak-anak ayah juga sering mengatakan bahwa rumah ini adalah milik Om Fikri.

Petang hari sudah datang. Bila Thoriq dan Rifa enggan segera mandi, biasanya ayah akan membujuk keduanya dengan bercerita. Cerita apa saja. Cara ini biasanya efektif, apa lagi bila cerita tentang hewan-hewan atau cerita yang ada perkelahian dan pertemanan. Setelah mereka selesai mendengar cerita dan ‘acara’ mandi akan dimulai, Thoriq mengajukan pertanyaan.

“Yah, kata Ayah Om Fikri teman Ayah.”

“Ia. Om Fikri memang teman Ayah.”

Rupanya ia sedang teringat pada suatu siang beberapa hari lalu. Thoriq pernah melihat ayahnya mengeluarkan sejumlah uang. Sewaktu ditanyakan kepada ayah, dikatakan uang ini milik ayah untuk membayar sewa rumah Om Fikri.

“Kata Ayah, Om Fikri teman Ayah. Tapi, kok, kita pinjam rumahnya ini membayar, Yah?” tanya Thoriq.

“Iya, ‘kan Om Fikrinya perlu uang untuk sekolah, untuk makanan, untuk beli bensin, dan untuk perbaiki rumah ini kalau rusak. Kalau tidak dibayar, nanti Om Fikrinya pakai uang siapa? Iya ‘kan?” jawab ayah.

“Iya,” jawab Thoriq.

“Tapi ini ‘kan bocor,” sambung Rifa. “Kalau hujan banjir lagi,”  katanya sengit.

“Iya, Yah!” Thoriq sepakat.

Saat hujan kemarin, memang air banyak masuk dari atas akibat talang air bagian ruang tamu bocor besar. Tapi sudah diperbaiki dan sekarang tidak bocor lagi. ***

Lain Kasut, Lain Boneka

Pagi hari sewaktu liburan sekolah, Rifa diantar mbok bermain ke rumah Bu Sri. Dosen FKIP Matematika Universitas Islam Riau, Pekanbaru ini baru saja menyelesaikan program doktor di UGM. Rifa juga sering bertemu di masjid saat shalat Magrib atau Isya, Ia sering diajak bermain ke rumah Bu Sri oleh mbok yang bekerja di rumah. Selain karena ada keponakannya yang bekerja di rumah itu, mbok sebelumnya juga bekerja kepada Bu Sri selama beberapa bulan sebelum membantu pekerjaan di rumah Thoriq dan Rifa.

Bu Sri membawa pula dua anak perempuannya ke Yogyakarta, Akla duduk di kelas enam SD dan Syifa’ yang masih kelas pertama sekolah dasar. Rifa lebih suka bermain dengan Syifa’. Selain karena perbedaan usianya tidak terlalu jauh, juga karena Syifa’  punya banyak permainan, termasuk boneka. Tapi, entah mengapa mata Rifa hari itu tidak tertuju pada boneka. Ia lebih tertarik pada kasut milik Syifa’.

Kasut Syifa’ bukanlah baru, bahkan sudah agak menipis di bagian tumit. Sendal plastik inipun warnanya sudah memudar. Ukurannya jelas tidak terlalu sesuai dengan telapak kaki Rifa. Tapi ia sangat tertarik pada benda yang satu ini.

“Bu Sri, Bu Sri. Kak Rifa boleh pinjam sendal Kak Syifa’?” tanya Rifa kepada Bu Sri yang tengah duduk-duduk santai di ruang depan. Rifa tidak mau meninggalkan kata ‘Sri’ setelah menyebut kata bu. Kata dia, ibunya juga memanggil seperti itu.

“Boleh. Untuk Kak Rifa juga boleh,” kata Bu Sri dengan lembut.

Rifa yang seperti mendapatkan durian runtuh itu meminta ketegasan.

“Untuk Kak Rifa, boleh?” katanya mengulang seperti tak percaya.

“Boleh. Bawa saja,” sambung Bu Sri.

“Benar Bu Sri. Untuk Kak Rifa ini?” tanya Rifa lagi

“Iya. Benar untuk Kak Rifa,” kata Bu Sri lagi.

Makasih ya Bu Sri,” kata Rifa yang sangat senang mendapat alas kaki gratisan. Padahal di rumah dia punya kasut beberapa pasang. Saking senangnya, hampir tiap akan ke sekolah, Rifa selalu meminta kepada ayah agar diperkenankan membawa kasut itu. Walaupun diiyakan, biasanya kasut yang sudah terbungkus dalam plastik itu selalu lupa dibawanya.

Di rumah Tante Ola lain lagi ceritanya. Kata Rifa, Tante Ola punya banyak boneka. Tapi semuanya pemberian teman-temannya, tidak ada yang dibelinya sendiri. Suatu hari, Rifa diajak bermain ke kamar Tante Ola. Rifa begitu senang dan langsung bermain dengan berbagai koleksi boneka milik tante yang besar-besar itu. Tiba-tiba Rifa ’nyeletuk’.

“Tante, Kak Rifa minta bonekanya, ya?” katanya sambil memegang sebuah boneka panda yang cukup besar.

Tante Ola yang tidak mengira akan mendapat permintaan seperti itu berfikir keras untuk menolak secara halus. Ia tidak ingin Rifa tersinggung karena permintaannya ditolak. Tapi ia juga tidak ingin boneka pemberian temannya yang menjadi cendera mata itu beralih tangan ke orang lain. Padahal tiap boneka ini ’kan ada ’nilai historis’nya.

“Maaf, ya Kak Rifa. Boneka ini pemberian teman Tante. Nanti kalau teman Tante ke sini dan tidak menemukan boneka pemberiannya, dia sedih,” kata tante Ola hati-hati.

Rifa yang tidak siap mendapat penolakan langsung membalas.

“Sesama Muslim kok tidak mau berbagi sih,” katanya dengan nada agak tinggi.

“Mestinya, sesama Muslim harus berbagi. Kalau tidak mau berbagi berarti ’kan bukan Muslim,” katanya lagi agak ketus.

Tante Ola tidak menduga mendapat ’serangan’ seperti itu, ia hanya bisa tertawa ’nyengir’. Tapi yang  jelas, hingga tulisan ini selesai dibuat bonekanya tetap tidak beralih pemilik. *** 

 

 

Yang Sopan, Yah!

Ayah baru menjemput Rifa. Rifa minta tolong jilbabnya dibuka. “Sumuk,” katanya. Ayah membuka jilbab itu karena terlihat Rifa memang kepanasan. Lalu karena terburu-buru ingin menjemput Thoriq yang diperkirakan sudah waktunya keluar dari kelas untuk pulang, ayah segera saja mengambil jilbab sekolah Rifa yang sudah dibuka itu, dan tanpa masuk ke rumah ayah melemparkan jilbab tersebut ke arah kamar mandi agar mudah dimasukkan ke dalam baskom pakaian kotor. Melihat itu, Rifa protes.

Masak dilemparin jilbabnya. Yang sopan dong, Yah!”

“Oh, maaf ya, Nak. Ayah buru-buru,” kata ayah cengengesan, lalu langsung kabur. 

Di lain kesempatan, ayah kembali terlihat berjalan terburu-buru. Baru saja sampai di rumah setelah menjemput Rifa, ayah langsung berangkat lagi. Tanpa masuk ke rumah ayah melemparkan tas plastik milik Rifa ke dalam ruang tamu. Namun tas tersebut jatuh tak jauh dari tempat Rifa berdiri. Rifa jadi terkejut.

“Ayah jangan lempar sembarangan!” kata Rifa dengan nada tinggi.

“Oh, ya. Maaf ya,” kata ayah yang langkahnya terhenti di pintu.

“Jangan ulang lagi ya!” kata Rifa.

“Ya, maaf ya,” kata ayah. Ayahpun segera berlalu.  

Tak lama kemudian Ifat datang dan langsung masuk  rumah. Rifa senang sekali temannya datang. Kesukaan mereka adalah bermain boneka dan mewarnai.

Tiba-tiba Ifat bersin, “Haatszji….” muka dan mulutnya menghadap ke Rifa.

“Mestinya menghadap sana!” kata Rifa kesal sambil menunjuk ke arah luar rumah kepada Ifat.

“Kamu juga tidak baca alhamdulillah,” Rifa protes.

Sementara Ifat hanya terbengong-bengong, diam seribu bahasa. ***

 

 

Membeli Buku

Sebuah penerbit terkenal sedang mengadakan penjualan dengan rabat besar. Ayah kemudian mengajak Thoriq dan Rifa melihat-lihat ke toko buku tersebut. Sampai di sana mereka diminta mencari sendiri buku untuk masing-masing tapi dengan jumlah terbatas. Saat ayah membawa banyak buku, Thoriq protes, mengapa mereka hanya dibelikan dua buku, sedangkan ayah membeli banyak. Menurut ayah buku untuk belajar di sekolah.

Keesokan siangnya, usai menjemput Rifa dan mengantar pulang duluan, ayah langsung pergi menjemput Thoriq ke sekolah. Saat di atas motor, ayah menawarkan ke Thoriq untuk pergi membeli beberapa buah buku ke toko khusus yang selalu memberi diskon sepanjang waktu. Merasa tidak ada kepentingan di rumah, Thoriq mengikut saja.

 Di toko buku itu Thoriq meminta sebuah majalah ‘untuk anak’ – padahal isinya untuk remaja. Namun tidak diperkenankan ayah.

”Yang boleh cuma buku mewarnai atau buku cerita anak,” kata ayah.

”Cuma satu ini, Yah.”

”Ya, untuk Bang Thoriq memang cuma satu buku. Tapi bukan buku itu!”

”Tapi mengapa Ayah kok beli buku banyak?” 

”Untuk belajar,” jawab ayah.

”Cuma minta satu kok ndak boleh,” katanya memegang majalah Naruto.

”Sebab majalah itu bukan untuk anak umur Bang Thoriq. Itu untuk anak SMP seperti Kak Lia,” kata ayah menyebut kakak sepupu Thoriq di Pekanbaru.

”Abang tidak akan buka majalahnya. Nanti saja kalau sudah SMP di Pekanbaru waktu umur Abang 13 tahun,” katanya masih berharap.

”Kalau begitu, di Pekanbaru saja belinya, Nak. Kalau beli sekarang, ’kan susah membawanya.”

”Nanti majalahnya di Pekanbaru tidak ada.”

Insya Allah ada.”

”Kalau tidak ada? Atau nanti Ayah aja yang baca.”

Ayah: ¿!?>”?> ***

 

 Kucing Tersesat

Greeet, greeeet. Sudah beberapa jam terdengar seperti garukan kuku tajam ke plafon triplek di loteng rumah. Semula ibu menduganya tikus sedang membuat sarang untuk beranak pinak. Setelah ayah  mencari  tahu, barulah ketahuan itu suara cakar kucing. Anak kucing tepatnya. Tapi kucing ini seperti enggan mengeluarkan suaranya. Hanya beberapa kali dia mengeong lemah. Sepertinya tersesat setelah beberapa lama, namun belum juga menemukan tempat untuk turun. Sewaktu diupayakan untuk menurunkannya, kucing itu terlihat ketakutan dan langsung lari menghindari ayah masuk ke sela-sela loteng, kayu plafon, dan genteng. Karena sulit, akhirnya ayah membiarkan saja kucing itu tetap di atap. Setelah Thoriq dan Rifa pulang, ayah menceritakan nasib anak kucing itu.

”Di mana dia sekarang, Yah?” tanya Thoriq bersemangat.

”Masih di atas. Tak bisa turun.”

”Sebesar apa, Yah?” Rifa ikut bertanya.

”Sebesar ini,” jawab ayah mencontohkan dengan ukuran kedua tangannya.

Kok Ayah tahu? ’Kan tidak kelihatan,” tanya Thoriq.

”Tadi Ayah melihatnya sebentar di sebelah luar rumah. Tapi segera masuk sewaktu mau diturunkan,” jelas ayah lagi.

”Turunkan pakai tangga, Yah,” kata Thoriq yang diaminkan Rifa.

”Tangganya sudah tidak kelihatan lagi di sini,” kata Ayah saat melongok ke gudang tempat tangga biasa disimpan.

”Abang ada ide,” kata Thoriq setelah diam beberapa saat.

“Bagaimana kalau tempat susunan pot bunga ini (bangku-bangku) dinaikkan ke loteng. Terus Ayah naik mengambil kucingnya,” kata dia.

”Ide bagus,” jawab ayah, ”Tapi bangku-bangku ini tidak bisa dijadikan tangga. ’Kan tidak ada pijakannya,” jelas ayah.

”Tapi kucingnya mungkin bisa turun dari sini, Yah,” protes Thoriq.

”Tapi kucingnya sekarang ’kan menghilang,” sambung Rifa.

”Abang punya ide lain,” kata Thoriq sambil berlari ke arah kos-kosan putri dan kembali membawa sapu bertangkai panjang yang biasa digunakan untuk membersihkan langit-langit rumah.

”Bagaimana kalau sapu panjang ini diarahkan ke kucingnya supaya turun,” usul Thoriq lagi.

”Nanti kucingnya malah takut,” kata ayah.

”Mengapa?” tanya Thoriq.

”Dia kira kita mau memukulnya,” jelas ayah.

”Mengapa dia kira kita mau memukulnya, Yah? Kita ’kan Islam. Orang Islam ’kan tidak boleh berbohong. Iya ’kan, Yah?” tegas Thoriq.

”Iya,” ayah menjawab singkat.

Rifa yang mendengar saja sejak tadi hanya ’ambil bagian’ sedikit langsung nyeletuk.

”Kata Ayah, Abang tidak boleh nyonyon lagi, tapi kok, masih nyonyon?”

”Hahaha……” ketiganya tertawa besar.

Rupanya Rifa protes, Thoriq sudah janji ke ayah untuk tidak nyonyon, ternyata Thoriqnya masih bohong. Padahal orang Islam tidak boleh bohong. ***

 

 Berbagi ‘Bombon’

Pagi itu Thoriq menemukan candy di dalam lemari pakaian. Setelah dia ambil satu, dia datangi ayah.

“Yah, Abang ada sesuatu lho, untuk Ayah,” kata Thoriq.

“Ini dia,” katanya sambil menyerahkan permen  yang disembunyikan di belakang punggungnya. Ia sebenarnya suka permen itu. Tapi ia juga takut dan khawatir kalau permen itu semakin memperbesar sakit amandel di tenggorokannya. Beberapa waktu sebelum ke Yogyakarta, amandel di dalam lehernya itu meradang dan membesar sehingga kalau ia tidur sering ngorok, dan mudah demam. Karena itu ia diperingatkan dokter.

“Terimakasih ya, Nak,” lalu ayahnya mengambil permen pemberian Thoriq dan menyimpannya. Kebetulan Rifa saat itu baru masuk kamar dan melihat ‘kejadian’ itu. Rifa lebih suka permen dan lebih sulit mengontrol kesukaannya ini dibanding Thoriq.

“Biar Adek,..Kak Rifa saja yang menyimpannya, Yah,”  Rifa menawarkan diri.

Dalam sekejap, bombon itu berpindah tangan dan Rifa menyimpannya dalam tas sekolah. Usai sarapan keesokan harinya, ayah menanyakan ‘keberadaan’ gula-gula yang disimpan Rifa.

“Ini dia,” ungkap Rifa dengan gembira sambil menyerahkan kembang gula kesukaannya itu kepada ayah.

“Sebelum dimakan, berdo’a dulu,” kata Ayah yang langsung membaca do’a  makan dan minum. Belum selesai dibaca, Rifa segera memotong.

“Bukan begitu, Yah. Begini,” kata Rifa sembari duduk di sebelah ayah.

“Ini masjid, ini jamaahnya,” kata Rifa sambil menggerak-gerakkan tangan kiri dan kanan menggambar apa yang disebutnya, seperti segi tiga. Ia terus menyambung seperti diajarkan di sekolah.

“Takbiratul ihram, ruku’, iktidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyat, salam ke kanan, salam ke kiri, berdo’a, Allahumma bariklana fiimarazaqtana waqina ‘azabannaar. Ya Allah, berkahilah rizki yang Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Amin,” kata Rifa yang menaikkan dan membentangkan kedua tangannya saat berdo’a. Setelah berdo’a selesai, Rifa kemudian menyerahkan gula-gula yang hanya satu ‘biji’ itu kepada ayah. Setelah dibuka, permen dibagi dua, separuh untuk Rifa, setengahnya lagi untuk Thoriq. ***

 

 

Memasak Sup

Libur sekolah hari Ahad ini Rifa dan Thoriq agak kesepian. Pasalnya banyak teman-teman di dekat rumah yang punya acara sendiri bersama keluarganya. Jadilah mereka seperti lesu, tidak bersemangat untuk bermain. Thoriq akhirnya memilih bermain ke rumah mbah menonton teve. Sedangkan Rifa masuk ke kamar dan mengumpulkan bantal di atas tempat tidur. Ia lalu menyusunnya seperti kotak persegi. Rifa kemudian mengumpulkan bonekanya dan baring bersama di dalam persegi empat yang disebutnya sebagai rumah itu. Sewaktu ayah masuk menemuinya, ia meminta ayah untuk mengucapkan salam – seperti orang datang bertamu ke rumah orang lain. Setelah menjawab salam dari ayahnya, Rifa menggeser sebuah bantal –layaknya pintu rumah, dan mempersilahkan ayahnya masuk. Keduanyapun asik bercerita, termasuk harapan-harapan ayah kepadanya agar selalu sehat, baik, cerdas, rajin… tiba-tiba Rifa menyambung.

”Mencuci baju, mencuci celana, mencuci piring, memasak juga,” katanya.

”Iya. Itu tandanya anak yang baik dan pintar,” kata ayah yang segera beranjak keluar.

Tidak lama kemudian Rifa juga terlihat keluar kamar dan langsung menuju ke kamar mandi tempat mbok sedang mencuci piring. Tanpa aba-aba dia langsung mengambil bagian mencuci piring hingga jadi berantakan apa yang sudah dikerjakan mbok. Mbok pun memintanya pergi agar tidak basah dan mengganggu kerjanya. Rifa langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur. Ia lalu mengumpulkan sejumlah mangkok, cawan plastik, dan sebuah talenan.  Kepada ayah dia meminta diambilkan pisau. Semula ia menolak pisau kue yang terbuat dari plastik, namun segera menerimanya setelah diberitahu pisau itu juga tajam. Ia juga meminta dicarikan sesuatu yang dapat dipotong-potong. Ayah memberinya selembar kulit sayur kol putih. Mulailah ia memotong-motong kecil sayurnya tadi. Setelah berlangsung lama, tiba-tiba dia minta izin ibu untuk diberi selembar roti tawar.

“Untuk apa?” tanya ibu yang tengah berada di kamar menidurkan adik bayi.

“Untuk digini-ginikan,” katanya sambil memperagakan memotong-motong roti.

Ibu mengira Rifa akan memakan roti tersebut setelah dipotong-potong.  Kenyataannya, Rifa meremas-remas roti tersebut hingga hancur. Setelah mencampurkan sedikit air ia menjadikannya sebagai adonan potongan sayur kol yang telah dipotongnya. Ayah yang baru saja kembali dari luar rumah segera diminta Rifa untuk menghidupkan kompor. Saat itu Rifa baru saja menuangkan sebagian ‘adonan masakannya’ itu ke dalam sebuah kuali kecil berisikan santan kelapa yang baru saja diparut mbok. Melihat itu, ayah segera mengambil cairan santan tadi dan segera menyaring dan memindahkan adonan masakan Rifa ke tempat lain. Karena sudah terlanjur ‘basah’, akhirnya ayah menambahkan sedikit santan milik mbok ke dalam adonan Rifa dan segera menyalakan api kompor. Setelah hangat beberapa lama, ayah mematikan kompor dan memindahkan masakan ‘khas’ Rifa ke mangkok kecil.

“Kak Rifa memasak apa ini?” tanya ayah kemudian.

“Masak sup,” jawabnya.

“Sup roti kol?” tanya ayah pura-pura tidak tahu.

“Iya. Boleh dimakan, Yah?” tanya Rifa pula.

“Tidak,” jawab ibu dari dalam kamar.

”Kenapa?” tanya Rifa lagi.

”Karena tadi kolnya tidak dicuci,” kata ibu menemukan alasan.

Jadilah masakan khas Rifa untuk pertama kali siap dibuat, tapi tidak siap disantap. Niatnya semula satu, menolong ibu memasak. ***

Jangan Repot-repot

Cerita ini tentu tidak ada kaitannya dengan kebiasaan Gus Dur yang dulu sering melontarkan ‘Gitu aja kok repot”. Pagi hari setelah mandi dan menyiapkan makanan untuk anak-anak, ibu segera mengambil tikar plastik yang tergulung di sebelah pintu.

Saat tikar akan digelar, Rifa yang melihat ibunya merasa kasihan karena ibunya sedang hamil tua.

“Jangan repot-repot, Bu,” katanya seperti mau mengambil tikar dari ibunya. Tapi segera dibentangkan ibu.

Ibunya pun segera memuji Rifa.

“Sekarang, anak ibu makin pintar, tidak suka lagi marah-marah, teriak-teriak, mencubit, dan mengamuk lagi,” kata ibunya.

“Amin,” kata Rifa santai. Lalu merekapun sarapan.

Menjelang petang hari, Thoriq dan Rifa menonton VCD bertemakan kakak adik yang bertikai, lalu ibunya sakit. Namun cerita diakhiri dengan perdamaian dua bersaudara itu. Usai menonton, Rifa segera mendatangi ibunya yang sedang terbaring, terlihat kelelahan. Lalu Rifa kembali mencari sesuatu. Ia menemukan handuk kecil, dan segera berlari ke dapur. Handuk kecil itu kemudian dibasahkannya dengan air keran. Setelah itu ia segera berlari mendekati ibunya dengan handuk yang menetes-netes itu. Setelah dekat ia menempelkan handuk kecil itu ke kening ibunya. Persis seperti film anak yang saja ditontonnya.

Ibunya hanya tersenyum. Rifa lalu berlari ke dapur. Dia mendekati rak piring dan mengambilnya sebuah. Ia juga mengambil sedikit nasi dan menyendokkannya ke piring tadi. Setelah itu, ia segera mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum hingga setengah. Dengan tangan kanan dan kiri, ia masuk ke kamar dan menyuapkan nasi ke mulut ibunya yang matanya sedang terpejam.

“Ibu cepat sembuh ya,” kata Rifa.

“Iya, Nak. Terima kasih ya?” kata ibu senang. Rifa pun riang, walau nasi dan air yang dibawanya berserakan di lantai kamar.  ***

 

 Izin ‘Buang Angin’

Hari Sabtu dan Ahad merupakan libur sekolah Thoriq dan Rifa.  Untuk mengisi waktu, biasanya mereka bermain dengan teman, nonton film kartun di rumah tetangga, bermain bongkar pasang, atau mewarnai. Karena pagi itu teman-temannya tidak terlihat, usai mandi pagi kedua adik beradik ini lalu bermain berdua saja. Thoriq sibuk mengumpulkan buku mewarnai dan menggambar, sedangkan Rifa bermain dengan boneka beruang dan kucingnya.

Setelah beberapa membuat goresan, Thoriq datang mendekati adiknya dan berkata.

“Kak, Abang bisa menggambar. Cantik ’kan?” kata Thoriq minta dukungan.

Tapi, Rifa yang sibuk menggendong bonekanya berkomentar lain.

“Ya, iyalah, Abang bisa. Abang ‘kan sudah diajarkan Bu Guru. Kak Rifa ‘kan belum,” katanya.

“Memangnya, Kak Rifa di sekolah belajar apa kemarin?” tanya ayah yang lupa bertanya saat Rifa pulang sekolah.

“Mmmm, apa ya. Kakak lupa. Tunggu kakak ambil dulu buku. Lihat aja di buku Kak Rifa,” kata Rifa sambil berlari mengambil tas dan mengeluarkan buku penghubung guru-orang tua, lalu menyerahkannya kepada ayah agar dibaca.

“Tadi di sekolah Kak Rifa diejek-ejek Rizki,” katanya sambil memasang muka sedih. 

“Tapi, kata Bilhaq (temannya yang lain) tidak boleh ejek-ejek, berdosa lho. Terus Rizki tidak mau mengejek lagi,” kata Rifa menambahkan laporannya.

“Kak Rifa sudah terimakasih sama Bilhaq?” tanya ayah.

“Sudah,” katanya sambil meminta roti dan membawanya ke dalam kamar. Sambil berbaring, roti kering itu digigitnya pelan-pelan.

Tak lama setelah itu, Thoriq masuk lalu terdengar suara melengking Rifa.

Ayahnya segera berlari dan menemukan Rifa sedang menangis.

“Mengapa Kak Rifa menangis?”

“Dicubit Abang!” katanya sambil terus menangis.

“Mengapa Abang cubit Adek?”

“Soalnya, Kak Rifa tadi dorong Abang hampir jatuh. Abang ‘kan mau baring juga,” kata Thoriq mencari alasan.

“Mungkin Abang baringnya tidak minta izin Kak Rifa. Ayo minta izin Kak Rifa dulu,” sambung ayah. Rifa terlihat merengut, enggan memberikan izin. Sebelum ditanya ia sudah menjelaskan alasannya.

“Soalnya Bang Thoriq tadi kentut sembarangan!” kata Rifa sambil tersenyum. Lalu meledakkan tertawa ketiganya. Biasanya, Thoriq dan Rifa kalau mau buang angin segera berlari ke dekat kamar mandi. Bila sudah tidak tahan, mereka biasanya minta izin kepada orang yang ada di dekatnya. ***

 Makanan tak Bergizi

Di kamar mandi, Rifa baru saja akan menggosok gigi. Pasta gigi sudah dilengketkan ke sikat, tapi gigi tak kunjung digosoknya.

“Ayo, Nak, gosok gigi dulu, biar air hangatnya Ayah bawa untuk mandi Kak Rifa.”

”Iya, Yah. Tapi Kak Rifa mau ‘o’ok dulu,” katanya. Maksudnya buang air besar.

Ayahnya keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian, ia berteriak.

‘’Sudah keluar, Yah!”

Setelah disiram dan dicuci bersih, Rifa berkomentar.

“Itu tadi sisa makanan yang tak bergizi,” katanya.

“Iya, yang kotor-kotor dan tidak bermanfaat keluar semua. Baunya saja busuk,” sambung ayah.

“Tapi Kak Rifa ndak makan batu kok, Yah. Kak Rifa makan yang bergizi kok.

Ayah: ?!!!! ***

 

 Berendam di Baskom

Setelah beberapa hari libur sekolah, Rifa terlihat senang kembali sekolah pada hari Senin. Mungkin karena semangat bertemu dengan teman-temannya, sewaktu kembali ke rumah, bajunya terlihat basah. Lagi pula siang itu memang panas begitu terik. Usai membuka pakaian sekolahnya ia meminta tolong mbok, perempuan paruh baya yang baru tiga hari bekerja di rumah untuk memandikannya. Hanya saja mbok menolak dengan halus. Alasannya cuaca panas dan badan panas Rifa dapat mengakibatkan demam.

Akan tetapi mungkin karena ia merasa kepanasan dan terus minta dimandikan, akhirnya ayahnya yang memandikan. Rifa lalu minta berendam dalam baskom. Tapi itu tadi. Kalau sudah bermain air, lama sekali baru selesai. Biasanya di akhir pekan, mereka mandi dalam bak mandi. Setelah itu, ayah bertugas membersihkan bak dan mengganti airnya. Mereka bermain dan mandi di bak lama sekali.

Benar saja. Beberapa jam usai berendam air dingin, badan Rifa mulai meriang, panas, dan pilek. Bahkan malam hari ia terkena muntah berak (Muntaber). Tentu tidak ada kaitan antara dia Muntaber dengan mandi. Waktu itu diputuskan untuk membawanya berobat ke dokter.

Persoalannya waktu itu hujan turun dengan sangat lebat. Dalam kondisi seperti ini akan sulit mendapatkan taksi. Dokter praktik tentu sudah tutup kecuali unit darurat gawat di rumah sakit. Karena tidak ada alternatif lain, ibu teringat dokter anak tempat biasa berobat Rifa dan Thoriq di Pekanbaru. Dr Evi namanya. Dokter spesialis anak yang dapat ditelepon atau di-sms dalam kondisi darurat. Bahkan jika terpaksa, ia mau menerima pasien di rumahnya di tengah malam.

Setelah kami ceritakan, Dr Evi meminta Rifa segera dibawa ke rumah sakit terdekat. “Bawa sekarang ya! Nanti saya ke sana,” perintah ibu dokter yang menduga Rifa berada di Pekanbaru itu. Namun setelah diterangkan posisi dan kondisi Rifa, dokter yang ramah ini kemudian menginstruksikan untuk segera membeli empat sejenis obat.  Dua jenis untuk mengurangi mencret, satu jenis mengurangi muntah. Satu lagi  adalah untuk menurunkan panas. Beberapa nama obat itu familiar di telinga ibu dan ayah Rifa karena dapat dibeli bebas tanpa resep dokter.

Setelah minum obat, pagi hari kondisi Rifa lumayan membaik. Namun mukanya pucat, aktivitas dan keceriaannya jauh berkurang. Pagi itu ia tidak ke sekolah. Ia minta berbaring di depan pintu rumah melihat Pak De yang tengah bekerja merenovasi tempat parkir motor kos-kosan putri.

Mungkin karena merasa Rifa ‘sudah dibawa‘ ke dokter spesialis anak, walaupun hanya via telepon saku, ia tidak lagi dibawa ke rumah sakit atau ke dokter praktik. Ayah ibunya pun bertenang-tenang saja di rumah. Sebaliknya yang dirasakan Rifa. Walaupun meminum obat yang disarankan dokter, ia merasa tidak dibawa berobat ke dokter. Padahal ia merasa sakit.

“Bu, Rifa kok tidak dibawa ke dokter?”

“Iya, Nak. karena sudah minum obat yang diberikan dokter.”

Mendengar ini dia agak tenang. Namun hatinya belum puas. Petang hari, suhu tubuhnya semakin panas. Lalu muntah, walau tidak mencret lagi. Sesuai petunjuk penggunaan, ayah kembali memberinya obat.

Kok Rifa tidak berobat ke dokter, Yah?” tanya Rifa lagi.

Ayah hanya bergumam, lalu diam. Akhirnya setelah panasnya semakin tinggi, Rifa dibawa ke klinik khusus anak. Hasil diagnosa dokter, muntabernya tidak bermasalah lagi. Namun berdasarkan hasil laboratorium terhadap air seni terungkap bahwa terjadi inveksi pada saluran kencing. Hal ini diindikasikan dari adanya kadar protein dan beberapa parameter lainnya, kata dokter yang memeriksanya.

Ia memang sering mengatakan sakit perut. Kami menganggapnya karena ia tidak makan.Untung saja Rifa terus meminta dibawa ke dokter sehingga penyakit yang ‘sesungguhnya’ cepat ketahuan. Menurut dokter, bisa saja inveksi ini bersumber dari air minum yang sudah tercemar. “Minumnya harus diperbanyak,” kata dokter, “agar fungsi ginjalnya berjalan sempurna.” ***

 

 Dalam Perut Ibu

Thoriq tidak sekolah, karena demam lagi. Sepulang sekolah siang kemarin dia tidak mau istirahat. Malam harinya ia juga masih melanjutkan bermain di luar rumah, karena kebetulan tetangga sebelah ada  hajatan. Banyak anak-anak yang datang. Mungkin karena terlalu letih, ditambah lagi teman-temannya banyak yang influenza, iapun akhirnya ketularan. Ia sudah istirahat dua hari di rumah dan tidak sekolah. Padahal dia ingin sekali ke sekolah. Pasalnya saat dia sakit, di sekolah ada olahraga renang ke Kids Fun. Tempat renang dan bermain paling favorit bagi Thoriq.

Sewaktu ayah masuk ke kamar, Thoriq masih berbaring di kasur. Ia  lalu memegang keningnya. Ia merasakan sejuk, tidak seperti malam sebelumnya.

“Yah, Bang Thoriq tidak demam lagi. Artinya Bang Thoriq bisa ke sekolah.”

“Belum bisa Nak. Tadi malam badan Abang juga tidak panas, tapi tiba-tiba waktu tengah malam Abang bangun dan muntah. Benar ’kan?”

“Iya. Padahal  Bang Thoriq mau ke Kids Fun,” katanya dengan muka sedih.

“Abang di rumah dulu ya, supaya cepat sembuh. Biar nanti giginya mudah dicabut.”

Gigi susu bagian depan Thoriq memang sudah goyah. Sudah waktunya untuk diganti gigi baru. Ketika ibu membawa adik bayi ke dalam kamar untuk diganti popoknya yang basah, Thoriq terlihat senang.  Ia langsung bangkit dari tidur dan berbicara dengan adiknya.

“Adik, adik baru pipis ya. Ndak apa ya. Ibu ‘kan sedang mengganti dengan yang baru.”

Sambil mengganti popok adik bayi, ibu memegang jemari adik bayi.

“Ini dia Bang, jari Adik  bayi yang dulu menonjol-nonjol di perut ibu.”

Saat hamil dulu, Thoriq dan Rifa sering mengelus-elus perut ibunya supaya adik bayi di dalam perut bergerak dan menonjolkan anggota badannya.

“Kak Rifa waktu masih dalam perut ibu juga begitu. Abang dulu juga, sering menonjol kaki dan tangannya,” kata ayah.

“Ayah waktu masih di perut Nenek dulu juga begitu,” kata Thoriq.

Ayah hanya menjawab, “He ’eh.” ***

Itu Namanya Batuk

Yogyakarta,  24 November 2007. Hari itu, petang baru menjelang. Rifa, Thoriq, abangnya dan ayah sedang duduk-duduk di ruang tengah. Sedangkan ibu sedang berbaring di dalam kamar. Maklum, selain karena sedang hamil lima bulan, juga sedang pening menghadapi ujian tengah semester di pascasarjana Matematika UGM. Sang ayah pun terlihat tengah duduk-duduk tak bersemangat, macam orang puasa tak berbuka-buka.

Tiba-tiba, ayah terbatuk-batuk dan mendehem keras seperti orang tersedak tulang ikan asin sebesar ibu jari. Setelah mendehem beberapa kali, batuk sang ayah pun reda.

Tiba-tiba Rifa yang duduk tak jauh dari ayahnya bertanya.

“Ayah mengapa, Yah,” dengan nada cemas. Ia memang suka cemas dan penghiba bila melihat sesuatu yang merisaukan hatinya.

“Ayah sakit Nak,” kata sang Ayah dengan suara pelan dan ekspresi seperti ayam jago baru selesai bertarung tiga jam tak berhenti-henti lalu direndam dalam bak air dingin.

Jawaban itu ternyata tidak tepat seperti yang diinginkan Rifa. Sebab, katanya, “Itu bukan sakit namanya, itu batuk namanya. Ayah nih,” kata Rifa dengan ekspresi lugunya. Artinya, kalau ditanya ‘a’, jangan jawab dengan ‘b’. ***

  Tidur Sembarangan

Sekolah Thoriq dan Rifa mengadakan kegiatan penyembelihan hewan qurban. Harinya memang berbeda, sekolah Rifa hari Sabtu, sedangkan sekolah Toriq, sehari setelahnya. Pada hari itu, anak-anak kelas B mengadakan kegiatan latihan manasik haji. Rifa yang baru duduk di kelas Kelompok Bermain, diperbolehkan hadir untuk menonton, tapi tidak untuk ikut serta. Namun, karena sesuatu dan lain hal, terpaksa kegiatan di sekolah Rifa tidak dapat diikuti. Ayah dan ibu hanya bisa melihat kegiatan di sekolah Thoriq pada hari Ahad. Apa lagi ibu ditunjuk menjadi panitia pemotongan hewan qurban.

Thoriq yang sudah duduk di kelas B, juga ikut pelatihan manasik haji. Setelah mengenakan pakaian ihram, ia bersama teman-temannya bersiap-siap untuk mengikuti ritual yang dicontohkan sejak masa Nabi Ibrahim itu. Hanya saja si kecil Rifa, yang selama dua pekan terakhir tidak putus-putus ikut menonton VCD kantun anak tentang ibadah haji bersama Thoriq di rumah, tidak mau melepaskan diri dari tangan abangnya. Ia, walaupun tidak berpakaian seragam putih, ingin turut serta mengikuti kegiatan tersebut hingga tuntas. Jadilah Thoriq menggandeng lengan adiknya kemana saja ia pergi.

Usai pelatihan, diteruskan dengan pemotongan empat ekor kambing. Saat itu, ibu yang sedang mengandung enam bulan tampak semangat membantu membungkus daging yang sudah dipotong-potong. Maklum, namanya tercatat sebagai panitia bagian pengepakan. Sambil bekerja, ia asyik bercerita atau mendengar cerita dengan guru kelas Thoriq. Hanya saja, usai tugasnya dijalankan, saat berdiri ia merasakan pusing dan langsung pingsan. Untung saja ayah ada disampingnya sehingga badan ibu tidak jatuh ke tanah. Setelah dibawa ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS), tak lama berselang ibu siuman dan terheran-heran mengapa ia terbaring di kasur kelas sekolah Thoriq. Saat itu Rifa dan abangnya baru masuk dari bermain di halaman sekolah setelah sebelumnya melihat ibunya dibopong ayah ke dalam ruang UKS. Melihat ibunya berbaring, Rifa langsung berkomentar.

“Makanya, ibu jangan tidur di jalan? Tidurnya ya di sini? Kalau mau tidur ya di kasur, jangan di luar?” katanya dengan lugu.  ***

Salah Buat WC

Biasanya Rifa dijemput dari sekolah setelah jadwal pulang sekolah Thoriq, pukul 13.30 WIB. Sebab sekolah Thoriq lebih jauh. Karena letak sekolah mereka satu arah, akan memudahkan untuk menjemput keduanya dalam sekali jalan. Kecuali hari Kamis, Rifa biasanya pulang sekolah pukul 11.00 WIB. Itu ketentuan sekolahnya. Namun karena sesuatu hal Rifa dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) sekolahnya hingga pukul 13.00 WIB. Seperti pertengahan April kemarin, Rifa dijemput pukul 13.00 WIB dan langsung dibawa ke sekolah Thoriq. Walaupun harus menunggu setengah jam, Rifa biasanya senang-senang saja karena bisa bermain di halaman sekolah abangnya.

Hanya saja sekali ini ia tidak ingin bermain, ia ingin buah seri yang banyak tumbuh di pekarangan masjid Salahuddin, kampus UGM.

“Yah, mau buah seri,” katanya.

Ayah anak inipun menaiki tangga dari TKIT Thoriq menuju pohon buah seri. Hanya sayangnya, saat pohon-pohon yang semakin tinggi dan sulit dijangkau itu ‘dirazia’, tidak ada satupun buah ‘makanan burung’ itu yang terlihat layak dimakan. Selain memang tidak terlihat buahnya yang matang, juga karena sebagian besar buahnya seperti terkena bercak-bercak hitam. Entah apa penyebabnya.

Karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, Rifa kemudian berlari menuju koridor masjid sebelah utara yang tersambung ke tempat wudhu’. Setelah berlarian ke sana ke mari, plus permintaan untuk melihat maket masjid, Rifa minta berwudu’. Setelah melepas sepatu, ayahnya meletakkannya di dalam locker khusus sepatu sendal.

“Mengapa dimasukkan sini, Yah?”

“Iya, supaya nanti mengambilnya mudah.”

“Sini Kak Rifa yang mengunci, Yah.”

“Keras, Nak. Sepertinya rusak.”       

“Sini, Kak Rifa coba.”

Setelah berupaya sedikit keras, akhirnya kunci kotak kasut itu mau menempati posisinya.

Kok banyak yang tidak pakai kunci, Yah?” tanya Rifa melihat kotak-kotak yang bertanggalan kuncinya itu.

“Diperbaiki,” kata Ayah singkat sambil bergerak menuju ke tempat wudhu.

“Kak Rifa mau pipis?”

“Tidak.”

“Pipis dulu, yuk.”

“Kak Rifa mau berwudhu aja.”

Setelah keduanya selesai berwudhu, Rifa berkata.

“Kak Rifa mau pipis, Yah.”

“Tadi katanya tidak mau pipis.”

“Sekarang mau.”

Terpaksalah Rifa ikut ngantri di depan kamar kecil bersama pria dewasa lain, namun matanya tertuju pada tempat kencing berdiri yang terbuka di sayap kanan WC berpintu.  

Kok, tempat itu terbuka, Yah?”

“Iya, tukangnya salah buat,” jawab ayah.

Tiba-tiba datang seorang lelaki gagah berpakaian necis yang langsung menuju ke tempat kencing berdiri itu. Lalu ia menyelesaikan hajatnya sambil berdiri.

“Mengapa pipisnya berdiri, Yah. Mestinya ‘kan malu kelihatan. Berdiri lagi,” kata Rifa yang belum juga masuk ke WC walau sudah gilirannya.

Kok bikinnya kayak gini, sih, Yah? Salah buat orangnya ni. Mestinya ‘kan ditutup supaya ndak malu,” kata Rifa usai membuang hajat, tapi matanya kembali mengarah ke tempat kencing berdiri yang tadi dihampiri seorang lelaki dewasa. Usai berwudhu lagi, Rifa pulang. ***

 

 Shalat Zuhur Dua Rakaat

Kalender masehi belum lama diganti yang baru. Bau kembang api dan dan ledakan mercun terbang masih terasa menyisakan pekak di telinga dan debaran kencang di jantung. Hingar bingar musik menyambut pergantian tahun pun masih mendesing di gendang telinga hingga larut malam hampir berganti subuh. Sementara pemberitaan di radio, tv dan koran masih seputar pesta pora dan hura-hura anak muda bahkan orang tua malam harinya. Siang pertama 2008 belum lagi lewat karena Yogyakarta masih bermandikan pancaran cahaya matahari.

Seperti biasa, Rifa yang siang itu ditemani Ifat mendengar azan Zuhur, ia segera menuju ke keran air yang ada di depan rumah kontrakan. Biasanya ia berwudhu di kamar mandi. Ia memang suka berlama-lama bemain dengan air. Apa lagi bila mandi menggunakan air hangat, ia biasanya minta berendam dalam baskom. Jika berwudu, sebenarnya ia lebih banyak bermain-main dengan air daripada berwudhu itu sendiri. Hanya saja kali ini ia seperti begitu tunak menyempurnakan rukun wudhunya. Berkumur-kumur, membasuh hidung, dan membasuh semua anggota wudhu. Biasanya pakaian Rifa selalu basah bisa berwudhu lama, tapi kali ini tidak seperti biasa. Sambil menarik tangan Ifat, Rifa berkata,

“Sekarang sudah azan lho. Ayo shalat.”

Ifat yang rencananya datang hanya untuk bermain boneka bersama Rifa hanya mengekor tanpa banyak komentar. Lalu Rifa bediri di depan jadi imam, Ifat di belakang jadi makmum. Mereka shalat Zuhur dua rakaat saja. ***

 

 Pura-pura Shalat

Pekanbaru,  November 2005. Mungkin pertengahan atau penghujung November. Yang jelas kejadian ini berlangsung pada waktu Dhuha, saat ayah dan ibu Rifa tidak di rumah. Ayahnya sedang sekolah ke Yogyakarta, sedangkan ibunya tengah mengajar di UIN. Rifa dijaga neneknya. Atuk Rifa ke rumah cucunya yang lain di kawasan Arengka. Seperti biasa, setelah menyelesaikan berbagai perkerjaan rumah tangga, nenek pergi berwudhu untuk shalat Dhuha. Sang cucupun tak mau ketinggalan, ikut berwudu bersama neneknya. Saat shalat dimulai, Rifa terlihat khusu’ berdiri di samping neneknya. Tangannya pun bersedekap setelah mengangkat takbir. Tapi ketika neneknya tengah sujud dan duduk di antara dua sujud, Rifa segera bergayut di punggung neneknya. Begitu pula hal yang sama terjadi di rakaat kedua. Ia suka sekali bermain-main dan berayun-ayun di punggung neneknya. Entah kenapa, seperti tahu pula shalat segera berakhir, Rifa segera turun dari punggung neneknya mengikuti posisi tahiyat akhir, duduk rapi persis di sebelah neneknya hingga salam dan shalat Dhuha selesai. Rifapun merasa tak melakukan apa-apa kecuali ikut shalat bersama neneknya. Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad SAW dulunya juga berbuat hal yang sama. Jadi tak apa ‘kan memanjat punggung saat nenek sedang mengerjakan shalat?  ***

 

 Dilarang Shalat ke Masjid

Hari ini Rifa sangat aktif. Hari biasanya ia memang lebih aktif daripada abangnya. Dengan temannya ia keluar masuk rumah. Melompat-lompat di kasur kamar, mengacak-acak mainan yang sudah disusun ibu. Berlari lagi keluar masuk rumah, tapi sulit diajak makan. Pada saat ia membuka pintu untuk keluar, kaki abangnya terjepit. Akhirnya ia kena ‘semprit’. Apa lagi sebelumnya ia beberapa kali diminta untuk berhenti istirahat sebentar, tapi ia tidak mau mendengarkan. Akhirnya ia dihukum tidak dibawa shalat berjamaah ke masjid, tempat teman-temannya juga biasa shalat. Abangnya juga dihukum karena ‘memukul’ adiknya yang mengakibatkan kakinya terjepit pintu. Tapi keduanya protes.

“Mengapa tidak boleh ikut?”

“Karena tadi tidak mau mendengar kata ibu,” ayah beralasan.

Mereka berdua terus mencari alasan agar hukuman dicabut dan dapat ke masjid bersama ayah.

“Kalau tidak mau nurut, ya di luar rumah saja,” tegas ibu.

Keduanya lalu terdiam. Biasanya, pada masa-masa tertentu bila mereka agak sulit diarahkan, ketika sampai di masjid, keduanya akan bermain-main bersama teman-temannya pada saat shalat di masjid. Akibatnya mengganggu ketenteraman jamaah. Walaupun sudah diingatkan berulang kali tapi temannya juga punya kebiasaan yang sama, jadilah sulit untuk membuat komitmen. Setelah ditinggal, Rifa terlihat masih kesal. Ibu kemudian shalat di kamar sendiri. Pada saat itulah Rifa mengambil sebuah sendok dan menabuh galon air yang kosong sekuat-kuatnya, sambil berkata, “Ibu nakal, ibu nakal, ibu nakal.”

Seakan-akan sendok yang dipukul mendengar perkataannya, lalu dengan suara lain Rifa berkata, “Iya, Ibu nakal. Iya, iya.”

Selesai shalat, ibunya yang mendengar ‘protes’ Rifa kemudian mendatanginya, memeluk, dan meminta maaf. Lalu selesailah ‘sengketa’ keduanya dengan perdamaian. ***

 

 Rumah Allah

“Bu, Allah itu di mana?” tanya Thoriq yang baru pulang dari sekolah B&B, sekolah pertamanya saat masih di Pekanbaru. Ibunya yang juga letih karena baru pulang mengajar tidak siap dengan pertanyaan seperti itu, akhirnya menjawab sekenanya.

“Ya, dimana-mana, Nak. Ada di rumah, di sekolah. Sembunyipun kita, Allah ada.”

Thoriq diam. Mungkin jawaban ibu berbeda dengan yang didapatnya di sekolah. Lalu ia bertanya lagi.

“Allah itu sebesar apa, Bu?”

“Ya, besar.”

“Maksud Abang, sebesar rumah, sebesar gunung, atau sebesar apa?”

Akhirnya ibu takut salah memberi jawab. “Ibu tidak tahu, Nak. Tanya saja ke Ayah.”

Kejadian serupa juga terjadi di Yogyakarta. Pagi Sabtu, pekan pertama di bulan April 2008. Thoriq dan Rifa sedang duduk-duduk berdua di depan meja lap top. Mereka baru saja mandi, walau sudah lama bangun. Ayah baru saja pulang dari pasar. Sendiri ia mencari jagung manis untuk dibuatkan bubur pagi itu. Di depan mereka, layar monitor menampakkan sejumlah game yang akan mereka pilih. Sembari memilah-milah apa yang ingin mereka mainkan, Rifa yang harus berbagi tempat duduk dengan abangnya tiba-tiba bertanya.

“Bang, Ka’bah itu rumah Allah ya Bang?”

“Ia, Kak. Ka’bah itu rumah Allah.”

Thoriq menyebut kakak kepada adiknya. Pasalnya, Rifa protes bila dipanggil adik. Karena sudah punya adik bayi, jadi harus panggil kakak. Begitu alasannya.

“Tapi, Allahnya di mana ya, Bang?” tanya Rifa lagi.

Nngg…, nnggg, ya di langitlah, Kak!” jawab Thoriq ragu-ragu.

“Tapi, di Ka’bah juga,” katanya cepat menyempurnakan jawabannya. Sebab, logika dia, siapa yang punya rumah, tentu tinggal di rumahnya itu.

“Iya po,” ungkap Rifa mempertanyakan keraguan abangnya.

“Iya!” tegas Thoriq.

Keduanya lalu melanjutkan permainan mereka. Namun mata Rifa melihat wajah abangnya, seperti tidak terlalu yakin dengan jawaban sang abang.

Siangnya, Thoriq shalat zuhur ke masjid, sementara Rifa di rumah. Namun karena abangnya langsung bermain dengan teman-temannya di masjid, Rifa merasa kesepian tidak ada teman. Lagi pula hujan saat itu mengucur deras.

“Abang kok tinggalin Kak Rifa, Yah?”  tanya Rifa.

“Abang nakal!” katanya lagi dengan sedih.

“Kak Rifa ‘kan tadi main dengan Ifat,” kata ayahnya.

“Kita  jemput Abang, Yah,” katanya lagi.

Karena memang sudah lama bermain, Thoriq akhirnya dijemput pulang menggunakan sepeda motor. Di jalan, Rifa yang duduk di depan, melihat seseorang yang seperti dikenalnya. Lalu, dia teriak keras.

“Mbak Syifaa…, mana Yah…?” tanya Rifa, sembari membuang muka. Malu.

Rupanya, orang yang ditegurnya Mbak Sifa itu orang lain. Saat orang itu melihatnya, Rifa segera membuang muka dan melanjutkan pertanyaan ‘Mbak Syifa mana’ kepada ayahnya, hingga sampai di rumah.  ***

Belum Berdo’a, Ya Belum Tidur

Matahari sudah sedari tadi meninggalkan garis edar siang. Sementara lampu-lampu penerang dari setrum listrik di rumah dan tempat-tempat manusia beraktivitas mencoba melawan kegelapan malam yang sudah lama menyelimuti bumi. Sejuk terasa  malam itu. Angka di telepon saku sudah menunjukkan pukul 23.09 WIB. Di luar rumah, gerimis panjang baru saja berhenti. Rifa dan Thoriq masih saja bermain. Asyik sekali meluncurkan hot wheels, miniatur mobil dari papan penampang puzzle yang jumlahnya sudah banyak berkurang. Hot wheels pemberian neneknya itu dikirim dari Pekanbaru.

“Tidur lagi Nak. Sudah jam sebelas lewat. Besok sekolah ’kan?” kata ayah.

“Ya, Yah,” kata Thoriq.

 “Ya, Yah,” sambung Rifa.

Usai cuci tangan, kaki dan gosok gigi, mereka berdua masuk kamar.

Tapi, malam ini mereka sulit tidur. Pasalnya, siang tadi, sepulang dari sekolah, setelah bersalin pakaian dan bermain sebentar mereka langsung tidur hingga menjelang azan maghrib tiba. Tidak heran mereka baru ke kamar tidur hampir tengah malam.

Setelah mengambil posisi masing-masing dan berbaring, mereka minta dibacakan cerita untuk pengantar tidur. 

“Cerita si kancil,” minta Thoriq.

“Adek ndak mau cerita kancil. Cerita kera yang pintar aja,” katanya menawar.

“Iya. Tapi baca do’a dulu,” sambung ayah.

Bismika Allahumma ahya wabismika amut,” baca keduanya.

“Ayo picing mata,” perintah ayah.

Sementara Thoriq segera memicingkan mata, Rifa malah bertanya.

Ngapa picing mata Yah?”

“Kalau sudah baca doa, ya picingkan mata. Bobok lagi,” jawab ayah. “Adek tadi sudah baca do’a ’kan?”

“Adek belum baca do’a,” sambung Rifa cepat. Lalu sambil membuka mata lebar-lebar ia mengambil boneka di sebelahnya untuk dimainkan. Puas bermain, baru ia pulas.***

Bangun, Shalat ke Masjid

16 November 2007. Yah, dah azan Yah,” kata Thoriq. Ayahnya masih tidur saat azan Ashar berkumandang. Thoriq dan Rifa masih bermain dengan tumpukan buku, mobil-mobilan, boneka, puzzle (bongkar pasang), dan alat gambarnya. Ayahnya belum lama tertidur. Katanya keletihan pulang dari kampus dan menjemput anak. Jadi belum berapa menit tertidur. Dalam kondisi sangat lelah, memang sedap bila dibawa tidur, tapi sungguh berat dan membuat emosi bila mata baru terpejam, ada yang menjagakan.

“Yah, sudah qomat. Katanya Ayah mau shalat ke masjid!” kata Thoriq lagi.

Sepertinya Thoriq ingin mengatakan, bila waktu shalat sudah dekat, jangan bawa tidur, siap-siap saja berangkat ke masjid. ***

 

Yes, Akhwat Menang!

Rifa bangun setelah subuh menjelang pagi. Malam sebelumnya ia memang tidur cepat. Sedangkan Thoriq sebaliknya, tidurnya hampir larut malam. Kebiasaan ini selalu dijalaninya bila keesokan hari tidak sekolah atau libur. Sementara, ayahnya baru tidur kembali karena sakit perut. Thoriq juga belum bangun. Saat hanya menemui ibunya yang tengah membereskan permainan Thoriq yang masih berantakan, Rifa bangun dan bertanya. 

“Ayah mana, Bu?” tanya Rifa.

Sebelum dijawab, ia menemukan ayahnya yang masih terbaring di kasur, sembari memegang perut.

Kok, Ayah masih tidur sih?” tanya Rifa.

“Setelah shalat, Ayah tidur lagi. Ayah sakit perut,” kata ibu.

“Yes, yang akhwat sudah bangun, yang ikhwan belum,” kata Rifa senang seperti memenangkan suatu pertandingan shalat Subuh. ***

Berjilbab karena Cucu

Pekanbaru, awal Januari 2004. Nenek Thoriq baru datang dari Rengat, sebuah kecil di sebelah timur Pekanbaru yang dapat ditempuh berkendaraan selama 5 (lima) jam perjalanan melewati jalan Lintas Timur. Kota bahari yang terbelah oleh Sungai Indragiri ini terkenal dengan ‘Pertempuran 5 Januari 1949’ melawan imperialisme Belanda dalam agresi keduanya. Dalam pertempuran itu banyak korban jiwa gugur sebagai syuhada di pihak Indonesia, seorang diantaranya adalah Tulus, yang pernah menjabat sebagai kepala daerah atau bupati (rakyat Riau lebih akrab memanggilnya Bupati Tulus), ayah pujangga Nusantara, Chairil Anwar.

Karena sudah sangat rindu pada cucunya, hampir tiap saat Thoriq yang usianya belum cukup 2 tahun itu, selalu bersama neneknya. Suatu pagi, Nenek Rengat – begitu Thoriq menyebutnya – ingin belanja makanan ke kedai dekat sebelah rumah. Saat itu Nenek Rengat baru mengenakan kerudung bila berjalan jauh. Tidak dipakai bila hanya ke sebelah rumah atau ke seberang jalan.

“Ma, pakai jilbablah keluar tu,” kata anaknya – ibu Thoriq.

“Ah, keluar sebentar dekat ni saja,” kata ibunya.

“Nanti dilihat orang, malu,” kata anaknya lagi.

Ndak ‘kan dilihat orang do,” bantah ibunya.

 “Banyak orang tu,” kata anaknya melongok ke luar.

Nenek Rengat tak acuh sembari berlalu dari hadapan anaknya.

Petang harinya, Nenek Rengat ingin mengajak cucunya berjalan-jalan ke luar rumah.

Saat hendak melangkah ke luar rumah, cucu yang sudah dalam gendongan berkata, ”Nek, pakai jilbab Nek.”

“Dekat ini saja,” kata neneknya.

“Nenek jelek kalau ndak pakai jilbab,” kata Thoriq.

“A.. iyalah,” kata Nenek Rengat sambil tersenyum masam kembali ke kamar menyambar sebuah jilbab yang terletak di atas tempat tidur.

“Jangan jilbab itu Nek, yang ini saja,” kata Thoriq memilih.

“Yang ini saja,” suaranya sedikit meninggi saat jilbab pilihannya diabaikan nenek.

“Heh …mmmm,” gerutu neneknya sambil tertawa dan mengambil jilbab usulan cucunya itu. Thoriqpun senang.

Di luar kamar, ibu Thoriq menyindir, “Iyalah, kalau anaknya yang beri tahu, tak mau. Tapi kalau cucunya, langsung ngikut.”

“Ha..ha..ha..,” tawa Nenek Rengat.

Sejak itulah, Nenek Rengat tak melepaskan jilbabnya bila ke luar rumah. Terkadang, untuk menyadarkan seseorang, bila tidak bisa masuk lewat orang dewasa, perlu ’diwakilkan’ kepada anak kecil. ***

Mendo’akan Ibu Teman

Yogyakarta, 5 Desember 2007. Ibu Thoriq sedang konsentrasi dengan tugas kuliahnya. Thoriq dan Rifa sibuk dengan kertas dan penanya masing-masing. Kadang-kadang permisi untuk meminjam kotak pensil ibu yang berisi macam-macam alat tulis yang mereka senangi. Banyak warnanya. Thoriq menggambar mobil dan kereta api, sedang Rifa lagi konsentrasi belajar menuliskan angka 3 yang selalu saja dia buat seperti angka empat huruf Arab. Sementara ayah tengah sibuk dengan bacaan korannya di kamar.

Tiba-tiba dalam suasana yang senyap itu Thoriq berkata, “Bu, kita do’akan ibu teman-teman Bang Thoriq pakai jilbab ya. Ibunya Daffa, Mama Ardhi, Mamanya Ophal.”

Lho, ‘kan ibu mereka pakai semua nak?” tanya ibunya yang beberapa kali berjumpa orang tua yang disebut Thoriq tadi di sekolahnya.

“Tidak Bu. Mereka pakai sebentar saja, terus langsung dibuka,” kata Thoriq memberi penjelasan. 

“Abang tahu dari mana?”

“Teman-teman itu yang cerita sendiri,” jelas Thoriq.

Walaupun sudah dewasa, tidak semua Muslimah tahu kewajibannya untuk menutup aurat. Do’akanlah supaya Allah memberinya hidayah dan mau berjilbab. Bagi yang sudah memakai agar selalu istiqomah dengan makna yang terkandung dari pakaiannya itu. ***

 

Tutup Auratnya Tante!

Yogyakarta, awal Januari 2007. Pagi hari itu, Rifa bermain di luar rumah yang belum berapa lama kami kontrak. Rumah kami berhadapan dengan sebuah kost mahasiswi. Dia belum lagi disekolahkan karena waktu itu masih ada bibik (adek angkat ibu Thoriq) yang menjaganya di rumah. Kini, ‘bibiknya’ yang sengaja dibawa dari Pekanbaru untuk menjaganya sudah pulang ke Sumatera setelah melanggar janjinya sendiri – semula ia berkomitmen untuk tidak pulang selama tugas belajar Ibu Rifa selesai, tapi tidak dijalankannya.

Mungkin karena di rumah kami tidak ada tv, seperti rumah tumpangan kami yang pertama di kawasan Godean. Rumah teman ibu Rifa tepatnya di Desa Sidoarum ini kami tempati lengkap dengan segala peralatannya. Mulai dari peralatan dapur, hingga kasur, kursi juga tivi. Hanya saja tiap menonton film, Rifa dan Thoriq sering didampingi. Sebab, seringkali dalam acara anak-anak muncul iklan orang dewasa dengan pakaian tidak seronok. Bila ada yang seperti itu, maka ayah atau ibu biasanya segera memberikan komentar, “Ih, tak malu orang itu. Nampak auratnya.”

Begitu selalu bila mereka menonton tv, hingga akhirnya mereka sendiri yang memberi komentar. Hari itu,  seperti biasa, banyak  mahasiswi yang harus keluar rumah pagi-pagi untuk mengejar jadwal kuliah. Kebetulan halaman depan rumah kontrakan kami dijadikan tempat parkir sepeda motor mahasiswi yang kost di gedung depan rumah kontrakan kami. Kost Wafid namanya. Pemiliknya sama dengan pemilik rumah yang kami kontrak. Bangunan tiga lantai ini dihuni oleh beragam karakter mahasiswi, karena memang berasal dari berbagia daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Indonesia bagian timur. Beberapa mahasiswi yang keluar itu disapa Rifa. Banyak pula dari mereka yang diam seribu bahasa saat disapa. Bila itu yang terjadi, Rifa biasanya protes ke ayah.

Kok, Tante itu diam saja, Yah?”

“Ia, mungkin dia tidak dengar.”

“Dengar, kok. ‘Kan Adek (saat itu belum dipanggil kakak) sudah teriak keras-keras.”

“Atau mungkin tantenya tidak melihat.”

Wo…, Tantenya ndak mau lihat!” katanya kesal.

Di lain waktu, ada pula dari mereka yang mau disapa.

 “Tanteee…” katanya tanpa peduli apakah sang tante kenal atau tidak.

“Apaaaa… Adek sedang mengapa?” balas sang mahasiswi. 

“Sedang makan.  Tante mau kemana?” tanya Rifa lagi.

“Mau ke kampus,” jawab si mahasiswi.

“Tante kok ndak pakai jilbab? ‘Kan nampak auratnya? Malulah. Udah besar kok nampak auratnya,’’ kata Rifa tanpa rem sedikitpun. Bibik Rifa segera bersembunyi di rumah, takut dituduh dia yang mengajari. Sedangkan si mahasiswi terdiam sambil tersenyum masam. Ia segera berlalu setelah mesin motornya dipanaskan tergesa-gesa.

Di lain waktu, Rifa bangun subuh. Kebiasaan yang sulit jika ia tidur larut malam. Tapi subuh itu ia mengajak ayahnya ‘maraton’ keliling rumah. Setelah lelah berjalan, Rifa bermain sendiri di depan rumah halaman kost putri. Kebetulan pagi itu seorang mahasiswi yang berasal dari Indonesia bagian timur non Muslim keluar rumah kost dan terlihat menenteng sebuah tas kecil.

“Tante?” tegur Rifa.

“Iya. Adek mau ke mana?” sahut  sang mahasiswi.

“Main,” jawabnya singkat.

“Tante mau ke mana?” sambung Rifa lagi.

“Mau ke luar.”

“Keluar kok ndak pakai jilbab sih. Besok kalau keluar rumah pakai jilbab dong. ’Kan malu,” katanya.

Perempuan yang ditegur tante tadi diam dan segera masuk ke dalam kosnya. Ia baru keluar setelah Rifa masuk ke rumah. Keesokan harinya, teman ibu yang berasal dari Papua (Monokwari asli) datang bertamu. Belajar bersama sebenarnya. Setelah beberapa lama berdiskusi, Rifa yang baru keluar dari kamar mungkin masih teringat dengan kejadian hari kemarin. Diapun bertanya.

“Tante, Tante. Tante kok nggak pakai jilbab?”

Tante Rina, begitu nama teman ibu, bingung untuk menjawab apa.

“Iya, nanti kalau tante pakai jilbab, nanti orang tidak kenal sama tante,” katanya.

Kok nggak kenal?” tanya Rifa lagi.

“Iyaa…’kan kalau pakai jilbab, nanti rambut keriting tante nggak kelihatan.”

“Malu dong Tante,” Rifa belum berhenti berceloteh.

Tante Rina hanya diam, lalu mendekat ke ibu. Sambil berbisik ia berkata.

“Bagaimana ya menjelaskan ke dia?”

“Yang bisa kita jawab saja.”

Keduanya lalu tersenyum-senyum. Mungkin dalam fikiran Rifa, kalau sudah menjadi tante-tante, ya tutup aurat. Anak sekolah taman bermain saja pakai jilbab. ***

 

 

Jilbab Boneka

Rifa baru saja dibelikan boneka oleh neneknya dan dikirim ke Yogyakarta langsung dari Pekanbaru. Dia sangat senang, karena beberapa kawannya di sini sering cerita tentang boneka ini, tapi tidak pernah ada yang memilikinya. Dia yang tidak pernah bermain boneka itu kini malah punya satu boneka, lengkap dengan permainan alat kecantikan, tas dorong beroda yang bisa dibuka tutup, serta dua stel pakaian boneka yang dapat ditukar ganti. Hanya saja barbienya itu tidak ada yang berpakaian sempurna. Bagian lengan tangannya putus, sementara rok si boneka tanggung jauh di atas lutut. Dia sering membolak balik, hingga suatu kali bertanya.

“Yah, bonekanya kok ndak pakai celana?” tanya Rifa.

Setelah dijelaskan bahwa celana boneka sudah langsung dipakai dan tidak bisa dibongkar pasang, dia bertanya lagi.

“Mengapa bonekanya ndak pakai jilbab?” 

“Sewaktu belinya memang tidak ada. Kalau yang pakai jilbab, bukan boneka ini, tapi boneka yang namanya Ula,” kata Thoriq yang melihat kegusaran adiknya.

“Pakaikan jilbab, Yah. Nanti malu terlihat orang,” katanya lagi

“Iya, nanti Ayah carikan. Tapi kalau ada ya?”

“Iya, insya Allah ya, Yah?”

“Ya, insya Allah.”  ***

Boleh Lihat Auratnya?

“Bu, Bang Thoriq boleh lihat aurat ibu?” tanya Thoriq tiba-tiba saat ia melihat ibunya akan bersalin pakaian sepulang dari kampus.

“Tidak boleh, Nak,” jawab ibu yang segera menuju kamar peraduan.

“Mengapa?” tanya Thoriq yang ’mengekor’ di belakang.

“’Kan ibu malu,” jawabnya sembari mengambil beberapa potong pakaian.

“Kalau dulu, kok Bang Thoriq bisa lihat aurat ibu?” tanya Thoriq lagi.

“Iya, Thoriq ‘kan anak ibu dan dulu ‘kan masih kecil,” jawab ibunya yang mulai kewalahan mencari jawaban.

“Kalau Thoriq sudah besar, Thoriq boleh melihat aurat ibu?” Thoriq bertanya kembali.

“Tidak juga,” jawab ibu singkat.

“Kalau Ayah, boleh lihat aurat Ibu?” Thoriq terus bertanya.

Sambil memegang kening, ibunya yang tak juga sempat bersalin pakaian menjawab, ”Tidak!”

“Kalau Bang Thoriq melihat aurat Adek? Boleh Bu?” tak juga puas-puas Thoriq bertanya.

Ia merujuk pada saat mandi, terutama saat akan berangkat ke sekolah dan mandi di petang hari. Oleh ayah, mereka biasanya dimandikan bersama untuk mengevektifkan waktu dan mempercepat berangkat ke sekolah.

“Ya, boleh,” ibunya menjawab.

“Kenapa?”

“Sebab Adek ‘kan masih kecil. Tapi harus belajar untuk tidak melihat. ‘Kan malu,” kata ibunya lagi.

”Kalau sudah besar?” Thoriq masih penasaran dan terus saja melemparkan pertanyaan.

“Ya, tidak boleh!” jawab ibu dengan suara mulai meninggi.

“Kenapa?” Thoriq masih saja penasaran.

“Malu! Dah, keluar dulu. Ibu mau ganti pakaian!”  ***

Di Toko Jilbab

Hari Sabtu, Rifa dan Thoriq libur sekolah. Thoriq bermain ke rumah temannya. Rifa ikut ibu ke toko kerudung, diantar ayah. Sampai di toko, ibu sibuk membolak-balik berbagai jenis jilbab. Sesekali mematut-matut diri di depan cermin setelah merasa berminat dengan kerudung pilihannya. Mungkin karena merasa tidak puas, jilbab itu dikembalikan ke tempat semula, dan pencarian jilbab baru kembali dimulai. Ayah yang tadinya hanya duduk sambil membaca majalah yang dibawanya, kini terlihat sibuk pula membolak-balik pakaian penutup aurat bagian atas perempuan itu. Setelah lama, ibu memutuskan untuk menebus tiga helai jilbab ke kasir. Ayah pun mengeluarkan dompet untuk membayar. Tetapi Rifa segera protes.

“Yaa…, untuk Adek ndak ada. Ibu beli jilbab, Adek kok ndak dibeliin sih?” katanya..

Belum selesai dijawab ibunya, dia segera menyambung, “Itu, tu. Ada tu yang kecil, yang panjang seperti jilbab punya Ibu, ya?” katanya meminta. Mendengar itu, pemilik gerai jilbab dan sejumlah pengunjung pun tertawa.

“Ya, insya Allah. Tapi tidak sekaranga ya?” kata ibu tahu ayah hanya membawa uang dalam jumlah terbatas.

“Iya, tapi kapan-kapan, insya Allah belikan ya?” dia berharap lagi.

“Iya,” ibu berjanji.

Sebulan kemudian ibunya membelikan Rifa dua helai jilbab panjang baru di gerai tersebut sesuai dengan pilihannya sendiri. Persoalannya, beberapa bulan setelah memakai jilbab baru, Rifa lebih banyak melihat orang menanggalkan jilbab daripada mengenakannya. Hingga suatu pagi di hari libur sekolah, usai mandi, sarapan, dan mengenakan pakaian, Rifa berlari keluar rumah tanpa mau mengenakan penutup aurat bagian rambutnya itu.

“Rifa! Kenakan jilbabnya!” teriak ibu..

Rifa yang sudah sampai di jalan depan rumah, pulang kembali dengan jalan gontai.

“Jilbabnya ’kan belum dipakai,” kata ibu lagi.

Nggg.., soalnya Kak Rifa lihat banyak orang yang ndak pakai jilbab di luar rumah.”

“Eh, innanuhina anturo aurotuna, lho,” kata ibu mengingatkan hadis yang dulunya sering dibaca Rifa sepulang sekolah. Hadis shahih ini artinya lebih kurang: sesungguhnya kita dilarang menampakkan aurat kita.

“Malu ya, Bu?” tanya Rifa.

“Iya,” sahut ibunya.

Akhirnya ia mau berjilbab, walaupun sering juga melepaskannya. ***

 

 

Cuma Pakai Singlet

Penghujung akhir tahun 2007, lalu Thoriq, Rifa, dan ayah mengunjungi pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Olah Raga Universitas Negeri Yogyakarta (GOR UNY).  Sembari melihat-lihat buku yang dipamerkan, ketiganya mendengar musik yang begitu nyaring dari arah pentas. Lalu terdengar seorang anak melantunkan lagu anak dengan irama gembira. Tiba-tiba Rifa melepaskan pegangan tangan ayah dan berlari menuju arah suara musik. Di pentas, terlihat sejumlah anak menunjukkan kebolehannya dalam atraksi seni, baik tarik suara, peragaan busana, atau menari. lainnya. Mereka tampil satu persatu.

“Abang, coba lihat Adik, jangan sampai pergi jauh,” kata  ayah sambil memperhatikan Rifa dari counter pameran. Thoriq segera menyusul adiknya.

Setelah membayar beberapa buku termasuk buku untuk anak., ayah kemudian menemani kedua abang adik itu menyaksikan pertunjukan seni, walaupun tidak tuntas.

Di rumah Thoriq mulai berkomentar.

“Mengapa anak-anak yang menyanyi tadi bajunya bagus-bagus, Yah?”

“Iya, mereka ‘kan lomba menyanyi.”

Lalu ayahnya memancing, “Bagus-bagus tapi tidak ada yang pakai jilbab ’kan?

“Iya, Yah. Malah ada yang cuma pakai singlet. Padahal lagunya bagus-bagus, Yah.”

Kok anaknya ndak mau pakai, Yah? Padahal anak-anak itu ibunya tadi ada yang pakai jilbab. Mungkin ibunya lupa ya Yah? Atau anaknya yang lupa,” sambung Thoriq.

“Mungkin dua-duanya, Nak,” jawab ayah. ***

Uang untuk Pengemis

Yogyakarta, 28 November 2007. Hari Senin hingga Jumat adalah hari sekolah Rifa dan Thoriq. Walaupun jadwal masuknya bersamaan, namun jadwal pulang sekolahnya ada selisih setengah jam. Rifa bubar sekolah pukul 13.00 WIB, sedangkan Thoriq 13.30 WIB.  Jarak sekolah Rifa juga lebih dekat ke rumah, hanya sekitar 0,5 kilo meter. Sedangkan sekolah Thoriq jaraknya lebih kurang 1.500 meter.  Agar lebih efisien dan juga karena di rumah tidak ada orang yang menjaga, makanya mereka berdua dijemput hampir bersamaan. Agar tidak bolak-balik, biasanya yang dijemput duluan Thoriq, baru Rifa. Tidak masalah karena ada toleransi dari sekolah bila terlambat menjemput Rifa setengah jam dari usai sekolah. Cara seperti ini lebih menghemat waktu dan tidak mengakibatkan Rifa letih di jalan. Sebab, beberapa kali Rifa tertidur di kendaraan saat perjalanan pulang.

Tapi ada kalanya Rifa terpaksa dijemput terlebih dahulu dengan resiko Rifa menunggu di sekolah abangnya sampai usai sekolah. Biasa bila ini yang terjadi, ayah Rifa akan mengalihkan perjalanan melewati sekolah Thoriq menuju perempatan lampu merah, sekitar 150 meter dari sekolah Thoriq. Biasanya di sana ada penjual koran nasional dengan banderol lokal. Harga pagi 3.000-an, dijual siang seharga Rp1.000. Murah meriah. Tidak heran tradisi penyebaran informasi secara luas bagi warga Yogya menjadi lebih mudah. Media yang murah memang menjadi sarana penting untuk menjejalkan idiologi dan juga kepentingan politik tertentu.

Siang itu, Rifa dijemput duluan. Dengan sepeda motor kedua ayah dan anak meluncur ke perempatan, tapi tak ada penjual koran yang ditemui. Hanya ada seorang pengemis yang biasa ’ngepos’ di sana. Biasanya, bila ada pengemis, ayah Rifa selalu mengupayakan memberi, bagaimanapun kecilnya. Namun siang itu, lampu merah sebentar lagi akan berganti posisi dengan warna hijau. Tidak ada cukup waktu untuk merogoh kantong dalam kondisi seperti itu. Apa lagi pengendara baik mobil maupun sepeda motor di kota ini terkenal mengedara dengan serampangan. Tidak mau disiplin, memacu motor sekencang-kencangnya seperti tiada waktu lagi untuk nanti. Mereka mengendara seakan-akan tak ada pengendara lain di jalanan. Jangan harap pada saat lampu menyala hijau lalu kita berhenti sejenak, lalu mereka yang di belakang kita mau mengerti. Klakson panjang dan membahana yang terdengar. Namun di situ pula celah bagi Rifa untuk mempertanyakan sikap ayahnya yang terus saja melaju, tak mengapikkan si pengemis sama sekali.

“Orang tadi mengapa Yah?” tanya Rifa sembari menoleh ke belakang pada saat motor sudah dipacu melewati zebra cross. Si pengemis itu terlihat seperti luka-luka dan masih dalam kondisi basah. Terlihat dari cairan merah yang ada di permukaan kain pembalut kaki sang pengemis.

“Dia pengemis Nak, orang miskin. Dia ndak punya uang, jadi dia minta-minta di jalan,” jelas ayah.

“Tapi Ayah kok tidak mengasinya uang?” gugat Rifa pada sang ayah.

“Oh…, tadi Ayah tidak bawa dompet,” kata sang ayah berbohong. Padahal ada Rp1.000 untuk beli koran.

“Uang Ayah tinggal?” tanya Rifa lagi.

“Iya,” kata ayahnya berbohong untuk kedua kali.

“Makanya, besok-besok, kalau keluar harus bawa uang untuk pengemis,” tegasnya. Sampai di rumah, pintu masih terbuka. Kebetulan ada seorang pengemis laki-laki paruh baya yang lewat dan berhenti di depan rumah setelah dipanggil Rifa. Tidak ada tanda-tanda lemah tak berdaya pada sang pengemis.

“Ke sini,” katanya melambaikan tangan. Rifa lalu meminta uang ke ibu yang baru saja tiba di rumah. Dia segera menyerahkannya kepada sang pengemis. Setelah itu ia masuk namun mengintip sang pengemis ke luar rumah melalui balik kain gorden.

“Kasihan ya, Bu.”

“Iya,” jawab ibu singkat seperti tak setuju.

“Tapi ‘kan badannya masih kuat, Bu. Mengapa tidak bekerja?”

Lho. Tapi ‘kan, Rifa yang memanggil pengemis itu,” kata ibu. “Emangnya Adek punya uang untuk pengemis itu?”

“Ya.., pakai uang Ibu lah.”

Mungkin, Rifa ingin mengatakan, bila kita kasihan pada orang lain, bantu dia, jangan hanya pandai diucapkan. Atau kalau tidak, diam. ***

Teman dan Buah Seri

Yogyakarta, 3 Desember 2007. Siang itu Rifa baru saja pulang dari kedai mbah, tak jauh dari rumah. Di depan kedai yang bersebelahan dengan penjual lotek dan mobil bak sampah itu, berdiri dua pokok pohon buah seri atau galo. Orang di sini –Yogyakarta -menyebutnya buah talok. Buah yang bila masak berwarna merah dan manis rasanya itu sedang bertengger banyak menghiasi cabang-cabang dahannya yang rapuh, terombang-ambing oleh angin yang berhembus semilir.

“Rifa mau?” tanya ibunya yang melihat mata anaknya tak henti-hentinya melihat buah mungil-mungil sebesar ujung kelingking Rifa dan sedang ranum-ranumnya itu.

“Mau,” jawab Rifa segera saja mengiyakan.

Ibupun lalu meminta kepada mbah pemilik pohon buah seri. Setelah izin didapat dan mengambil secukupnya, dua anak beranak inipun pulang. Rifa yang tengah bergembira karena memperoleh tujuh butir buah seri pulang melangkah dengan riang. Sebuah dimasukkan ke mulutnya. Sisanya dia pegang. Sampai di depan rumah, ibu langsung masuk menuju ke dapur.

Tapi, ops. Rifa tidak langsung pulang ke rumah. Setelah ditanya ibu, rupanya ia ingin bermain. Rifa masih teringat dengan permainannya bersama Ifat, teman bermain tetangga berjarak tiga rumah sebelah kiri. Tanpa berhenti, ia meneruskan perjalanan sendiri ke rumah temannya seusianya itu. Namun, tiba-tiba saja ia berlari kencang meninggalkan rumah Ifat. Padahal ia belum masuk sama sekali.

“Ada apa Nak? Kok pulang sambil berlari?” tanya ibunya.

“Adek ndak mau berteman dulu dengan Ifat. Soalnya nanti buah serinya diminta. Adek ‘kan suka,” kata Rifa dengan ekpresi tidak bersalahnya.

“Nanti kalau buah serinya habis, Adek mau berteman lagi,” katanya tanpa dosa.

Seakan-akan ia ingin mengatakan, bila ada sedikit makanan enak, jangan dibawa ke tempat teman bila tidak ingin berbagi. Habiskanlah di rumah saja. Setelah tidak ada lagi yang ingin diminta oleh orang lain, barulah pergi bermain ke rumah teman.  ***

 

 Menunggu Duit Ayah

Yogyakarta, 4 Desember 2007. Hari sudah menunjukkan pukul 13.45 WIB. Rifa dan Thoriq sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah bersama ayahnya. Di jalan, Rifa bercerita tentang peristiwa baru dari guru dan yang dialami bersama teman-temannya di sekolah. “Yah, kakak kelas Adek yang di kelas Cumi-cumi nakal. Mereka mengambil gayung air Bapak penjual?” kata Rifa tiba-tiba tanpa ujung pangkal.

Rupanya, saat usai sekolah tadi, ada seorang penjual barang pecah belah keliling yang mengangkut barang dagangannya menggunakan kereta anginnya ’Oemar Bakri’. Siang itu sang penjual terlihat menawarkan jualannya kepada guru-guru di TKIT Salman Al-Farisi, Klebengan, Sleman. Pada saat melihat-lihat itulah teman-teman kakak kelas Rifa mendekat dan mengambil barang-barang yang terjangkau mereka dan mempermainkannya. Sementara sang penjual seperti tak berdaya untuk melarang. Terlalu ramai yang ’turut campur’.

“Terus, Adek ikut mengambil?” tanya ayahnya.

“Tidak, Adek cuma liat-liat aja. Kakak-kakak itu kena marah sama Bapak penjual. Kata Bapak itu, kalau ada ayahnya dan ada duitnya baru boleh ngambil barang bapak itu. Kalau ndak ada ayah dan ndak ada duitnya, ya ndak boleh ngambil,” kata Rifa dengan mimik seriusnya.

“Jadi Adek tidak ikut mengambil ’kan?” tanya ayah lagi.

“Adek ndak ikut ambil kok. Adek Cuma tengok-tengok. ’Kan ndak ada Ayah. Kalau ada Ayah dan ada duit, baru boleh ngambil barang Bapak itu. Kalau ndak ada Ayah dan ndak ada duitnya, ya ndak boleh lah…” kata Rifa lagi.

Bagi bapak-bapak yang punya anak di TKIT, jemput anak segera bila tiba waktunya pulang. Jangan biarkan anak-anak ikut ’berbelanja’ dengan guru-gurunya. Nanti kena marah si penjual. ***

 

 Naik Haji  dan Air Zam Zam

Hari Raya Qurban belum lama berlalu. Kebetulan tetangga kami, suami istri yang berjarak dua rumah ke arah barat baru saja pulang menunaikan ibadah rukun Islam kelima, haji. Karena suka dengan keramaian, Thoriq ikut bermain-main tak jauh dari rumah tersebut. Lalu oleh tuan rumah, anak-anak yang bermain itu dipanggil dan diberi beberapa buah qurma plus air Zam Zam. Thoriq senangnya bukan main.

“Thoriq diberi qurma dan air Zam Zam sama Uti Ifat, Bu,” katanya melapor pulang.

Rifa yang mendengar itu lalu meminta air Zam Zam kepada ibunya. Apa lagi ia teringat dengan cerita kartun anak Syamiil yang selalu ditontonnya. Film di VCD itu menceritakan tentang sejarah dan cara perjalanan haji, tempat-tempat yang bersejarah termasuk air Zam Zam. Akan tetapi karena ibunya tak punya, Rifa kesal dan terus merengek minta dibelikan air Zam Zam saat itu juga. Tak lama kemudian terlihat Ifat dan Tama datang ke rumah menawarkan kepada Rifa untuk minum air Zam Zam ke rumahnya. Tawaran ini ditolak Rifa, entah apa alasannya. Berkali-kali Ifat menawarkan, tetap ditolak Rifa. Sementara ia terus mendesak ibunya agar dibelikan air dari mu’jizat Nabi Ismail ini.

Akhirnya, Thoriq punya ide. “Bagaimana kalau Mas Tama saja yang mengambilkan air Zam Zam untuk Kak Rifa,” katanya kepada Tama, teman Thoriq sebelah rumah.

“Tak baik begitu, Nak,” kata ibu.

Tapi Tama yang menyambut ide Thoriq menyambut baik ide tersebut segera berlari ke rumah utinya dan tak lama kemudian kembali sembari membawa tiga sloki air Zam Zam. Ia menyerahkannya kepada ibu dan Rifa. Satu lagi tentu untuk ayah.

“Makasih ya, Mas Tama?” kata Rifa senang. 

Setelah Tama pulang, Rifa berkata.

“Bu, kita ‘kan sudah minum air Zam Zam, berarti kita ke Makkah ya, Bu?”

“Ya, insya Allah.”

“Asyik, kita ke Makkah. Kapan Bu?”

Insya Allah kalau sudah dapat rezeki banyak dan badan sehat ya?”

”Ya.” ***

Mau Dipangku Ibu

Yogyakarta, 4 Desember 2007. Malam sudah larut. Jam di laptop sudah menunjukkan pukul 23.29 WIB. Rifa yang petang hari menjelang magrib baru saja bangun dari tidur siang, sedang bermain game  di depan layar ’mesin ketik’ canggih itu. Rifa bermain didampingi ibunya yang sudah lama mengantuk, tapi tak dapat tidur. Maklum, ibu Rifa sedang mengandung usia lima bulan. Usia kehamilan yang sudah mulai berat, baik berat dalam arti beban yang dibawa secara fisik, juga berat dalam arti psikis. Tidur telentang salah, miring salah, duduk menyandar sudah sesak, tidak tidur malah menyiksa badan. Makan banyak, perut menyesak, tak makan laparnya sudah cekik kedare (sangat lapar sekali). 

Rifa yang tengah memainkan mouse ingin menyandarkan tubuh ke ibunya yang duduk di belakangnya. Tapi yang jadi tempat sandarannya adalah perut buncit ibu yang berisi adeknya.

“Aduh, Nak. Sakit kalau dijadikan sandaran. Bangun dulu Nak,” kata ibu Rifa sambil meringis menahan di perut yang tiba-tiba datang menyesak kuat setelah dijadikan sandaran Rifa.

“Adek ndak mau. Adek ’kan mau sama ibu,” kata Rifa lagi. Tapi karena beban tubuh Rifa begitu menyesakkan, ibunya meminta untuk tidur miring. Semula Rifa mengikut tawaran ibunya. Namun, tidak lama berselang dia bangkit dan berkata, ”Adek maunya dipangku Ibu saja.”

“Kenapa?” tanya ibu.

Rifa diam, tak punya alasan.

“Adek mengapa mau dipangku ibu?”

Rifa tetap diam seribu bahasa. Mungkin tidur menyamping mengakibatkan lehernya sakit. Mungkin pula dia merasa tidak nyaman. Mungkin dia sudah mulai cemburu dan mulai merasa tersaingi  oleh kehadiran adiknya yang masih dalam kandungan. Pelajaran Rifa: Kalau akan punya atau sudah punya adik baru, kakaknya jangan diabaikan untuk diberi perhatian kasih sayang. Sebab, kakaknya bisa punya rasa cemburu yang kuat kepada si ‘pendatang baru’ bila diabaikan. ***

Nyonyon

Yogyakarta, 6 Desember 2007. “Ambilkan nyonyon Abang Dek,” kata Thoriq.

“Iya, Baang,” kata Rifa dengan riang dan segera berlari ke kamar mengambilkan barang yang diminta Abangnya. Nyonyon? Apa itu? Sebenarnya nyonyon itu hanya istilah yang diberikan Thoriq kepada bantal guling miliknya. Bantal guling itu selalu setia menemaninya menjelang tidur atau sedang ingin ’berfantasi’. Caranya, guling itu dicari ujungnya, lalu didekatkan ke mulut. Pada saat itu mulut terbuka dan lidah dikeluarkan sedikit diletakkan antara dua gigi, Lalu lidahnya turun naik di gusi atas hingga terdengar berbunyi seperti berdecak perlahan. Di telinga Thoriq, bunyinya seperti nyon nyon nyon, Jadilah nyonyon.

Kebiasaan Thoriq ini sudah berlangsung sejak bayi, saat itu gulingnya tentu yang masih kecil sekali. Sulit untuk melepaskan guling itu darinya. Teman setianya itu harus selalu ada di saat ia hendak tidur. Bila tidak, menangis jadinya. Pernah kami mengupayakan menjauhkan Thoriq dari ’nyonyon’ nya dan berhasil selama beberapa bulan. Namun kemudian, sewaktu pindah sekolah ke Yogyakarta, kami membeli guling besar dan langsung dimanfaatkannya untuk melepaskan kerinduannya terhadap nyonyon hingga sekarang.

Bila seorang abang minta tolong kepada adek atas sesuatu yang disukai Abang, bantu dia dengan baik dan semampunya. Menjadi adek yang manis dan menjadi abang yang baik dalam bersaudara tentu menyenangkan bukan?  ***

 

 Jadi Satpam, Supir, dan Polisi

Sudah lebih dua pekan neneknya datang ke Yogya, tiba saat untuk kembali ke Riau. Kebetulan mengambil jadwal penerbangan petang hari. Usai memesan taksi ke bandara dan naik di bagian depan, Thoriq terlihat antusias memandang ke kiri- kanan jalan. Saat itu dia membaca nomor yang tertempel di kaca depan taksi, 827. Karena membaca angka terbalik dari dalam mobil, ia lalu mengoreksi bacaannya.

“Tujuh, dua, lapan. Ini taksi kemarin, Yah,” kata Thoriq.

Ternyata memang benar, ini adalah taksi yang sama kami pakai untuk menjemput nenek ke bandara beberapa pekan sebelumnya.

“Iya,” supir taksi membenarkan.

Karena sang supir tersebut merasa pernah bertemu, dia pun mulai bertanya.

‘Adik kalau sudah besar mau jadi apa?”

“Mau jadi Satpam, supir taksi, dan polisi,” jawab Thoriq mantap.

“Mengapa?” tanya ayahnya, sementara nenek dan ibunya hanya tersenyum.

“Karena bisa bantu orang, Yah. Bisa nangkap orang jahat, juga dapat duit,” katanya. Kami semua hanya tersenyum saja. ***

 

 Mengambil tak Minta Izin

Rifa main dengan Ifat. Thoriq dengan Tama. Kedua teman mereka itu adalah saudara sepupu yang tinggal bersama neneknya. Mereka bermain di luar rumah. Saat itu Ifat memberi permen satu seorang sebelum bermain. Satu untuk Tama, satu untuk Thoriq, satu untuk Rifa dan juga untuk dirinya sendiri. Thoriq, Tama dan Ifat segera menghabiskan permen mereka. Sedangkan Rifa mengisap sedikit-sedikit, lalu dikeluarkan. Dipegang, lalu diisap sedikit, dipegang. Begitu terus. Setelah beberapa lama bermain, tiba-tiba saja Ifat merampas permen yang ada di tangan Rifa. Ngap, dia langsung memasukkan permen itu ke mulut dan ‘menyelesaikannya’ hingga ke perut. Rifa yang tidak terima atas perlakuan itu meraung sejadi-jadinya. Ia kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada abangnya. Namun abangnya tidak terlalu apik dengan persoalan adiknya, karena pasa saat itu ia sedang asik bermain dengan Tama. Akhirnya Rifa pulang dan melapor ke ibu.

“Mengapa Adik menangis terus?” tanya ibu.

Mbak Ifat itu, ambil permen Rifa tidak izin dulu. Nakal,” kata Rifa terus menangis.

Ibunya kemudian membujuk agar diam. Kebetulan dalam lemari es ada beberapa permen lunak yang disukai Rifa.

“Besok beli permen seperti ini banyak-banyak, jangan beri Mbak Ifat, ya Bu!” kata Rifa masih kesal setelah diberi ibu permen baru. Usai makan permen, ia keluar dan bermain kembali dengan Ifat. ***

pantun perkenalan

 

ASSALAMU’ALAIKUM MENJADI PEMBUKA

WA’ALAIKUMUSSALAM ITU JAWABANNYA

TULISAN INI PENGGANTI CERITA

DARI MUHAMMAD HUDA ATTHORIQ ITU NAMA SAYA

 

JALAN-JALAN MEMAKAI SEPATU,

SEPATU DIPAKAI BUKAN YANG BARU

BILA HENDAK TAHU TEMPAT KELAHIRANKU,

KOTA BERTUAH KOTA PEKANBARU

 

DARI PEKANBARU KE YOGYAKARTA

NAIK PESAWAT TINGGI DI ANGKASA

KAMI BERANGKAT SEMUA SEKELUARGA

MENUNTUT ILMU, BERSAMA ADIK, AYAH, DAN BUNDA

 

SYARIFAH AZZAHRA NAMA ADIKKU

WAJAHNYA CANTIK, BAIK, DAN LUCU

BILA MALAM TIBA DIA SUKA MERAYU

SETELAH MAKAN MINTA DIBUATKAN SUSU

 

3,4 TAHUN KINI USIANYA

SALMAN AL-FARISI NAMA SEKOLAHNYA

KELAS KUDA LAUT NAMA KELOMPOKNYA

MENONTON VCD SYAMIL DAN MAIN BONEKA KESUKAANNYA

 

BERMAIN MOBIL-MOBILAN ITU KESENANGANKU

BERMAIN BOLA JUGA MEMBACA BUKU

KETIKA SAMPAI JILID IV BACAAN IQRO’KU

DIBELIKAN AYAH MOBIL REMOTE CONTROL YANG BARU

 

MINUM MADU DAN SUSU ITU YANG KU SUKA

BADAN JADI SEHAT DAN BISA OLAH RAGA

PULANG SEKOLAH AKU SUKA CERITA

TENTANG TEMAN, GURU, JUGA PELAJARAN  BERMAKNA

 

SUATU HARI BILA SAAT BESAR NANTI

AKU INGIN JADI PENGUSAHA MOBIL DAN TAKSI, TNI ATAU POLISI

DENGAN PEKERJAAN ITU AKU BISA MENGABDI

MENOLONG SESAMA DENGAN CARA ISLAMI

 

DI PAGI HARI KU SELALU BERDO’A

BANGUN TIDUR, BERPAKAIAN, BERKENDARAAN, JUGA DO’A LAINNYA

MENGULANG IQRO’ SERING KALI AKU LUPA

BADAN KU MALAS DAN CAPEK, SELALU DATANG TIBA-TIBA

 

BILA DIHITUNG EMPAT BULAN LAGI 

USIAKU BERTAMBAH TUBUHKU PUN MENINGGI

KUINGIN SEKOLAH DAN MENDAPAT ILMU YANG DIBERKAHI

SEKOLAH DASAR DI PEKANBARU RENCANAKU NANTI

SENANG HATIKU SEKOLAH DI TK MASJID KAMPUS UGM

TEMAN KU BANYAK, GURUNYA BAIK, SEKOLAHNYA PUN SANGGAM

KALAU KU BESAR NANTI AKU PUNYA AZZAM

INSYA ALLAH KEMBALI KE SINI UNTUK MENGULURKAN SALAM

 

PENYIAR DI TV MEMBACAKAN BERITA

HARIPUN MALAM SUDAHLAH TIBA

MATAKU MENGANTUK INGIN TIDUR SEGERA

SAMPAI DI SINI DULU AKU HENTIKAN CERITA

 

KEPADA ALLAH BERDO’ALAH SELALU

AGAR KITA SELAMAT SEPANJANG WAKTU

BILA ADA YANG TERSILAF MAAFKAN DAKU

WASSALAMU’ALAIKUM JAWABLAH SALAMKU

 

 

 

 

(pantun cerita ini ditulis pada tanggal 12 Desember 2007, sebagai bagian tugas guru sekolah thoriq untuk perkenalan tentang keluarga dan kebiasaan murid di tk masjid kampus ugm)

Seulas Pinang

 

Anak adalah rahmat yang harus dipelihara dan dijaga sebaik-baiknya. Sebagai amanah, ia akan diambil kembali oleh Pemiliknya, suatu hari kelak. Khalil Gibran mengibaratkan orang tua hanya berhak untuk menjadi busur bagi anak-anaknya, mengarahkan ke mana arah yang akan dituju. Setelah melesat, busurpun takkan lagi bisa mengubah arah anak panah ke tempat lain. Jangan-jangan Gibran hanya mengadopsi penegasan Allah dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa anak manusia lahir dengan keadaan suci. Orang tuanyalah yang akan menjadikannya tercemar atau tidak, ada di jalan lurus (Muslim) atau bengkok (Yahudi, Nasrani atau Majusi).

Mengutip seorang pembicara dalam sebuah acara di TK Masjid Kampus UGM, anak adalah karunia yang membahagiakan. Walaupun begitu, ternyata ada juga orang tua yang merasa bahwa anak menjadi sumber kesengsaraan karena orang tua sulit untuk mengatur anaknya. Dalam sebuah kisah diceritakan dua orang tua yang tinggal selangkah lagi masuk ke surga, lalu diprotes oleh anaknya yang terlantar di neraka. Ia protes karena tidak dapat menikmati hasil akhirat sebagaimana orang tuanya, karena sewaktu di dunia orangtuanya tidak mengarahkannya ke jalan Allah SWT. Protes sang anak diterima Pemilik surga dan neraka, dan kedua orang tua tersebut diseret ke neraka menemani anaknya yang bermaksiat selama hidupnya.

Sang pembicara menambahkan: Dahulu di sejumlah tempat, hampir didapati setiap rumah sepulang dari shalat Magrib, yang didapati adalah lantunan ayat suci Al-Quran. Sedangkan saat ini, yang terdengar lebih banyak umpatan, cekikikan, dan teriakan-teriakan yang meluncur dari tayangan sinetron di layar TV, liukan kelok-kelok tidak seronok para penyanyi. Padahal, rumah adalah pondasi utama untuk mendidik anak, sedangkan banyak orang tua kini lebih mengandalkan sekolah sebagai tempat utama bergantung mendidik anaknya. (Sebagian lagi menyerahkan kepada pembantu rumah tangga yang banyak di antaranya tidak punya bekal sedikitpun untuk mendidik anak, karena memang bukan tugasnya). Banyak orang berpendapat: yang penting anak tidak bertingkah, tidak manja, tidak ribut, tidak rewel, sehingga orang tua menyuguhkan sajian tayangan TV untuk menjadikan anak-anaknya sebagai ’anak manis’. Padahal, jutaan virus ganas yang bertebaran dalam tayangan TV begitu mudah melompat ke dalam otak anak tanpa disadarinya, atau orang tuanya.

Anak-anak kadang berargumentasi bahwa ia hanya menonton film kartun atau film anak. Padahal, tidak semua film kartun itu layak dituntun oleh anak-anak. Lagi pula, di sela-sela tayangan, selalu menyusup virus perusak melalui jendela iklan. Iklan bukan khusus untuk anak, tapi untuk penonton dewasa, sehingga begitu cepat mempengaruhi dan merusak mental anak. Mungkin, orang tua yang punya waktu luang ikut menonton sambil mengawasi segera mengubah saluran sementara ke siaran lain. Persoalannya, iklan itu sudah terlihat, dan itu sangat membekas jelas di otak dan hati anak.

Pondasi kedua untuk membentuk kepribadian masa depan anak adalah lingkungan, terutama tetangga rumah. Dalam sebuah sabdanya Rasulullah Saw mengatakan lihatlah tetangga sebelum kamu mendirikan rumah. Perilaku dan kebiasaan hidup lingkungan dan tetangga akan menjadi faktor kuat yang mempengaruhi warna dan corak hidup dan kepribadian anak. Dapat diibaratkan bahwa tetangga terdekat adalah tayangan televisi yang disetel setiap hari, 24 jam tanpa henti, yang letaknya di sebelah rumah. Sedangkan tayangan TV elektronik merupakan ’tetangga’ yang tinggal dalam rumah kita, yang tabiatnya berbeda dengan kehidupan rumah tangga kita. Tetangga kita itu setiap hari membimbing anak-anak kita dengan film kekerasan. Ada sebuah kasus, seorang anak yang menonton tayangan televisi tentang kasus pembunuhan menggunakan pisau. Lalu ia mempraktikkan ‘atraksi’ itu kepada adiknya sendiri sesuai dengan adegan asli yang disalinnya langsung dari ‘tetangganya’ itu hingga adiknya tewas.  

Tentu saja bangsa dan negara Barat salah bila menjadikan Islam sebagai musuhnya setelah komunisme pensiun dari perang dingin. Akan tetapi realitasnya Islam selalu mereka musuhi, apapun caranya. Padahal, musuh yang lebih jahat dan dahsyat dari komunis yang mestinya diperangi saat ini adalah ’informasi’. Terlalu banyak limbah budaya asing yang dibawanya ke seluruh ceruk-ceruk negeri ini, yang dengan cepat mengubah nilai-nilai kebajikan dan kebenaran, konsep-konsep dasar hidup, termasuk cara pandang anak-anak. Imajinasi kita dibawa ke arah mimpi yang tidak lagi sesuai dengan realitas sosial yang ada, seperti melalui sinematografi atau sinetron. Ada pistol, belati, minuman keras, perempuan cantik tak berbaju atau belum terjahit sempurna, lelaki gagah dengan mobil dan rumah mewah, seks bebas, kata-kata cabul dan sumpah seranah yang fulgar. Anak-anak memaki hamun orang tuanya, guru sekolah, teman, tetangganya, pembantu rumah tangga atau orang lain. Itulah tontonan kita, budaya ’India-Barat’, yang sesungguhnya sudah mengikrarkan diri menjadi musuh kita, lalu kita undang untuk masuk ke dalam rumah kita, kita simak petuahnya, kita sediakan tempat dalam kamar kita hingga akhirnya secara tidak sadar ia sudah menjadi bagian dari hidup kita, dan anak-anak kita?

Berikut ini, kami masih ingin mengutip  uraian pembicara yang memang panjang, tentu mengingat materinya yang menarik, kami merasa ada baiknya banyak orang untuk mengetahuinya pula. Karena itu kami masih terus mencantumkannya. Utamanya berkaitan dengan fase pelatihan anak di rumah. Setidaknya ada tiga fase pelatihan anak di rumah. Pertama, fase anak usia 3-4 tahun untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah dalam batas-batas sederhana. Pada usia ini anak sudah dapat memahami dan mampu berkomunikasi. Contohnya mengajarkan anak tentang shalat dan mengaji dengan cara memperlihatkannya kepada sang anak. Termasuk dengan memperkenalkan tentang aurat dan hijab.

Fase kedua umur 5-7 tahun, fase anak diajarkan untuk mampu melakukan apa yang baik menurutnya dan apa yang jelek menurutnya. Pada fase inilah anak mulai belajar shalat sebagaimana Rasulullah Saw. Terakhir fase untuk usia 8-12 tahun, sebuah rentang masa transisi untuk mengantarkan anak menjelang usia baligh. Inilah masa anak mendapatkan pelajaran untuk membebani dirinya sendiri, berbuat baik atas kemauan sendiri tanpa dorongan orang lain. Ini adalah fase menuju kedewasaan atau kesadaran untuk melakukan sesuatu hal bukan karena takut kepada orang tua, akan tetapi masa untuk mandiri dalam berbuat apa pun.

Bila fase-fase ini telah dilalui dengan mulus, maka tanggungjawab orang tua terhadap anak sudah dapat dikatakan lepas. Akan tetapi sebaliknya, bila fase ini tidak dapat dilampui dengan baik, maka dosa-dosa anak akan bisa ditimpakan kepada orang tua yang lalai karena tidak bisa menanamkan kebajikan. Dalam surat At-Tur (52) ayat 21 Allah menjanjikan: “Dan orang-orang yang beriman bersama anak cucu yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di dalam surga, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amalan kebajikan mereka. Setiap orang terikat dengan amalan kebajikan mereka.”

Kami jadi ingat dengan penggalan “Gurindam Duabelas” bagian 7, gubahan Raja Ali Haji yang menyatakan:

“Apa bila kita kurang siasat, itulah pekerjaan hendak sesat; apa bila anak tidak dilatih, jika besar bapaknya letih.”

Kembali kepada pakar pendidikan anak tadi, ia juga mengingatkan kepada semua orang tua pada saat menghadapi anak dalam situasi yang menyulitkan dan menyusahkan, agar selalu tersenyum, bermurah senyum, karena itu akan menjadi tangga kemuliaan. Kalimat yang mudah untuk diucapkan, tapi sulit dipraktikkan, terutama saat menghadapi anak yang menurut orang tua mulai ‘banyak ulah’.

Apa lagi, tiap anak memiliki karakter dan tipe yang berbeda-beda. Mereka punya kelebihan dan  kekurangan masing-masing. Setiap anak juga punya celah dan selah untuk ditangani permasalahannya. Demikian pula usaha orang tua untuk menjawab berbagai pertanyaan anak yang kadang tak ’terjangkau’, maka upayakan untuk menggunakan bahasa yang sesuai dengan bahasa anak. Bila perlu, orang tua langsung menjadi anak-anak. Artinya, orang tua menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya, terutama agar tidak ’kecolongan’ bila nanti anak-anaknya sudah menginjak usia SLTP/SLTA, usia yang sulit untuk mewarnainya. Kadang-kadang, pada masa-masa tertentu, orang tua harus mematikan telepon selulernya untuk melayani anak agar mereka tidak merasa terganggu.

Orang tua juga tidak boleh kalah dengan anak dalam mempertahankan hal-hal yang  prinsip. Namun, banyak ditemui anak-anak menang dari orang tuanya hanya dengan cara ‘favorit’, seperti membentak, berteriak, menangis, rewel. Tidak sedikit orang tua yang kalah menghadapi kondisi seperti ini, sehingga akhirnya mengikuti apa saja kemauan anaknya. Hal yang diperlukan sebenarnya adalah mengkondisikan anak  – terutama bila orang tua memiliki beberapa anak – terlebih dahulu kepada anak paling tua untuk dapat dicontoh adik-adiknya. 

Terakhir, menjadi kewajiban orang tua untuk mengawasi makanan anak agar tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung babi dan lemak lainnya yang tidak memberi manfaat. Pembiasaan untuk membeli produk makanan berlabel halal – karena bila tidak ada label, dikhawatirkan produk tersebut haram memakannya – dengan cara mengajak anak untuk mencari sendiri label tersebut pada setiap bungkus makanan yang hendak dibeli dan diinginkannya. Namun juga menghindari menkonsumsi makanan dengan bahan pengawet, makanan instant, serta yang mengandung penyedap rasa. Semuanya hanya akan berdampak negatif pada sifat anak, dan berpengaruh pula pada kehidupannya di masa datang.

***

Menurut Dr Sukamta, setidaknya ada empat pola pengasuhan anak. Pertama, autoritatif  (demokrasi), kedua otoritatif (otoriter), ketiga permisive (pemanjaan), dan keempat indulgent (penelantaran). Bila dilihat dari empat makna yang ada, tentu pola demokrasi yang terbaik. Akan tetapi bila melihat realitas ‘demokrasi’ saat ini, tentu banyak yang ‘jijik’ melihatnya. Tidak semua orang punya pola asuh yang sama, bahkan pasangan suami istri saja acap berpegang teguh pada pola mereka masing-masing. Lagi pula, setiap orang tua tentu memiliki pengalaman menghadapi anak yang ‘warnanya’ berbeda dengan orang tua lainnya. Akan tetapi, bisa saja satu atau dua kejadian memiliki kemiripan dengan kejadian di rumah orang lain.

Dalam praktiknya, bisa saja terjadi kombinasi pola. Sebab, penanganan anak terkadang lebih cenderung ‘menyesuaikan diri’ terhadap kondisi yang terjadi. Akan tetapi, kami berdua tidak akan membahas pola pengasuhan dalam buku ini, sebab itu bukanlah keahlian kami. Kami berdua hanya sekedar ingin menceritakan ’kejutan’ yang kami hadapi sehari-hari dengan anak-anak kami.  Hanya itu yang hendak kami sampaikan dalam tulisan ini.

Cerita yang disusun ini adalah penggalan-penggalan kisah, dialog-dialog keseharian, dan kami pandang unik yang terjadi dalam masa perkembangan anak kami Muhammad Huda At-Thoriq, Syarifah Azzahra, serta pada masa menjelang dan setelah kelahiran adik mereka Muhammad Dzakir Wafi Buzajani. Abangnya di rumah dan sekolah dipanggil Thoriq. Adiknya dipanggil Rifa, namun di sekolah dipanggil Zahra. Sama seperti panggilan nenek, atuk, juga kakak dan abang sepupunya. Tapi ia tak pernah protes dengan dua panggilan tersebut. Ia senang-senang saja.

Banyak ungkapan-ungkapan yang kami pandang ‘unik dan istimewa’ yang keluar dari mulut mungil Thoriq dan Rifa. Walaupun tulisan ini lebih banyak ‘menangkap’ komentar Rifa, bukan berarti yang muncul dari pernyataan abangnya tidak istimewa, namun upaya untuk mencatatkan baru teringat dan terlaksana pada masa-masa pertumbuhan setelah Rifa berumur Batita (bawah tiga tahun). Akibatnya, rekaman dialog-dialog yang dilakukan Thoriq banyak yang sudah terhapus dari memori.

Mungkin karena sering melihat anak-anak berseragam yang pulang pergi sekolah setiap hari melewati jalan depan rumah, Thoriq minta pula untuk disekolahkan. Saat itu usianya baru masuk tahun kedua. Kebetulan di belakang rumah oran tua kami di Panam, Pekanbaru, hanya dibatasi satu rumah berdiri TK mungil. Sekolah ini memanfaatkan gedung pertemuan RW setempat. Karena dekat rumah, akan memudahkan mengantar jemput, kami menawarkannya untuk sekolah di sana. Tapi Thoriq menolak tanpa mau menyebutkan alasannya. Terpaksalah kami cari alternatif lain. Kami bawa ia ke sebuah TK yang juga mungil tak jauh dari rumah saudara sepupunya. Jaraknya sekitar 2 Km dari rumah kami. Sekolah ini memanfaatkan sebuah rumah dengan beberapa kamar yang dimanfaatkan untuk kelas. Thoriq diajak melihat-lihat permainan, kelas dan berkenalan dengan guru-guru di sana. Tapi ia tetap menolak.  Bahkan hanya sekedar untuk melihat-lihat isi kelas ia enggan melangkahkan kakinya. Sewaktu perjalanan pulang, kami coba mengorek mengapa dia menolak dua sekolah yang ditawarkan padanya.

“Banyak nyamuk Yah. Kamar mandinya jorok,” kata Thoriq. Alasannya yang lain adalah minimnya permainan. Kami pun terperangah. Memang, dua TK yang kami tawarkan bukanlah sekolah yang ‘mandiri’ karena dikelola dengan semangat kekeluargaan dan azas manfaat. Dengan semangat inilah, sekolah dapat bernafas, dan orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya yang ‘wah’, namun anak-anaknya mendapatkan dasar-dasar pendidikan untuk usia pra sekolah sembari tetap menikmati masa-masa usianya untuk bermain. Karena itu, beberapa bagian sekolah terlihat kurang terawat dengan baik, bahkan terkesan seperti kumuh, untuk dikatakan sebagai sebuah sekolah anak-anak. Bagi banyak anak, kekumuhan itu adalah hal biasa. Namun bagi Thoriq, itu jadi masalah. Sewaktu kecil ia memang agak ‘berlebihan’ dalam soal kebersihan. Ia juga termasuk ‘jijik’ dengan kotoran, bahkan dengan kotorannya sendiri. Pernah sewaktu ia BAB[1] di kamar mandi, dan tidak langsung kami siram air, ia muntah-muntah tak tahan dengan ’baunya sendiri’. Lain lagi ketika ia liburan ke Rengat, tempat neneknya. Ia lebih memilih untuk mandi di teras rumah daripada di kamar mandi. Padahal saat itu kamar mandinya sudah dibersihkan. Alasannya hanya karena kamar mandinya belum dikeramik.

Karena tidak menerima dua sekolah yang kami usulkan, kami membawanya ke tempat yang lebih jauh. Jaraknya sekitar 9 Km dari rumah. Sekolah ini menjadi pilihan ketiga karena mendapat rekomendasi dari beberapa teman ibu Thoriq yang menyekolahkan anaknya di sana. Rekomendasi teman-teman terdekat yang dapat dipercaya sepertinya dapat dijadikan salah satu cara untuk mengumpulkan informasi tempat pendidikan anak. Jadilah kami membawa Thoriq untuk melihat-lihat calon sekolahnya itu. Walaupun lokasinya masuk ke jalan agak sempit, akan tetapi jalannya mulus dan hanya berjarak sekitar 0,5 KM dari jalan protokol. Sekolah ini gedungnya baru, terdiri dari beberapa bagian. Dari depan pintu gerbang, bila kita masuk, akan langsung disambut kawasan lapangan dan arena bermain yang ditumbuhi rumput dan pepohonan yang baru ditanam. Di sebelah kanan, berdiri gedung dengan beberapa ruang kelas besar dan dua kamar mandi. Di sebelah kiri, berdiri gedung tinggi dengan pilar teras depan berarsitektur Yunani.

Di sebelahnya ada ruang besar tak berdinding namun beratap yang dimanfaatkan untuk beristirahat orang tua siswa sembari minum atau makan. Sebab, tempat ini juga berfungsi menjadi kantin mini sekaligus tempat berbagai alat permainan anak ’kualitas tinggi’ ditempatkan. Di seberang kantin, berdiri pula gedung yang diperuntukkan sebagai ’arena khusus’ pembelajaran anak, ruang pertemuan sekaligus ruang makan anak. Pada tembok pagar bagian dalam di sebelah ruangan maka berderet keran untuk anak belajar berwudhu dan mencuci tangan.

Sementara di bagian belakang gedung ini masih ada lagi gedung besar dengan arsitektur seperti masjid, karena fungsinya memang sebagai mushalla. Tapi sepertinya kurang dimanfaatkan secara optimal. Debu berserakan di bagian luar dan dalam  gedung. Tak jauh dari surau itu, ada taman bunga yang bersebelahan dengan kolam renang mini ukuran 3×5 meter. Menurut pengelola sekolah itu, air kolam renang untuk anak khusus dibeli dari tempat penjualan air minum isi ulang. “Agar tidak terlalu tercemar bila terminum anak saat berenang,” kata Kak Babas, begitu ia menyebut diri kepada anak-anak, konsultan penanggungjawab sekolah yang khusus didatangkan dari Bandung bersama beberapa guru.

Tak jauh dari kolam pemandian, terletak sebuah kandang berisi beberapa ekor kelinci putih. Pada hari-hari tertentu kelinci ini dilepas ke taman, sehingga dapat berkejaran bersama anak-anak yang kegirangan. Sebuah komplek gedung yang memang didisain untuk menjadi sekolah ’mandiri’ dan diberi banyak fasilitas permainan. Ke sekolah inilah kami direkomendasikan untuk menyekolahkan Thoriq. Usai ’inspeksi’ lalu kami bertanya.

“Mau sekolah di sini, Nak?”

“Mau!” tegas Thoriq sembari mengangguk keras dan cepat. Jadilah hari kunjungan kami itu langsung sebagai hari pertama Thoriq sekolah. Pulangnya bahkan dia diantar dengan bus sekolah. Artinya, kalau ia tidak sempat kami antar jemput, sekolah telah menyediakan angkutan khusus. Dengan tambahan biaya tentunya. Thoriq pun mulai sekolah di B&B (Belajar dan Bermain)  Anak Usia Dini, Pekanbaru, pada saat usianya baru 1 tahun 10 bulan. Selama 1,5 tahun ia sekolah di sana dan saat usianya menginjak 3 tahun 6 bulan ia sekolah di TKIT (Taman Kanak-kanak Islam Terpadu) Masjid Salahuddin, kampus UGM, Yogyakarta, mengikuti kedua orang tuanya yang melanjutkan pendidikan.

Hampir sama dengan adiknya, Rifa, yang pada tanggal 20 Agustus 2006, umurnya baru menginjak 2 tahun. Walaupun belum masuk usia sekolah, namun keinginannya untuk belajar dan bermain di sekolah cukup tinggi. Mungkin karena selalu melihat abangnya berangkat dan pulang sekolah setiap hari. Karena selalu ingin sekolah, kamipun mencoba mencarikan beberapa alternatif sekolah yang dekat dengan rumah kontrakan kami. Seorang teman  kemudian merekomendasikan untuk membawa Rifa ke Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu (TKIT) Salman Al-Farisi, Klebengan, Sleman, Yogyakarta.

Ia diterima di saat usianya baru menginjak 2 tahun 4 bulan. Padahal, syarat usia minimal anak untuk dapat duduk di bangku TKIT itu, seperti aturan yang ada di sana adalah 2 tahun 10 bulan. Memang, sekolah melakukan uji coba selama dua pekan untuk mengukur kemandirian dan keinginannya bersekolah. Apakah memang keinginan orang tuanya atau kemauan kuat dirinya sendiri, begitu kira-kira alasan pengelola sekolah saat akan uji coba. Hasilnya? Mulai hari pertama hingga kini, dia tidak perlu ditunggui. Sebagai orang tua, di hari pertama ia masuk untuk uji coba itu ibunya memang agak risau. Jangan-jangan si kecil menangis karena tidak ada keluarga di dekatnya. Atau bagaimana bila ia pup (BAB) atau pipis? Bagaimana bila ia minta minum susu? Dapatkah ia menyampaikan semua hajatnya itu kepada gurunya? Ada segantang pertanyaan  lainnya.

Guna menjawab kerisauan itu, ibunya minta diantar ke sekolah, tepat pada jam anak-anak bermain (sekitar pukul 10.00 WIB). Kami masuk pintu gerbang sekolah dan segera mendapati Rifa tengah berlarian dengan gembira bersama teman-teman barunya. Dengan memasang senyum termanis yang dimiliki, sang ibu ingin bersua dengan anaknya. Namun, tanpa pakai pengantar terlebih dahulu, dari jarak yang agak jauh Rifa langsung berteriak kepada ibunya.

“Ibu pulang aja dulu. Adek ndak apa-apa kok,” katanya dan segera berhamburan berkejaran kembali dengan teman-teman barunya sembari berteriak gembira.

Sang ibu pun melongo. Gembira karena kerisauannya ternyata tidak terbukti sama sekali. Sedih juga karena sang anak tak peduli dengan kerisauan ibunya. “Huh dasar, hehehe…”. Jadilah saat itu ia diterima di kelas ‘Jamur’ sebagai murid termuda dibandingkan dengan teman-temannya di kelas.

Begitu banyak manfaat yang kami rasakan bila anak-anak se usia dini sudah mulai diperkenalkan pada dunianya di ‘sekolah’. Selain karena kami tidak mampu memberikan waktu secara maksimal kepada keduanya untuk bermain sesuai dengan tingkat pertumbuhannya, di lingkungan kami juga tidak banyak anak-anak yang sebaya dan ‘terpilih’ untuk menjadi teman bermainnya. Bukankah orang tua berhak untuk memberikan teman yang baik bagi anak-anak kita dalam kondisi ‘lingkungan’ yang begitu mengkhawatirkan ini? Bagi kami, salah satu alternatifnya adalah sekolah.

Dengan sekolah, kami juga ‘di/terpaksa’ untuk tahu – dan kadang ikut hafal atau harus menghapal banyak doa,  hadits dan lainnya – yang ditanyakan anak-anak kami. Banyak pelajaran yang dapat kami petik dari pernyataan-pernyataan anak-anak kami. Hal ini sebagian terjadi tidak lain disebabkan karena pengaruh pendidikan yang mereka dapat dari bangku pra sekolahnya.

Kata banyak pakar keluarga Sakinah, sungguh banyak kewajiban orang tua terhadap anaknya. Semua kewajiban itu menjadi hak bagi anak untuk didapatkan dari orang tuanya. Menjadi hak bagi anak untuk menemukan keluarga sakinah, mendapatkan nama yang baik dan berkualitas, diantar ke masa depan yang pasti, mendapatkan orang tua yang menjalankan fungsinya serta untuk mendapatkan ilmu yang terpadu. Beberapa hal lain yang menjadi hak anak adalah tersedianya ‘patner dialog’ yang menjadi saluran menumpahkan beban eksternalnya. Sungguh berat, tapi inilah realitas yang menjadi tanggungjawab orang tua yang harus dihadapi.

Judul buku ini sebenarnya mengambil judul sama dengan isi berbeda yang pernah ditulis Yuslenita Muda dan Ibni Zairi, terbitan Yayasan Pusaka Riau. Buku yang diterbitkan di Pekanbaru tahun 2001 itu sejatinya adalah buku kumpulan cerita fabel yang berkembang luas dalam masyarakat tradisional Melayu Riau – Suku Sakai – hidup di kawasan hutan ulayat mereka di Bengkalis (sekarang bermetamorfosis menjadi beberapa kawasan baru seperti Siak Sriindrapura, Dumai, dan Rokan Hilir). Kehidupan mereka kini semakin sulit di daerah asalnya sendiri mengingat tekanan kapitalisme global yang bersekongkol dengan elit-elit nan picik dan licik, baik di pusat dan lokal sehingga berhasil menyingkirkan tata kehidupan mereka dari ‘habitat’ asli mereka dengan jargon modernisasi, investasi, dan ‘peningkatan kesejahteraan’ dengan cara yang mereka anggap beradab. Singkatnya, buku tentang kearifan masyarakat lokal dalam tata kehidupan berhubungan sehari-hari yang ditamsilkan dalam cerita hewan-hewan asli yang hidup di sekeliling masyarakat Sakai.

Buku ini layaknya seperti catatan harian, namun orang lain yang menuliskannya. Sebagai secebis kilasan sejarah hidup, buku ini diharapkan tidak hanya menjadi kumpulan catatan dari sebuah peristiwa, lebih dari itu ada segumpal harapan agar kilasan fragmen hidup anak kami ini memberikan pesan-pesan bermanfaat. Baik yang sudah tersurat, apatah lagi yang tersirat. Mungkin terlalu berlebihan bila kami katakan ingin warna yang lain di ruang kehidupan yang terbuka luas dan majemuk ini.

Jelas kami tidak ingin merekonstruksi ulang peristiwa yang terjadi dalam pengalaman hidup anak-anak kami, namun ada desakan untuk menarasikan peristiwa-peristiwa – yang mungkin bagi sebagian orang tua sudah terlalu sering mereka temui, tapi tidak untuk dibagi. Kami ingin pengalaman yang berserakan dan terus mengalir itu dapat dijadikan semacam ‘bunga rampai’ kehidupan yang tercetak sehingga memungkinkan untuk dibaca banyak khalayak. Tentu saja cuplikan-cuplikan ini hanya sebagian yang sempat kami catat.

Sebagai orang tua, penulis tidak ingin menjadi pemenggal sejarah bagi anak-anak kami, sehingga terkesan banyak peristiwa lain yang mereka alami tidak kami angkat sebagai bagian di buku ini. Memang, kami secara subjektif telah berlaku ‘curang’ untuk  ‘melupakan’ peristiwa lain kehidupan mereka. Kesengajaan itu kami anggap terjadi karena keterbatasan kemampuan kami secara manusiawi. Apa lagi peristiwa demi peristiwa terjadi seperti beruntun, dan berlangsung terus dalam kehidupan mereka. Baik pada saat berinteraksi dengan kami, pun dengan orang lain di lingkungannya. Tentu ada pula bagian-bagian yang kami anggap tidak layak untuk dijadikan bahan pengetahuan publik secara luas.

Pengantar tulisan ini pun terasa panjang dan terlalu banyak mengutip hasil ceramah, diskusi, atau pendapat. Namun semua itu kami tujukan tidak lain adalah untuk berbagi dan menyebarluaskan ilmu yang kami dapatkan di bangku sekolah anak-anak kami. Bukan bermaksud untuk menceramahi pembaca, karena pembaca tentu lebih arif. Melalui kutipan itu sesungguhnya kami merasa malu, karena banyak yang tidak atau belum dapat kami jalankan secara baik dan benar. Setidaknya ini akan memotivasi kami untuk selalu berbenah diri. Semoga buku ini, bagaimanapun kecilnya, juga dapat memberikan manfaat berarti bagi orang tua, pendidik, dan siapapun yang membaca. Sengaja atau kebetulan membaca, beli sendiri atau meminjam ke tetangga (kembalikan ya?). Kami yang berencana, Allah jua yang mengabulkan. Alhamdulillahirabbil’alamin.***

 

Yogyakarta, 25 Maret 2008

 

Yuslenita Muda & Ahmad Jamaan


[1] Buang Air Besar

Pacaran

Di pintu kamar mandi Thoriq mendatangi ayah yang baru saja mencuci tangan dan kaki. Tiba-tiba ia bertanya.

”Kalau sudah besar, orang pacarannya sama orang lain ya Yah?”

Maksud dia mungkin tidak dengan saudara sendiri. Tapi, entah dari mana dia mendapatkan kosa kata ini. Padahal usianya baru enam tahun lewat beberapa bulan.

”Pacaran? Pacaran itu apa?” ayah balik bertanya.

”Kalau sudah besar itu lho,” jawab Thoriq sumir.

”Seperti Ayah dan Ibu sekarang?” pancing ayah lagi.

‘’Iya.”

“Iya. Ayah dan Ibu dulu ‘kan berlainan rumahnya.”

“Harus yang rumahnya lain ‘kan, Yah?”

“Iya.”

“Mengapa?” tanya dia.

“Supaya banyak saudara dan keluarganya,” jawab ayah.

“Biar banyak temannya juga?”

“Iya. Ibu dulu ‘kan rumahnya di Rengat, Ayah di Pekanbaru.”

“Iya, ya Yah. Kalau laki-laki pacaran dengan laki-laki tidak boleh ‘kan, Yah?”

Entah dari mana lagi sumber pertanyaan Thoriq ini.

”Ya, tidak boleh lah. Ayah ‘kan laki-laki sekarang pacaran dengan Ibu. Ibu ’kan perempuan.”

”Kenapa, Yah?”

”Itu ’kan dilarang Allah. Dalam Al-Quran diceritakan ada yang seperti itu, lalu dimarahi Allah. Mereka didatangi malaikat untuk diingatkan. Karena tidak mau lalu dibunuh dan mati semuanya.”

”O, begitu.”

”Ada Bu guru cerita di sekolah ya?” tanya ayah.

”Iya.”  ***

 

Burung Ikut Maraton

“Maratón yuk Bu,” tiba-tiba Rifa yang bangun subuh mengajak ibunya untuk ‘olah raga’ pagi. Ibunya yang memang mau menyegarkan tubuh mengingat usia kandungannya saat itu sudah mendekati delapan bulan. Setelah mempersiapkan sesuatu, kedua anak beranak ini mulai marathon – jalan kaki tepatnya – keliling perkampungan sekitar tempat tinggal sembari bercerita. Saat itu mentari masih malu-malu menampakkan fajarnya di sela-sela awan yang terlihat enggan berarak. Belum 500 meter jogging, Rifa mulai merasa lelah dan minta berhenti. Sambil duduk menjongkok, ia bertanya.

“Bu, Kak Rifa capek kalau jalan. Ayah kok ndak mau ikut kita tadi?”

“Mengapa begitu?” tanya ibunya.

“Kalau kak Rifa capek jalan ’kan bisa digendong.”

“Ayah tadi tidur lagi, karena sakit. Nanti kalau sudah sembuh minta gendong Ayah ya?”

“Ya.”

Rifa kemudian berdiri dan melanjutkan olah raga pagi mereka. Entah mengapa pandangannya tiba-tiba tertuju ke angkasa. Rupanya sekawanan burung tengah berlomba mengepakkan sayapnya berusaha mencari penghidupan di bagian lain bentangan bumi.

“Itu burung apa Bu?” Rifa bertanya.

Ibunya yang tidak dapat melihat jelas tanpa bantuan penjernih penglihatan alias kaca mata mendongakkan kepada ke arah pandangan Rifa.

“Mungkin burung kelelawar,” jawab ibu asal bunyi.

Kok ibu tahu?”

“Iya. Kita tanya Ayah saja nanti di rumah ya,” sambung ibunya.

“Tapi, Ayah ’kan tidak ikut kita. Jadi Ayah ndak tahu lah,” Rifa protes.

“Iya, ya,” kata ibunya menyimpan tertawa dalam hati.

Mereka kemudian meneruskan perjalanan ke arah perumahan yang banyak ditumbuhi pokok besar-besar. Dari situ terdengar kicauan burung sambung menyambung tiada henti. Seperti perlombaan berbalas pantun yang tak mau kalah dengan lawannya. Di rimbun dedaunan yang rendah nampak sekelompok burung kecil tengah hinggap di sebuah dahan besar.

“Itu burung apa, Bu?”

“Itu burung pipit,” kata ibu asal nyambung.

Kok Ibu tahu?” kejar Rifa.

Ibunya yang tak mau kalah akibat tak melihat jelas jenis burung itu atau mungkin juga karena tidak tahu namanya, terpaksa mencari kilah agar ’selamat’.

“Iya, sebab burungnya kecil-kecil.”

Rifa diam. Dalam ingatannya sudah tertanam, burung yang kecil tubuhnya, selama ini disebut burung pipit. Ibunya juga terdiam, tapi mukanya merah. Bukan karena malu tidak dapat memberi jawaban memuaskan, tapi karena tak tahu. Malu dan tidak tahu adalah sesuatu yang berbeda, tapi kadang sulit kita membedakannya.

Di ujung jalan, keduanya mengambil jalan memutar agar lebih dekat jalan pulangnya. Di langit, serombongan burung terlihat terbang membentuk formasi terbang yang indah. Melebar di belakang, semakin mengerucut di depannya. Kombinasi kepakan sayapnya pun terlihat senada, seirama seperti ada komando saja. Lagi-lagi Rifa menangkap figur indah di udara itu dalam frame matanya, lalu dengan kecepatan kilat ia mengekspornya ke jaringan neuron ke kepalanya. Tanpa membuang waktu, sel syarafnya segera menyambut informasi ’aneh’, mengolahnya tanpa mata sempat berkedip, lalu memproduksinya menjadi  sebuah kombinasi pertanyaan.

“Burung itu ikut maraton pagi juga ya, Bu?”

Ibunya yang tak ingin gelak tawanya berserakan di perjalanan – terlihat orang ’kan malu – terpaksa terbatuk-batuk menahan goncangan perut sembari mencari jawaban yang tepat dan singkat. Lebih tepatnya jawaban yang cepat, tak peduli tepat atau tidak.

“Iya.”

“Sama kayak kita ya, Bu?”

“Iya.”

“Kalau burungnya capek, macam mana istirahatnya, Bu?”

Dia membandingkan dengan dirinya yang berhenti lalu jongkok sebentar saat letih berjalan. Kalau burung jongkok, ‘kan bisa jatuh. Ibunya yang menemukan jawaban rasional, segera menjawab.

“Ya berhenti.”

Lho, kalau berhenti burungnya nanti jatuh,” protes Rifa.

“Dia berhenti dan mencari pohon terdekat. Baru istirahat di dahannya,” kata ibu sedikit ‘lega’. Keduanya lalu terdiam sebentar. Tapi ‘peluru’ Rifa belum lagi habis. Beberapa belas langkah setelah tanjakan memutar ke arah pulang, Rifa kembali ‘menembakkan senjatanya’.

Sembari melihat sepokok pohon di depan sebuah rumah berhalaman luas, Rifa mengekplorasi pertanyaan lain.

Kok ada rambutan merah ya, Bu?”

“Iya,” jawab ibu standar saja. Memang pohon itu rimbun dengan warna merah buah rambutan. Rendah pula. Dahan rampingnya menjulurkan bertangkai-tangkai buah segar ke tepi jalan seperti mengundang siapa saja yang lewat untuk segera memetiknya.

“Ayah janji membelikan rambutan,” kata Rifa mengingatkan ibunya.

“Iya, Nak. Ayah sudah mencari ke mana-mana, tapi tidak ada,” jawab ibunya tanpa memikirkan dampak jawabannya yang akan kena ‘serangan balik’.

“Itu ‘kan ada,” kejar Rifa.

Ngg… itu tidak untuk dijual,” kata ibunya lagi.

“Orang itu suka?” Maksudnya pemilik pohon rambutan.

“Iya.”

Memang, ayahnya pernah menjanjikan buah segar berkulit merah itu, tapi belum dapat karena jenis rambutan yang dicari berbeda dengan yang tersedia di beberapa tempat. Rambutan yang manis, lokak atau lekang serta lebih aman di perut adalah jenis rambutan yang dinamai ‘rambutan klengkeng’ atau rambutan ‘rapia’ oleh masyarakat tempat kami tinggal. Walaupun berukuran lebih kecil dibanding jenis nona (disebut juga jenis ace) dan jenis binjai, namun lebih manis. Lebih utamanya adalah karena kulit ari yang keras dan tajam di bagian dalam daging buah jenis rapia ini tidak ikut melengket seperti jenis lainnya. Ini lebih aman di perut terutama anak-anak dan usia lanjut. Persoalan memang terletak di harga yang lebih mahal.

Keduanya terus berjalan sambil terdiam dengan fikiran masing-masing. Dua belokan lagi, perjalanan yang melawan arah tawaf itu akan segera finish. Tetapi di belokan pertama, melihat Bude warung depan, Rifa berhenti tepat di depan rumahnya. Bude saat itu tengah menata dagangannya.

“Dek Rifa?” kata Bu De dengan maksud mempermainkan Rifa. Pasalnya, Rifa yang sebentar lagi punya adik bayi hanya mau dipanggil kakak.

“Kak Rifa!” bentak Rifa dengan suara keras.

“Dek Rifa?” kata Bu De lagi dengan ekspresi yang sengaja mempermainkan.

“Kak Rifa!!” teriaknya lagi.

“Kalau dipanggil kakak itu, tidak ngedot lagi,” kata Bu De.

Pasalnya memang soal dot. Rifa yang sudah berumur 3 tahun masih saja minum susu memakai dot. Sudah beragam kiat dipakai, namun tidak juga mampu membujuk dia agar mau meninggalkan kebiasaan minum susu pakai dot. Namun, rupanya di hadapan Bu De, Rifa lebih mau mengalah minum pakai cangkir asal dipanggil kakak, bukan adik.

“Kak Rifa sudah tidak minum pakai dot lagi kok,” katanya membela diri.

“Itu baru kakak,” kata Bu De.

 “Bu, Kak Rifa mau minum susu pakai cangkir, Bu,” pinta Rifa kepada ibunya.

“O, ya. Ayo pulang. Minumnya di rumah saja,” rayu ibu.

“Da da, Bu De?” kata Rifa melambaikan tangannya ke arah Bu De.

Tapi, belum jauh melangkah, Rifa berbalik arah.

“Ibu pulang aja, buatkan susu untuk Kak Rifa, bawa ke tempat Bu De. Kak Rifa minum di sini.”

“Di rumah aja,” bujuk ibunya.

Nggak, Kak Rifa mau minum susu di sini!” katanya setengah berteriak.

“Mengapa?” tanya ibunya.

“Supaya diliat Bu De,” katanya lagi.

Sementara Bu De tertawa terbahak menonton adegan itu.

Ibupun terpaksa pulang membuatkan susu khusus itu dicangkir plastik dan membawanya ke depan rumah Bu De tempat Rifa menunggu.

“Bu De, lihat. Kak Rifa minum di gelas,” katanya kepada Bu De.

Dengan semangat Rifa kemudian menghabiskan susu itu hingga tak bersisa.

“Iya ‘kan Bu De, Kak Rifa tidak minum di dot lagi?” sambungnya.

“Iya. Kakaknya pintar, bukan Adek lagi. Itu baru namanya Kakak,” sambung Bu De lagi sembari ngakak.

Usai minum, dua anak beranak ini beranjak pulang. Akan tetapi, belum jauh melangkah, Rifa melihat Pak De tengah mencuci piring dan alat dapur lainnya di pinggir jalan. Maklum, rumah Pak De tengah direnovasi, jadi banyak kegiatan domestik yang terpaksa dikerjakan di luar rumah. Melihat itu, Rifa langsung jongkok memperhatikan kerja Pak De.

“Pak De sedang ngapa? tanya Rifa.

“Mau bantu Pak De nyuci piring nggak?” pancing Pak De.

“Iya,” kata Rifa sambil berdiri mengambil ancang-ancang berjalan ke arah tumpukan cucian Pak De.

“Eh, jangan-jangan. Di situ saja. Bantu liat aja ya?” kata Pak De yang tidak menyangka tawarannya bakal direspon Rifa dengan senang hati.

Lalu Rifa kembali jongkok. Namun, karena air limbah cucian mengalir di bawah kaki Rifa, Pak De berkata:

“Jangan jongkok di situ Kak Rifa! Itu bajunya basah kena air. Berdiri saja,”  kata Pak De dengan cemas.

Rifa segera berdiri sebentar, lalu segera menggulung ujung bajunya dan berkata.

Enggak basah kok,” kata Rifa sambil kembali duduk berjongkok melihat hingga Pak De menyelesaikan pekerjaannya menyuci piring.  ***

 

 

 

Gayung Kerupuk Bayi

Di rumah, ibu Thoriq sedang berbaring kelelahan. Sejak pingsan di sekolah Thoriq beberapa waktu lalu, badannya sering lesu tak berdarah. Apa lagi, dia harus mengundur jadwal cek ke dokter akibat antrian pasien yang mencapai lebih dari 35 orang. Kalau mau daftar, ya di nomor 36, itupun bila dokternya masih ada waktu.

Setelah pulang dari cek rutin di hari berikutnya itulah Thoriq ikut baring-baring di sebelah ibunya. Mungkin karena sering ikut merasakan gerakan-gerakan adiknya di permukaan perut ibu, Thoriq tiba-tiba berkata:

“Bu, Bang Thoriq tau kalau adik bayinya di perut ibu bisa mandi. Mandinya dengan air di perut ibu ’kan?”

Belum sempat ibunya menjawab, Thoriq segera menyambung:

“Kalau ibu makan kerupuk, kerupuk itu yang dijadikan adik bayi untuk gayungnya. He…he…he,” kata Thoriq. ***

 

 

Sudah Besar kok Lupa

Di sekolah, Rifa dan Thoriq diajarkan sejumlah hafalan do’a harian. Untuk memudahkan mereka menghafal, sekolah juga memberikan buku do’a tersebut sebagai pegangan bagi orang tua. Tapi kami tidak terlalu perhatian pada yang satu ini. Hingga suatu hari Rifa yang baru saja selesai mandi, sebelum keluar kamar mandi ia bertanya.

“Doa keluar wese (WC) apa, Yah?”

Tidak siap – tidak hafal maksudnya – dengan pertanyaan ini, Ayah ngeles.

“Ayah lupa, Nak.”

“Udah besar, kok ndak tahu, sih?” sergap Rifa.

“Lupa, Nak,” jawab Ayahnya membela diri, berbohong untuk kedua kalinya.

Pagi hari tadinya, ayah juga lupa.

“Yah, katanya mau bersihkan telinga Kak Rifa,”  kata Rifa.

“Iya Yah. Kapan dibersihkannya,” sambung Thoriq yang juga dijanjikan akan dibersihkan telinganya.

“Iya, Nak. Ayah lupa.”

“Ayah lupa terus!” Rifa protes.

Insya Allah besok Ayah bersihkan.”

“Benar Yah. Jangan lupa lagi lho,” kata Thoriq.

Beberapa hari kemudian, Rifa yang baru saja dimandikan ibunya bertanya.

“Bu, apa do’a keluar wese (WC),” katanya sambil memegang tangan ibunya supaya berhenti di pintu keluar kamar mandi.

“Ibu lupa, Nak,” kata ibu yang juga ngeles.

“Sudah besar kok lupa sih,” katanya pula.

“Iya, maaf ya, Ibu lupa,” sambung ibunya menyerah.

“Kak Rifa ingat?” kata ibunya lagi.

“Gini do’anya, Bu,” kata Rifa sambil mengangkat tangan dan komat kamit membawa do’a persis seperti do’a yang diajarkan di sekolahnya.

Alhamdulillahillazi azhaba ‘anil azaa wa’aafani.”

Usai mengenakan pakaiannya, ayah terlihat membuka-buka buku pegangan dari sekolah dan menemukan bacaan do’a yang ditanyakan Rifa. Setelah dipaksakan untuk menghafal dan mengulang beberapa kali, barulah do’a itu dapat dikuasai. Bukan itu saja, beberapa do’a harian, hafalan hadits-hadits dan surat-surat pendek yang mereka dapatkan di sekolah pun ‘terpaksa’ ikut dihafalkan kembali. Ternyata hafalan-hafalan ini jangan hanya jadi konsumsi anak sekolah TK atau SD, tapi harusnya sudah dikuasai sedari awal oleh orang tuanya agar anak tidak mempermalukan mereka. ‘Long live learning’, belajar sepanjang hayat, dari sejak lahir hingga baru berhenti ketika sudah dimasukkan ke liang kubur.  ***

 

 

 

 

Minta Dibuatkan Susu

Siang itu Rifa sedang kesal pada ayah. Entah mengapa, ia mulai teriak-teriak hanya karena diminta ayahnya untuk segera mandi pagi. Tradisi berteriak ini – plus kebiasaan mencubit – dia adopsi dari temannya di dekat rumah yang punya kebiasaan seperti itu di rumahnya. Namun sekarang sudah banyak berkurang. Mungkin karena hari itu liburan sekolah, ia maunya mandi pagi ditunda dulu hingga lama sekali. Seringkali bila dibiarkan, ia terkadang hanya mandi di petang hari. Karena alasan itu, ayahnya terus memintanya segera mandi, tapi Rifa jadinya ‘mengamuk’. Lama sekali berbaring di tempat tidur, akhirnya ia kehausan dan minta dibuatkan air susu.

“Bu, susu, Bu!” katanya merengek.

“Ya, sebentar ya?” jawab ibu yang kemudian diam-diam meminta ayah untuk memuatkan air susu. Pasalnya saat itu adalah hari-hari menjelang kelahiran adik Rifa, sehingga mobilitas ibunya tidak lagi gesit. Setelah air susu siap dibuat, ada masalah baru yang muncul, siapa yang memberikan minuman susu itu? Kalau ayah, jelas ditolak Rifa, sebab ia sedang perang dingin karena disuruh mandi terus. Sementara ibu tidak sedang dalam kondisi fit. Akhirnya dibuat ’negosiasi’.

“Dek, susu yang dibuat Ibu sudah siap. Boleh Ayah yang memberikan?” tanya ayah. Sementara ibu sejak tadi hanya duduk di kursi dekat meja belajar.

“Hhmmm…Adek fikir dulu ya, Yah?” jawab Rifa yang kemudian bergumam seakan-akan tengah berfikir. Setelah dua menit berlalu, ayah bertanya lagi. “Boleh Dek, eh Kak?”

“Hmm. Boleh Yah.”

Barulah susu dalam dot itu diserahkan ayah ke Rifa yang sudah melupakan kekesalannya pada ayah pagi hari tadi. ***

 

 

 

 

 

 

Salah Tulis

“Ini huruf apa, Bu?” tanyanya suatu malam sembari menunjuk sebuah simbol matematika . Saat itu sang ibu yang tengah duduk di bangku menghadapi buku-buku yang berserakan di atas meja. Sementara ayah duduk di sebelah ibu menghadapi lap top membantu ibu menjalankan instruksi ibu yang mengerjakan PR kuliah matematika analisis, di sekolah pascasarjana UGM. Namun saat itu yang terlihat di layar monitor oleh Thoriq bukanlah jalinan huruf-huruf yang biasa terlihat dan mudah dibaca seperti dalam buku-buku bacaannya.

“Ini simbol atau lambang dalam matematika. Nanti kalau Abang sudah besar, nanti akan tahu sendiri semuanya,” sambung ibunya yang tidak mau menjelaskan apa arti dari lambang itu. Arti sesungguhnya dalam matematika adalah untuk setiap.

“Bukan, Bu. Ayah yang salah tulis. Itu ‘kan huruf A yang terbalik ditulis Ayah,” sambung Thoriq.

Ayah dan ibu Thoriq diam, lalu ayah menjawab seadanya saja.

“Oh, iya, Ayah yang salah,” kata ayah meredam ‘gangguan saat konsentrasi mengerjakan instruksi khusus.

Ibu lalu melanjutkan instruksinya kepada ayah. Ayah pun sibuk mengetik apa yang diperintahkan. Tiba-tiba Thoriq bertanya lagi, “Kalau integral parsial itu apa Bu?” tanya dia lagi setelah membaca sebuah buku yang dipegang ibunya.

Karena merasa bingung bagaimana menjelaskan kata itu kepada Thoriq, ibu mencari jalan pintas dengan menjawab seadanya, “Ibu tak tahu, Nak,” kata ibu yang juga merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengurangi kosentrasi ibu mengerjakan pembuktian terhadap rumus-rumus matematika.

“Kata ibu, kalau sudah besar, nanti tahu semuanya. Tapi Ibu kok tidak tahu? Gimana tu,” tanya Thoriq lagi. Ayah dan ibu diam saja, pura-pura tidak mendengar. Thoriq pun berlalu dari hadapan ayah ibunya.

Rifa datang menggantikan abangnya.

“Itu bacaannya apa, Bu?”

“Bacaannya… Rifa!” Kosentrasi ibu mulai terpecah lagi.

“Ini tulisannya ‘kan panjang, kok bacanya cuma Rifa!” katanya menggugat.

“Rifa pergi ke sekolah?” sambungnya sendiri.

“Iya,” kata ibunya, ”Rifa pergi ke sekolah.”

Puas dengan jawaban itu, Rifa pun pergi bermain ke tempat abangnya.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, Thoriq teringat pelajaran hafalan surat dan hadis di sekolahnya. Ia kembali menanyakan kepada ibu.

“Ibu tidak tahu,” jawab ibu yang saat itu masih sibuk membalik-baliknya buku tebal berisi simbol-simbol yang sulit dimengerti orang kebanyakan.

Kok ibu tak tahu? Kalau orang besar mestinya tahu semuanya,” kata Thoriq heran.

“O, ya. Maaf ya Nak. Ibu lupa,” katanya sambil terus membolak-balik buku yang penuh dengan rumus-rumus itu. Kalau sedang konsentrasi dengan buku, ibu Thoriq sering lupa kalau ia  punya kewajiban menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan baik. Itu kelemahannya, jangan dicontoh ya? ***

 

 

Kalau Ada Maunya

Saat itu Ibu Rifa sedang mengandung 6 (enam) bulan. Karena itu ia dan abangnya beberapa bulan sebelumnya sudah mulai disosialisasikan dengan akan hadirnya adik bayi. Karena itu, guru-gurunya di sekolah mulai memanggilnya Mbak Zahra, bukan Dek Zahra seperti biasa. Di rumahpun begitu, ia dipanggil dengan Kak Rifa. Walaupun kadang-kadang ia minta dipanggil Dek Rifa, terutama bila ada maunya. Misalnya kalau mau ngedot susu.

Lalu dia tak mau lagi dipanggil Dek Rifa. Kemana-mana saja yang mengenalnya dengan Dek Rifa, dia bantah. Siang itu Ifat, temannya datang, memanggilnya Dek Rifa, dia protes. Kalau tidak diralat, dia tetap tidak mau menjawab bila ditegur diajak bermain.

Juga neneknya di Pekanbaru dan Rengat saat di telepon. Juga Oomnya, termasuk Ayah dan Ibunya, “Kak Lifa!!! teriaknya menegaskan, karena saat itu belum dapat menyebut huruf er (r).

Di rumah, saat itu Rifa juga kesal kepada ibunya. Suatu hari, saat ingin keluar rumah dan mengganti pakaian, Rifa mengambilnya di lemari tidak hati-hati. Ibunya yang melihat segera menegur.

“Hati-hati Dek. Nanti pakaiannya berantakan lagi. Itu ‘kan sudah disusun!”

Rifa yang mendengar dipanggil adek, kesal bukan main. Dari mulutnya kemudian keluar nada gerutu.

Masih soal panggilan kakak atau adik kepada Rifa. Kadang kala, nenekya di seberang pulau masih lupa dengan panggilan baru itu. Apa lagi berbicara hanya lewat telepon. Bila salah, dia akan protes. Tidak peduli itu nenek atau atuknya, ayah atau ibunya, abang atau tetangganya.

“Kak Rifa!!!” teriaknya mengoreksi.

Sekali-sekali dia juga lupa menyebut dirinya kakak, dia panggil dengan panggilan lama, Dek Rifa.

Suatu kali, dia lupa memanggil dirinya dengan kakak.

“Dek Rifa nanti,….Kak Rifa nanti mau main ke tempat Bu De,”  katanya segera meralat.

Atau bila ada orang yang memaksakan panggilan adek, ia akan mengeluh.

“Huuh, adek, adek. Sudah kakak padahal, masih dipanggil Adek,” katanya sambil berlalu dari orang yang menegurnya. ***

 

 

Seperti Orang Besar

Liburan semester ini Thoriq dan Rifa tidak kemana-mana. Di rumah saja bersama kami. Ifat temannya sering bermain ke rumah. Suatu pagi, Ifat datang membawa mie dan kerupuk makanan anak-anak. Tujuannya agar Rifa mau diajak bermain bersama. Lalu, Rifa dan Thoriq yang tengah sarapan itu langsung membolak-balik bungkusan kecil itu, setelah ’disensor’ ayah.

“Mana tandanya?” tanya Rifa.

Maksudnya tanda halal makanan tersebut.  Tandanya memang ada, akan tetapi tercetak kecil dan tersembunyi di lipatan plastik pembungkus. Satu bungkus berisi kerupuk manis, bertanda halal dari MUI, satu lagi bertanda halal buatan pabrik. Alhamdulillah Thoriq dan Rifa sudah mulai dibiasakan untuk hanya membeli makanan yang halal dengan cara melihat label plus komposisi makanannya. Mereka dengan rela tidak membeli makanan tersebut jika label halal tidak ada dan komposisi makanannya mengandung zat tambahan yang tidak baik. Untuk membaca komposisi makanan, biasanya ibu dan ayah yang melihat. Tapi semenjak usia Thoriq 5 tahun dan sudah bisa membaca, dia sendiri yang melihatnya dengan memberikan informasi kepadanya bahwa kalau ada makanan yang mengandung MSG, gelatin hewani dan aspartam. Dalam kadar dan waktu tertentu, menurut pakar gizi dan makan, dapat menjadi zat berbahaya bagi anak. Pada jenis tertentu dicurigai mengandung bahan dari lemak babi.

Seperti anak-anak kebanyakan juga, acap terjadi ketika teman atau orang lain memberikan sesuatu, ’aturan main’ ini tidak terlaksana optimal. Mereka masih sering memakan makanan pemberian teman yang berulang tahun di sekolah misalnya, atau pemberian tetangga dan saudaranya tanpa mereka seleksi terlebih dahulu. Walau kadang tanpa tanda halal.

Rifa mengulang pertanyaannya, setelah Ifat mencari-cari tanda tersebut, tapi tak menjumpainya.

“Mana tandanya?”

“Ya, nggak ada!” sergah Ifat merasa bersalah.

“Berarti kamu salah beli!” sanggah Rifa. “Untuk apa ini dibeli?” katanya lagi.

“Ya untuk dimakan,” kata Ifat santai, sembari mengunyah mie kering setelah berhasil membuka plastik pembungkus makanannya.

”Bang Thoriq dan Kak Rifa ndak boleh makan makanan ini,” kata Thoriq.

”Nanti diberikan ke orang miskin aja,” sambung Rifa.

”Berikan ke Mbak Ifat aja semua,” kata Ifat yang berbadan bongsor itu lalu menerima makanan anak-anak itu.

Setelah beberapa lama bermain, tiba-tiba Ifat bersin-bersin menghadap ke Thoriq dan Rifa. Namun tidak ada apapun kata yang meluncur dari mulut mungilnya.

“Harusnya Ifat menghadap sana bersinnya. Kamu juga tidak membaca Alhamdulillah,” Thoriq protes.

Ifat hanya diam seribu bahasa, mengunci erat mulutnya.

Lalu Ifat diminta Rifa untuk membaca hamdalah, tapi mulutnya semakin rapat terkunci. Karena terus diminta membaca hamdalah, Ifat bertahan dengan diamnya, ia kemudian minta diri pulang ke rumah. Rifa yang belum menyempurnakan permainannya itu lalu mengantarkan Ifat pulang hingga ke halaman depan rumah.

“Sampai jumpa lagi ya teman. Besok main lagi ya? Assalamu’alaikum?” kata Rifa.

Thoriq dan ibunya hanya memperhatikan dua anak Balita itu dari balik jendela.

“Lihat Bu,” kata Thoriq, “Adek Rifa seperti orang besar aja.”

Thoriq sendiri berkomentar layaknya orang dewasa.  ***

Jangan pernah berhenti ”mengepakkan sayap”,
biarkanlah cobaan membuatnya kuat,
biarkanlah derasnya terpaan membuat gesit tak berkelit,
biarkanlah jiwa – jiwa pemenang memenuhi jiwa,
biarkanlah jiwa – jiwa sabar menjadi penyejuk hati.

“Wahai orang – orang yang beriman!
Mohonlah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Alloh beserta orang – orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah :153)

Tiada kata gagal sahabat… yang ada hanyalah ketertundaan,
karena gagal kerap jadikan alasan berhenti melangkah,
ketertundaan adalah cara Alloh swt mengajarkan arti kesungguhan.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ”Barangsiapa yang melapangkan salah satu kesusahan dunia dari seorang mukmin,
maka Alloh akan melapangkan darinya salah satu kesusahan hari Kiamat. .Barangsiapa memudahkan atas orang yang kesulitan,
maka Alloh memudahkan atasnya di dunia & akhirat.
Alloh akan senantiasa menolong hamba
selagi hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.
Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim,
maka Alloh menutupi (aib)nya di dunia & akhirat.
Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu,
maka Alloh akan memudahkan untuknya dengannya
jalan menuju ke syurga … ” (HR.Muslim)

All my sister’s & my brother’s keep yours spirit & istiqomah.

Ya alloh..
sesungguhnya aku mohon cintaMu,
cinta orang -orang yang mencintaiMu,
dan amal yang dapat membuatku memperoleh cintaMu.
 
Ya alloh..
jadikanlah cintaku kepadaMu
melebihi cintaku terhadap diriku sendiri,keluargaku,
dan melebihi cintanya orang yang kehausan terhadap air yang dingin.
 
(HR.Tirmidzi)